Tak seperti umumnya tim di sirkuit tersebut, Honda tak menggunakan intermediate dalam pergantian tipe ban. Beberapa pihak menilai, keputusan Marquez dan tim dengan sistem flag-to-flag atau mengganti ban basah ke kering, merupakan perjudian besar.
Alhasil, kondisi itu justru menguntungkan Marquez yang sebelumnya berada di posisi keempat pada awal-awal lap, justru bisa memimpin di lap terakhir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Marquez mengakui pergantian tipe ban yang dilakukannya merupakan perjudian baginya. "Saya (mengganti ban saat itu) karena saya jauh dari posisi pertama, jauh dari podium," ucapnya.
"Saya memilih mengambil risiko besar karena ban kering sangat, sangat licin dan di beberapa tikungan masih basah. Tapi di sisa sirkuit saya memacu (motor) secara normal."
Baginya, ini merupakan balapan yang sangat gila. "Sejujurnya, saya salah memilih ban basah pada awal-awal putaran," terang pebalap asal Spanyol itu.
"Saya diyakinkan untuk memakai ban basah, tapi kemudian saya melihat Valentino (Rossi), Jorge (Lorenzo), dan Dani (Pedrosa) dengan ban ekstra basah, lalu saya menggantunya di momen terakhir."
Strategi awal tersebut, diakui Marquez, memang bukan pilihan yang tepat. "saya bersusah payah dengan ban depan dan membuat kesalahan besar pada poin rem di tikungan ke-8 lagi. Saat saya mencoba memiringkan motor, saya merasa ban depan terlalu dekat, jadi saya segera mengangkat motor dan melaju lurus," ucapnya.
"Saya sempat masuk ke kerikil-kerikil dan berpikir 'motocros!' Kendali daya cengkeram sempat menghentikan saya, tapi saya menarik gas penuh untuk kembali ke trek," kata Marquez.
"Saya sudah sempat berpikir mengganti motor, tapi saya tunggu beberapa lap lagi." (bac)