Fadli turun di kategori C dan mencatat waktu 24 menit 1,89 detik, membuatnya menorehkan catatan waktu terbaik keempat secara keseluruhan. Catatan waktu di lomba debutnya ini dianggap sebagai sebuah sinyal positif bagi masa depan Fadli di dunia balap sepeda.
“Penampilan Fadli terbilang cukup baguskarena ini adalah kompetisi pertamanya di dunia balap sepeda.Dari segi mental, Fadli terlihat begitu bersemangat.”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan debut yang kompetitif, Budi yakin ISSI bisa lebih mempersiapkan Fadli lebih matang di kompetisi-kompetisi berikutnya. Tiga urutan teratas di kategori C ditempati oleh pebalap India, yaitu Abhishek, Shah Divij, dan Singh Harinder.
Para peserta kelas C sendiri dibagi berdasarkan kategori level keterbatasan para pebalap, mulai dari C1 dengan keterbatasan paling parah hingga C5 dengan keterbatasan paling ringan. Fadli sendiri yang kakinya diamputasi dari lutut masuk dalam kategori C4.
Untuk memastikan bahwa perlombaan berlangsung adil bagi para pebalap kategori C, UCI sudah menetapkan indeks performance factor yang berbeda untuk tiap kategorinya sehingga catatan waktu yang dihasilkan para pebalap dikalikan indeks performance factor yang melekat pada kategori tempat mereka berada.
Fadli sendiri baru mempersiapkan diri secara serius untuk mengikuti ajang ini sejak awal tahun 2017. Sebelum terjun ke dunia paracycling, Fadli adalah pebalap motor papan atas di Indonesia.
Namun kecelakaan yang dialaminya pada Juni 2015 membuat dirinya cedera parah. Kakinya diamputasi pada awal 2016 dan sejak saat itu Fadli berjuang keras untuk bisa kembali bangkit.
Lewat tekad kuatnya, Fadli tak hanya bisa kembali berjalan, melainkan juga bisa mengendarai motor dan mobil, bahkan bisa bersepeda hingga akhirnya PB ISSI memberikan dukungan terhadapnya untuk menekuni dunia balap sepeda secara serius.