Muhammad Ali, Bintang Besar yang Tak Hanya Bermulut Besar

Dika Dania Kardi, CNN Indonesia | Sabtu, 04/06/2016 12:24 WIB
Legenda tinju dunia Muhammad Ali wafat pada usia ke-74 karena komplikasi penyakit yang dideritanya. Ali tak hanya besar di atas ring tinju. Muhammad Ali (tengah) adalah petinju kelas berat legendaris. (Getty Images/Moore/Fox Photos)
Jakarta, CNN Indonesia -- Muhammad Ali telah wafat di usia 74 tahun hari ini atau Jumat (3/6) waktu setempat di Arizona, Amerika Serikat.

Dunia mengenal Muhammad Ali sebagai legenda di atas ring tinju. Pria yang memiliki nama asli Cassius Clay sebelum mengganti nama ketika menjadi mualaf--memeluk agama Islam.

Ia lahir di Kentucky, Amerika Serikat pada 17 Januari 1942. Di tempat kelahirannya itu pulalah Ali memulai kariernya bertarung di atas ring tinju.


Setelah itu kariernya makin menanjak usai memenangkan medali emas untuk kelas ringan di Olimpiade 1960. DIa pun lalu berkembang hingga menjadi petinju kelas berat legendaris sepanjang masa.

Namun, Ali bukanlah besar di atas ring. Dia juga besar di mata kelas pejuang sosial. Ketika Amerika Serikat, memutuskan untuk terjun ke perang Vietnam, Ali menolak diikutsertakan ke dalam pasukan AS dengan alasan membunuh adalah hal yang dilarang dalam agamanya.

"I ain't got no quarrel with the Vietcong," ujar Ali dalam satu frasa paling terkenal yang pernah ia ucapkan. Bagi Ali, orang-orang Vietnam tidak menindasnya dan tidak berlaku adil padanya, sehingga ia tak ingin pergi memerangi mereka.

Atas penolakannya tersebut, Ali ditahan dan didenda sebesar US$10 ribu. Gelar juara miliknya juga dilepas dan petinju legendaris ini tidak lagi memiliki izin untuk bertanding hingga tahun 1970.

"Saya mendapatkan gelar Juara Dunia Kelas Berat bukan karena itu diberikan pada saya, bukan karena ras atau agama saya. Tetapi karena saya memenangkannya di ring," ujar Ali saat itu. 

"Mereka yang ingin mengambilnya dan melelangnya, tidak hanya mempermalukan saya, tetapi mempermalukan diri mereka sendiri."

Penolakan Ali terhadap panggilan pasukan AS membuat karier tinjunya berada dalam titik nadir. Ketika kembali ke dunia tinju setelah menjalani masa hukuman, Ali tidak mampu mengejar ketertinggalannya dan kalah dari rival terberatnya, Joe Frazier.

Kekalahan tersebut sempat membuat Ali kembali vakum selama satu setengah tahun. Ia lalu menantang juara dunia saat itu, George Foreman.

Pertarungan terjadi di Kinshasha, Zaire (sekarang Republik Demokratik Kongo).

Ketika Ali naik ke atas ring di tengah-tengah hutan Kinshasha itu, enam puluh ribu orang bersorak untuknya dan bukan untuk sang juara dunia, Foreman. Hal itu terjadi karena Ali begitu dekat dengan rakyat Zaire, dan tak menolak untuk akrab bersama mereka.

"Ali....bomaye! Ali....bomaye!" (Ali...bunuh dia! Ali....bunuh dia!), ujar mereka.

Ali gantung sarung tinju pada 1981, dan didiagnosa menderita penyakit parkinson tiga tahun setelahnya.
Namun, kerajaan tinju Ali belum berakhir. Ia masih memiliki keturunan seorang petinju yakni Laila Ali yang kini pun telah gantung sarung tinju sebagai legenda.

(kid)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK