Sementara di empat musim sebelumnya, pemimpin klasemen saat paruh musim selalu keluar sebagai juara. Satu hal yang membedakan, pemimpin klasemen di empat musim lainnya selalu memiliki selisih 15 angka atau lebih dari sang pengejar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan gambaran tersebut, sudah sepatutnya Marquez bisa berbangga hati dengan selisih 48 poin yang sukses ia ciptakan di sembilan seri awal musim ini.
Selisih 48 angka itu sendiri baru bisa menguap dengan cepat bila Marquez mengalami nasib sial di paruh kedua seperti cedera parah yang memaksanya absen dari dua seri beruntun.
Dari segi teknik membalap, Marquez jelas sudah lebih matang musim ini. Ia tak lagi memaksakan diri untuk tampil agresif melainkan memilih menimbang situasi dengan tenang dan contoh jelas ada di GP Assen saat ia memilih untuk tetap di belakang pada batas kecepatan aman miliknya.
Tanpa rentetan kesalahan fatal atau cedera parah, sulit melihat Marquez gagal meraih gelar juara dunia ketiganya tahun ini. (ptr)