Pada hari pertama ada cerita tentang dua remaja: Yusra Mardini dan Virginia Thrasher.
Yang pertama adalah seorang pengungsi asal Suriah, yang kemudian terpilih menjadi satu dari sembilan atlet yang digabungkan ke dalam Tim Pengungsi Olimpiade. Atlet-atlet terpilih ini bertarung di Olimpiade: tanpa negara, tanpa bendera, tanpa lagu kebangsaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mardini pernah berenang untuk Suriah di kejuaraan dunia tahun 2012. Tapi konflik berdarah memaksanya jadi pengungsi. Perjalanan nasib membawanya sampai ke Jerman, tempatnya kini tinggal dan berlatih.
Pada hari pertama Olimpiade Rio, Mardini memenangi pertandingan renang 100 meter gaya kupu-kupu.
Yusra Mardini (kanan) seusai latihan menjelang Olimpiade di Rio de Janeiro. (CNN Indonesia/Reuters/Edgar Garrido) |
Nama kedua, Virginia Thrasher, mencatatkan dirinya dalam sejarah sebagai orang pertama yang meraih medali emas di Olimpiade Rio 2016. Remaja 19 tahun asal Amerika Serikat ini meraih emas di cabang menembak senapan. Mahasiswi Universitas West Virginia ini mengalahkan Du Li dari China.
Bukan hasil yang mudah, mengingat tim menembak AS berangkat ke Rio dengan cerita tentang gangguan konsentrasi. Thrasher bercerita betapa konsentrasinya saat mempersiapkan diri menuju Olimpiade terganggu oleh kontroversi undang-undang pembatasan senjata api. “Ini sangat mengganggu olahraga kami,” kata Thrasher.
Kim Rhode, yang enam kali ikut olimpiade, pada awal pekan ini sempat mengeluhkan situasi yang disebabkan kontroversi undang-undang pembatasan senjata api itu. Undang-undang itu merepotkan latihannya, sebab ia mesti melewati pemeriksaan latar belakang yang ekstensif saat membeli amunisi untuk berlatih.
(ded/ded)
Yusra Mardini (kanan) seusai latihan menjelang Olimpiade di Rio de Janeiro. (CNN Indonesia/Reuters/Edgar Garrido)