Menurut Imam, Panitia Besar (PB) PON harus menjalin koordinasi dengan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) untuk menuntaskan sejumlah pelanggaran maupun protes dari peserta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aksi protes berujung ricuh juga terjadi pada final wushu sanda kelas kelas 52 kg puteri yang mempertemukan Rosalina Simajuntak dari Sumatera Utara dan Selviah Pertiwi dari Jawa Barat.
Edwin kemudian memprovokasi penonton Jawa Barat untuk turun ke lapangan sehingga membuat suasana gaduh. Kericuhan baru berakhir setelah petugas keamanan turun ke lapangan. Akhirnya berdasarkan Dewan Hakim PB PON pada Kamis malam (22/9) memutuskan Rosalina dan Selviah juara bersama.
Menurut Imam, sejumlah keputusan 'mendadak' harusnya berkoordinasi dengan KONI yang bertanggung jawab atas PON.
"Seperti persoalan wasit yang disorot kemarin, sebenarnya bukan kewenangan PB PON tapi kewenangan antara KONI dengan cabor. Jadi jangan alergi kalau Menpora mengawasi setiap saat," kata dia.
Terlepas dari sejumlah protes dan insiden kericuhan, Menpora juga mengapresiasi kerja keras panitia di lapangan.
"Secara objektif saya menilai penyelenggaraan PON sudah berjalan baik kalau ada hal-hal yang kurang itu sudah dievaluasi oleh PB PON," kata dia.
Ia berharap PB PON menampung teguran atau imbauan dengan positif agar tujuan pesta olahraga nasional empat tahunan tersebut tepat sasaran.
"Kami dari kementerian meminta kepada KONI agar terus mengawasi, memantau dan melaporkan soal-soal yang ada di lapangan dan menyelesaikan bersama PB PON dan setiap cabor, dengan cepat dan tidak boleh tertunda," kata Imam.
(antara/kid)