Sebagai wajah lama di kompetisi IBL, Stadium merasa seperti dianaktirikan.
"Kami kan bukan tim baru, tapi tidak dikasih subsidi selama tiga tahun. Kemudian diberi solusi tidak disubsidi selama dua tahun dan di tahun ketiga dapat subsidi tapi hanya Rp200 juta. Lho kok begitu? Salah kami apa sih sampai segitu-nya sama kami?" tanya Gagan menyesalkan opsi yang diberikan operator.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Stadium Jakarta dan M88 Aspac Jakarta menjadi dua klub yang belum mendaftarkan diri di IBL musim 2017.
Selain itu, ada juga masalah terkait subsidi yang tidak turun selama dua tahun karena keterbatasan dana dari sponsor.
Untuk sembilan tim lain yang telah mendaftar secara resmi, operator memberikan dana subsidi penuh Rp400 juta mulai dari tahun pertama sampai tahun ketiga. Namun, bagi tiga klub yang terakhir seperti NSH, Aspac dan Stadium yang dianggap tidak kooperatif hanya mendapat subsidi Rp200 juta yang diterima saat masuk tahun ketiga.
Terkait persyaratan yang diberikan, diakui Gagan saat ini Stadium memang belum berbadan hukum. Namun, pihaknya bersedia mengikuti persyaratan untuk bisa ikut di kompetisi IBL 2017.
"Mereka minta surat konfirmasi juga sudah kami kirimkan kok. Saya tidak bilang kami tidak mau ikut, tapi aturannya seperti apa? Yang pasti sampai saat ini kami masih menunggu," cetusnya.
Atas kondisi tersebut, Gagan mengatakan baik pihak manajemen maupun pemain kecewa. Tapi, ia menyebut akan tetap memenuhi tanggung jawabnya kepada para pemain.
"Pasti, yang kami sayangkan itu anak-anak. Manajemen akan tetap tanggung jawab, yang kuliah akan kami bayarkan sampai akhir, yang kontrak juga akan kami selesaikan. Hak dan tanggung jawab kami sama mereka akan kami penuhi sepenuhnya," tutupnya. (vws)