Cara Mantan Petinju Belgia Jauhkan Anak Muda dari Terorisme

AFP, CNN Indonesia | Selasa, 15/11/2016 04:50 WIB
Cara Mantan Petinju Belgia Jauhkan Anak Muda dari Terorisme Bea Diallo adalah mantan petinju kelas menengah terbaik Belgia. Kini, imigran muslim Afrika itu telah mengubah kariernya menjadi seorang legislator di Belgia. (AFP/ EMMANUEL DUNAND)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dulu Bea Diallo adalah salah satu petinju kelas menengah terbaik di Belgia. Kini, imigran muslim asal Afrika itu telah mengubah kariernya menjadi seorang anggota parlemen di Belgia.

Lewat kiprahnya yang baik di dunia tinju, dan juga kariernya sebagai anggota legislatif, Diallo mengatakan ingin menjauhkan anak-anak muda dari tindakan-tindakan terorisme terutama pandangan ekstremis Islam yang kini lekat dengan ISIS.

"Tinju telah membantu diri saya menjadi seorang pria seperti saat ini," kata Diallo seperti dikutip dari AFP.


"Sekarang saya berusaha untuk mengubah kekuatan ini dan juga mengajarkan apa yang telah saya terima kepada generasi ini tentang bagaimana rasanya kehilangan atau terlempar dari masyarakat."

Diallo sendiri bukanlah berasal dari jalanan. Ayah Diallo adalah seorang diplomat dari Guinea. Namun, dia terjebak dengan kekerasan saat remaja. Diallo mengatakan dirinya yang remaja menjadi seorang ekstremis setelah sahabatnya menjadi korban serangan kelompok skinhead di Perancis.

"Jika saat itu seperti hari ini, di mana orang akan datang dan mencuci otak anda, saya mungkin akan berakhir terjebak dalam jihad [ISIS]," kata dia.

Namun, hari-hari gelap berhasil dilewati Diallo. Setelah karier bertinjunya, pria yang kini berusia 45 tahun itu menikah dan kini telah memiliki empat anak. Namun, jalan hidupnya tetap bersama tinju. Ia kini menjadi pelatih, sekaligus menjalankan sebuah sasana. Kesibukannya pun bertambah setelah terpilih menjadi legislator di parlemen kota Brussels.

Seorang politikus sosialis yang juga profesor universitas di Belgia, Hassan Bousetta, mengatakan, Diallo adalah figur bagi banyak remaja muslim di ibu kota Belgia yang umumnya imigran Maroko tersebut.

Cara Mantan Petinju Belgia Jauhkan Anak Muda dari TerorismeSeorang gadis menyalakan lilin saat ikut aksi keprihatinan atas korban bom di Place de la Bourse, Brussels, Belgia, 26 Maret 2016. (REUTERS/Christian Hartmann)

"Dia suatu waktu nanti akan menjadi figur nasional, mungkin ketika dia menjadi seorang menteri," klaim Bousetta.

Televisi nasional Belgia, RTL, bahkan memberikan penghormatan terhadap Bousetta--yang belajar pergerakan dari buku Martin Luther King dan Mahatma Gandhi--sebagai simbol sukses integrasi di negara tersebut.

Disebutkan Diallo, selama masa pembelajarannya, dia memahami bahwa makna jihad [berjuang di jalan Allah] yang paling utama adalah melawan diri sendiri. Kini dia pun ingin membagikan pengalamannya kepada generasi-generasi muda muslim.

Diallo tak menggunakan kekerasan untuk memperkenalkan jihad yang ia pahami.

Dia pun menjadi salah satu pelopor bagi gerakan mengheningkan cipta atas serangan bom kelompok ISIS pada 22 Maret lalu di Brussels. Korban tewas akibat bom itu mencapai 32 jiwa.

"Saya mengatakan: 'Apakah anda tahu siapa yang tewas? Muslim, Kristen, Yahudi, Arab, hitam dan putih. Mereka [ISIS} menargetkan semua orang. Ini bukanlah perjuangan Islam melawan barat. Ini adalah perang melawan kalian semu'," kata Diallo di hadapan komunitas muslim Brussels kala itu.

Diallo memulai karier tinjunya di usia 16. Di saat yang sama, Diallo pun keras mengejar mimpinya dari bangku sekolah dari mulai SMA hingga Universitas.

Kejayaannya di atas ring tinju terjadi pada 1998 silam. Ketika di Indonesia sedang dihantam krisis ekonomi yang berimbas tuntutan reformasi, Diallo mengalahkan Rob Bleakley dan merebut sabuk juara kelas menengah IBF. Diallo pun berhasil mempertahankan sabuk juara itu hingga enam tahun kemudian. (kid)


ARTIKEL TERKAIT