Saat-saat Terakhir Muhammad Ali Menutup Mata Selamanya

Denny Armandhanu, CNN Indonesia | Minggu, 05/06/2016 09:07 WIB
Saat-saat Terakhir Muhammad Ali Menutup Mata Selamanya Kepergian Ali diiringi oleh sanak keluarga yang berkumpul di sekeliling pembaringannya, mereka merapal doa Islami, memegang tangannya, mereka mengaku ikhlas. (Reuters/Andreas Meier/Files)
Jakarta, CNN Indonesia -- Muhammad Ali meninggal dunia pada Jumat (3/5) waktu Amerika Serikat. Sanak keluarga berkumpul di sekeliling pembaringannya, menemani saat-saat terakhir Ali sebelum sang legenda tinju itu menutup mata, menemui penciptanya.

Penampilan terakhir Ali di depan publik seperti dikutip CNN adalah pada 9 April di Phoenix dalam sebuah acara tahunan pengumpul dana bagi Pusat Parkinson Muhammad Ali di Barrow Neurological Institute. Alli saat itu mengenakan kaca mata hitam, terlihat rapuh karena penyakit Parkinson yang dideritanya.

Sebelumnya selama dua tahun berturut-turut Ali melewatkan resepsi makan malam usai acara tersebut. Namun April lalu, salah satu atlet paling dicintai di AS ini datang dan mendapatkan standing ovation atas kehadirannya di acara itu.


Pertarungan terakhir Ali

Pada Senin lalu, mantan petinju yang karismatik ini jatuh sakit. Juru bicara keluarga Ali Bob Gunnell mengatakan Ali mengalami masalah pada pernafasan.

Dia dilarikan ke HonorHealth Scottsdale Osborn Medical Center di Scottsdale, Arizona, pada Senin malam.

Ini bukan kali pertama dalam dua tahun terakhir Ali dirawat. Sebelumnya pada Januari 2015, dia masuk rumah sakit karena infeksi saluran kencing. Dia juga dirawat pada Desember 2014 karena pneumonia. Gunnell berharap, ini adalah satu lagi "pertarungan" yang akan kembali dimenangkan oleh Ali.

"Muhammad banyak bertarung di masa lalu. Kami berharap hal yang sama terjadi kali ini," kata Gunnell.

Awalnya Gunnell mengira Ali akan menjalani perawatan ringan, namun ternyata kondisinya terus memburuk. Keluarga lantas dipanggil, termasuk istrinya Lonnie Ali.

Putri Ali, Hana, menuliskan di akun Twitternya bahwa di penghujung hidupnya, Ali dikelilingi orang-orang yang dicintai. Anak-anak Ali bergantian menggenggam telapak tangan, menciumi dan memeluk ayah mereka, sembari merapal doa Islami. Hana mengatakan mereka mencoba tabah, beberapa membisikkan sesuatu di telinga ayah mereka:

"Kau bisa pergi sekarang. Kami akan baik-baik saya. Kami mencintaimu. Terima kasih. Kau bisa kembali ke Tuhanmu sekarang."

Hanna menuliskan, organ pernafasan Ali tidak bekerja, namun jantungnya masih terus berdetak selama sekitar 30 menit. "Bukti nyata dari kekuatan jiwa dan semangatnya!" tulis Hanna.

Sang legenda tinju itu meninggal dunia pada Jumat malam pukul 21.10 waktu setempat. Menurut Gunnell, "dia tidak mengalami penderitaan."

Gunnell mengatakan, keluarganya mendampinginya pada 24 jam terakhir kehidupan Ali. "Mereka menghabiskan saat-saat berkualitas dengan Ali untuk menyampaikan kalimat perpisahan terakhir, dan itu adalah saat-saat yang khidmat," ujar Gunnell.

Sedih sekaligus senang

Hana Ali dalam tulisannya mengatakan bahwa mereka sedih sekaligus senang. Sedih karena kehilangan seorang ayah, senang karena tahu bahwa ayahnya telah bebas sekarang.

"Kami sangat senang ayah sekarang telah bebas," tulis Hana.

Hal yang sama disampaikan Maryum Ali dalam emailnya kepada CNN: "Saya senang ayah tidak lagi berjuang. Dia berada di tempat yang lebih baik sekarang. Allah maha besar."

Kawan lama Ali, John Ramsey, mengatakan dia bersama teman-teman Ali yang lainnya ada di rumah sakit saat itu, namun mereka tidak masuk ke kamar Ali demi menghormati keluarganya.

"Anak-anak, hanya keluarga, dan kami menghormati itu, itu saat yang sangat pribadi," kata Ramsey.

Gunnell mengatakan, banyak kawan dekat Ali langsung terbang ke Arizona saat tahu dia sakit. Namun mereka berkumpul di ruang tunggu untuk menghormati privasi keluarga.

Kejayaan Ali semasa hidup akan dirayakan di kampung halamannya di Kentucky dalam sebuah upacara pada Kamis dan Jumat mendatang. Dia rencananya akan dimakamkan di Louisville pada Jumat.

"Muhammad Ali milik dunia, tapi dia hanya punya satu kampung halaman," kata Walikota Louisville Greg Fischer, Sabtu waktu setempat.

"'Bibir Louisville' berbicara kepada semua orang, tapi kami mendengarnya dengan cara yang tidak bisa dilakukan orang lain -- sebagai saudara, paman dan inspirasi kami," lanjut dia. (den)