"Masih bisa (bermain basket) di usia ini. Semua tergantung individunya. Kalau saya, masih 50-50 (untuk pensiun), saya tidak mau bicara, itu semua tergantung manajemen," kata Rony, Rabu (19/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rony merupakan satu di antara pebasket nasioal yang sukses menjaga konsistensi bermain dan jarang didera cedera. Itu lantaran pola hidup sehat ditambah menjaga asupan gizi dan latihan rutin di lapangan.
Jika resmi pensiun, Rony memastikan dirinya tidak akan pindah ke tim lain. Ia mengaku tak mau pindah ke klub basket lain yang dianggap tidak sebagus Satria Muda.
Padahal, di awal tahun ia pernah menyebut masih ingin melihat tawaran dari klub lain yang menginginkannya. "Tawaran pelatih sejauh ini belum ada, yang jelas banyak pilihan yang saya belum bisa tentukan. Lihat nanti," kata Rony.
Rony merupakan salah satu center player yang tampil dominan di Liga Basket Indonesia dalam lebih dari satu dekade terakhir. Ia mulai bermain basket pada 1990-an ketika masih duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA).
Merasa nyaman bermain basket, anak kedua dari empat bersaudara itu lalu bergabung dengan klub basket Abadi Samarinda dan semakin tekun mengasah kemampuannya.
Karier profesionalnya pertama kali ia jalani bersama tim senior Cahaya Lestari Surabaya (CLS) pada 1999. Pada awal 2000-an, ia sempat memperkuat CLS Surabaya sebelum pindah ke Satria Muda hingga saat ini. "Saya ingin menghabiskan sisa waktu saya di basket di tim ini," sebutnya.
Prestasi-prestasi individual yang pernah ia peroleh antara lain, MVP Final IBL Turnamen 2006, MVP IBL Final 2006, MVP IBL turnamen 2007, NBL Top Center (2010, 2013, 2014), dan NBL 6th man award 2015.
Rony juga sempat memperkuat tim nasional basket Indonesia di SEA Games pada 2005, 2007 (medali perak), dan 2011, serta memperkuat Indonesia di Kejuaraan Asia pada 2005 dan 2007. (jun)