Setelah menjalani sanksi larangan bertanding delapan bulan karena positif doping, Chong Wei hanya membutuhkan waktu 14 bulan untuk menduduki posisi nomor satu dunia. Padahal sanksi larangan bertanding sempat membuat peringkat dunianya melorot hingga ke 180-an.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di bawah didikannya, saya mampu berjuang untuk kembali ke nomor satu dunia hanya dalam waktu 14 bulan. Dalam enam tahun terakhir, ia juga telah membentuk tunggal putra lainnya seperti Iskandar (Zulkarnain Zainuddin). Jadi kehadiran Hendrawan bukan hanya penting untuk saya, tapi juga untuk seluruh sektor tunggal putra."
Kemudian, Direktur Teknik BAM, Morten Frost, meminta Hendrawan menangani Lee Chong Wei secara langsung ketika atlet 33 tahun itu rampung menjalani sanksi doping.
Di bawah tangan dingin Hendrawan, Chong Wei kemudian melaju ke final Kejuaraan Dunia 2015 dan final Olimpiade 2016, meski pada akhirnya gagal mendapatkan emas.
Chong Wei berharap Hendrawan dan Seu Bock tetap berada di negeri jiran tersebut.
"Untuk mempertahankan mereka akan tergantung pada BAM. Tapi saya harap Hendrawan dan Seu Bock akan tinggal dan menjadi bagian dari persiapan Olimpiade Tokyo 2020," kata Chong Wei.
Perebut tiga perak Olimpiade itu telah mengungkapkan dirinya tidak akan turun di Olimpiade Tokyo, namun masih membidik gelar juara dari turnamen terakhirnya, Kejuaran Dunia 2017. (vws)