Bursa transfer, training camp, dan sejumlah laga persahabatan adalah aktivitas yang lazim terjadi di momen-momen pengujung tahun seperti ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada awalnya, Firman sempat berharap konflik PSSI-Kemenpora bisa selesai dalam waktu dekat selepas utusan FIFA datang ke Indonesia.
Ketiadaan Liga Indonesia musim ini diakui Firman membuat sejumlah pemain mengalami masa-masa sulit dalam segi finansial.
"Tanpa adanya kompetisi, maka para pemain bersusah payah memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Mungkin hanya segelintir pemain saja yang bisa siap menghadapi situasi krisis ini karena sudah punya pemasukan di luar sepakbola."
"Saya pun banyak mendengar cerita bahwa pemain-pemain mulai menjual barang pribadi untuk memenuhi kebutuhannya. Bagi yang berkeluarga, pasti kondisi saat ini akan membuat mereka semua menjadi lebih sulit karena juga harus memenuhi kebutuhan istri dan anaknya."
Selain kerugian finansial, tak adanya Liga Indonesia juga membuat para pemain tak bisa menyalurkan hasratnya untuk berkompetisi menjadi yang terbaik.
"Dalam diri pemain pastinya ada hasrat untuk bisa membawa timnya menjadi yang terbaik. Bila ada Liga Indonesia, maka ukuran tersebut akan menjadi jelas."
"Pemain bisa membawa klubnya jadi juara Liga Indonesia. Bila itu terwujud, maka ia dan klubnya bisa berlaga di level internasional mewakili Indonesia. Selain itu jika tampil baik, pemain juga memiliki peluang membela tim nasional. Hal ini yang tak bisa didapat para pemain saat ini," kata Firman. (ptr/ptr)