Namun, keraguan itu dipatahkan oleh pernyataan otoritas sepak bola Eropa, UEFA, yang menegaskan turnamen empat tahunan Eropa itu tetap akan dilaksanakan di Perancis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, salah satu legenda sepak bola Perancis, Just Fontaine, sempat meragukan apakah negaranya mampu menjamin keamanan turnamen sepak bola terbesar Eropa tersebut.
Mantan pemain yang kini berusia 82 tahun itu memang mengalami sendiri aksi teror yang melanda Paris, Jumat lalu. Pasalnya, Fontaine turut hadir di Stade de France, yang menjadi salah satu target teroris.
Namun, serangan teroris tak pernah sampai ke stadion, kendati saat berlangsungnya pertandingan persahabatan antara Perancis dan Jerman, sempat terdengar dua kali suara ledakan bom.
UEFA pun meyakini bahwa tidak ada alasan untuk sepenuhnya percaya bahwa Piala Eropa bakal jadi target serangan teroris. Meski demikian, UEFA tetap akan berkoordinasi dengan semua pihak untuk terus memonitor keamanan dan potensi ancaman terhadap turnamen tersebut.
Pasca serangan teroris itu, pertandingan antara tim putri Paris Saint-Germain dan Orebro di Stade Charlety, Rabu (18/11), akan menjadi pertandingan pertama yang diselenggarakan di Paris.
Musibah ini juga membuat Kelompok ultras Marseille memilih untuk menepikan rivalitas mereka dengan PSG. Hal itu ditunjukkan mereka dengan memasang spanduk di Boulevard Rabatou, selatan Marseille, dengan tulisan "Nous sommes Paris" (Kami adalah Paris). (ptr/ptr)