"Kalau saya melihat, pramusim kemarin sebenarnya tidak bisa jadi patokan. Menurut saya yang paling berat adalah CLS tahun ini. Waktu pramusim kemarin, tiga pemain mereka tidak main yaitu Mario Wuysang, Sandy Febiansyakh, dan Rachmad Febri Utomo," ujar Irawan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berbeda dengan Irawan, pemain naturalisasi baru Aspac, Anthony Ray Hargrove Jr, tidak menganggap CLS sebagai lawan terberat. Center dengan tinggi 195 sentimeter dari Newarkd, New Jersey, Amerika Serikat, itu lebih khawatir dengan ancaman Pelita Jaya.
"Saya juga benar-benar suka permainan basket dari para pemain Indonesia seperti Adhi dari Pelita Jaya, Kelly Purwanto, dan tentu saja Mario Wuysang."
Setelah gagal mempertahankan gelar di ajang NBL musim lalu, Aspac memasang target ambisius di musim pertama kompetisi bola basket Indonesia kembali bernama IBL. Juara empat kali kompetisi bola basket nasional itu menargetkan gelar juara musim ini.
"Saya ingin mencoba sesuatu yang baru di Indonesia. Saya berharap dapat juara. Saya ingin berada di tim yang baik seperti Aspac dan bermain bersama yang lainnya. Saya benar-benar ingin menjadi juara," tutur Anthony.
Prestasi Aspac sendiri di Indonesia patut diacungi jempol. Sejak berdiri pada 1994, hingga kini mereka sudah meraih empat gelar juara yakni NBL pada 2013 dan 2014 dan IBL pada 2003 dan 2005. (har)