Hal itu coba diwujudkan usai Menpora RI, Imam Nahrawi, menerima kunjungan Ketua Komite Reformasi PSSI, Agum Gumelar, Rabu siang (11/2). Imam menyampaikan banyak hal yang dibicarakan dengan mantan Ketua Umum PSSI ke-13 tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika ditanyakan apakah pemerintah sudah bersedia untuk bergabung ke dalam Komite Reformasi, Imam menjawab singkat. "Sedang kami dalami betul. Yang penting semangat kami (pemerintah dan Komite Reformasi) sama," ucap Imam.
Agum merasa sangat berbesar hati karena sudah ada semacam semangat bersama antara tim Ad-hoc dengan pemerintah untuk jangka panjangnya melakukan langkah reformasi tata kelola sepak bola di Indonesia.
"Kemudian dalam waktu dekat ini berkaitan dengan Kongres FIFA. Kami punya semangat sama-sama untuk mencegah jangan sampai kita (Indonesia) terkena sanksi oleh Kongres FIFA. Itu saya rasa spirit yang sudah sama-sama kami (Pemerintah dan Komite Ad-hoc Reformasi) tekadkan dan miliki," ucap Agum.
Sejak awal, terdapat perbedaan persepsi antara Kemenpora dengan PSSI terkait hasil kunjungan delegasi FIFA-AFC ke Indonesia pada 3 November 2015. Pihak Kemenpora mengaku mendapat arahan dari delegasi tersebut untuk membentuk tim kecil. Sementara PSSI mengklaim mendapat arahan membuat Komite Reformasi PSSI.
Komite Reformasi, dikatakan Ketua PSSI, La Nyalla Mattalitti, memiliki tugas mereformasi sepak bola Indonesia. Sedangkan juru bicara Kemenpora RI, Gatot S Dewa Broto, pun menuturkan tugas tim kecil antara lain berkomunikasi dan memperinci setiap hal teknis dalam rangka reformasi sepak bola Indonesia. (bac)