Atas dasar kekhawatirannya itu, Bambang bersama presiden APPI, Ponaryo Astaman, dan anggota komite eksekutif APPI, Bima Sakti, mengadakan jumpa pers untuk mengungkapkan deklarasi #MenolakTurnamen di Jakarta, Kamis (14/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Betul turnamen ini memberikan sedikit 'napas', tapi pemain juga tidak bisa tampil maksimal. Hak pemain untuk dapat asuransi juga terjadi penurunan. Jadi perlindungan seperti itu tidak ada. Jadi sangat merugikan," sambung top skorer sepanjang masa Timnas Indonesia tersebut.
"Selama ini dari mulai Piala Presiden sampai Piala Jenderal Sudirman (PJS), yang merasakan manfaatnya adalah tim-tim ISL saja. Di luar itu tidak ada dampaknya. Selama ini turnamen yang ada hanya sebagai pelepas dahaga. Jadi kami terus terang sepakat supaya tahun ini kalau bisa diberikan kompetisi yang reguler," ucap Bima.
Deklarasi #MenolakTurnamen juga dihadiri beberapa pemain sepak bola tanah air, salah satunya adalah Ramdani Lestaluhu. Bagi gelandang serang 24 tahun itu, sudah cukup Indonesia menggelar turnamen sepak bola.
Ramdani menilai Kualitas pemain yang terus menurun bukan merupakan bagian dari mimpi untuk memperbaiki sepak bola Indonesia. Yang terpenting bagi pemain adalah menit bermain yang sangat banyak.
"Kalau mau memperbaiki sepak bola, turnamen dibuat berjenjang dari usia dini. Kondisi sekarang ini menjadi suatu kerugian untuk pemain muda yang lagi berkembang. Mereka menjadi tak punya kesempatan untuk bertanding banyak. PJS (Piala Jenderal Soedirman) terakhir lah supaya sepak bola ini bisa maju," tutur Ramdani. (har)