Selebihnya, para juru taktik itu hanya bertahan satu atau paling lama dua tahun macam Jaya Hartono. Bahkan, ada pula yang tak sampai semusim sudah keburu angkat kaki.
Yang menarik jika melihat dari musim 2006, nama-nama pelatih ekspatriat macam Darko Janackovik (2010), Jovo Kuckovic, Drago Mamic, bahkan yang terakhir Dejan Antonic, bertahan kurang dari semusim.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Benar, faktor nonteknis memang sepertinya menjadi tantangan terberat untuk menangani Maung Bandung. Pelatih yang mampu memiliki latar belakang bagus dan punya kemampuan taktik ciamik, tak lantas bisa bernasib baik di Persib.
Terdengar remeh, tapi itu rupanya juga sangat penting. Sejumlah pemain mengakui, kebersamaan dan keluwesan berinteraksi macam itu memang yang sempat memudar, sepeninggal Djadjang dari tim.
Namun, setidaknya merasakan betul perbedaan tersebut. "Dulu memang terasa sekali apa-apa selalu bersama. Mau datang ke latihan pun harus bersama-sama," tuturnya.
"Bahkan sampai hal-hal lainnya seperti salat selalu berjamaah sebelum bertanding, termasuk juga makan selalu bersama."
Kendati demikian, hengkangnya Dejan dari Persib bukan ada masalah antara pemain dan pelatih asal Serbia itu. "Ia (Dejan) memang tidak cerita ke pemain saat pamit dari Persib. Tapi yang jelas, kami masih sangat menghormatinya sebagai pelatih," tutur Yandi.
"Sebagai pelatih, Dejan juga tentu sangat disiplin, sama seperti pelatih-pelatih lainnya. Tapi setiap pelatih kan punya pendekatan personal berbeda-beda."
Menurutnya, Persib pun kini mencoba lagi membangun kebiasaan lama untuk semakin merekatkan tim di bawah pelatih sementara, Herry Setiawan. "Kami juga masih ada pemain senior seperti kang Atep, Hariono atau Tantan. Mereka bisa jadi anutan dan mengayom kami yang muda," tutur Yandi.
Ia menjelaskan, salah satu hal baik di Persib adalah tak ada pembedaan perlakuan antara yang muda dan senior. "Semua sama dan seperti keluarga," tuturnya.
"Sebenarnya semangat kekeluargaan bukan hanya identik dengan Persib, tapi di tim lain juga."
Masalah kebersamaan yang sempat memudar itu pula diamini oleh Zulham Zamrun. "Meski saya baru bergabung di Persib, saya merasakan hal mungkin sama dirasakan pemain-pemain yang lama di sini seperti pudarnya kekeluargaan," ungkapnya.
Zulham juga menampik jika ada masalah antara pemain dan Dejan. "Kami malah masih bisa bercanda dengan pelatih. Cuma memang ada kebiasaan baik yang hilang yang pernah dirasakan rekan-rekan yang lebih lama dari saya di Persib," tutur pemain asal Ternate itu.
Berbeda dengan Yandi dan Zulham, jawaban polos justru disampaikan Tantan. "Dejan adalah pelatih bagus dan hebat. Saya juga tidak mengerti kenapa bisa jadi begini (penurunan penampilan Persib)," ungkap Tantan.
"Mungkin karena memang bukan jodohnya atau rezekinya Dejan di Persib. (bac)