Pelatih asal Italia itu baru-baru ini mengungkapkan sebenarnya ia hanya dibebankan target agar Leicester tidak terdegradasi.
"Saya ingat ketika pertama kali bertemu dengan Presiden Klub (Leicester) ketika tiba di Leicester City," tuturnya, seperti dikutip Reuters.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ranieri pun merasa tak terbeban dengan target sederhana yang ditetapkan klub. "Saya kemudian menjawab: 'Oke, tentu saja. Kita harus bekerja keras dalam berlatih dan mencoba terus meraih target tersebut.'"
"Itu merupakan total poin yang kami butuhkan untuk memberikan kepada fan kami musim berikutnya di Liga Primer Inggris."
Kenyataannya lebih dari itu. Leicester rupanya melampaui poin tersebut, yakni 69 poin hingga pekan ke-32 ini. Perolehan tersebut bahkan selisih lima poin dari rival terdekatnya di posisi kedua, Tottenham Hotspur.
"Saya bahkan tak pernah bermimpi begitu menandatangani kontrak pada 4 April tahun lalu dan melihat Leicester berada di puncak klasemen dengan 69 poin," ungkap pelatih kelahiran Roma itu.
Ranieri menggantikan manajer sebelumnya, Nigel Pearson, yang didepak karena tak mampu mendongkrak posisi Leicester di bibir jurang degradasi klasemen Liga Primer Inggris 2014/15.
"Tahun lalu, di tanggal ini (4 April), klub berada di dasar klasemen (Liga Primer Inggris). Benar-benar sukar dipercaya." (bac)