Menpora Mengenang Mahbub Djunaidi, Pewarta Kawakan
Ahmad Bachrain | CNN Indonesia
Selasa, 10 Okt 2017 20:32 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI, Imam Nahrawi, mengenang salah satu mantan pewarta kawakan Indonesia. Ia adalah mendiang Mahbub Djunaedi.
Tulisan-tulisan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) periode 1965-1970 itulah, diakui Imam banyak menginspirasi dirinya.
Lebih dari sekadar seorang pewarta andal, Imam menilai Djunaidi sebagai sosok aktivis sekaligus pelitikus yang banyak memengaruhi khalayak melalui tulisannya.
Mahbub banyak menyalurkan buah pikiran sekaligus kritikan sebagai kolumnis di koran-koran maupun tabloid ternama hingga beberapa tahun sebelum berakhirnya Orde Baru.
Pria asli Betawi itu mengembuskan napas terakhirnya pada 1 Oktober 1995, bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila.
"Meski sudah lebih dari dua dekade, ingatan tentangnya dari para keluarga, sahabat, dan kolega masih terasa begitu nyata dan hidup," demikian tulis Menpora dalam catatan tentang biografi Mahbub.
"Ingatan-ingatan itu akan dapat kita jumpai saat membaca buku 'Bung Memoar tentang Mahbub Djunaidi'. Sosok Mahbub Mahbub yang begitu dekat dengan keluarga, berhasil digambarkan oleh penulis Iwan Rasta dan Isfandiari MD--yang tidak lain dan tidak bukan adalah putra Mahbub--dengan sangat nyata," kata Imam.
"(Dalam buku bigrafi Djunaidi) Isfan menceritakan bagaimana Mahbub tak mau dipanggil oleh sebutan apa saja kecuali dengan 'Si Bung'. Enggak cuma anaknya panggil si Bung, cucunya juga enggak boleh panggil kakek atau engkong. Mahbub tidak ingin merasa tua, pikiran dan jiwanya selalu muda."
Imam melanjutkan, saat Mahbub menulis kritik, kritik-kritik tajamnya disampaikan dengan cara yang berbeda, tidak seperti orang lain pada umumnya yang disampaikan dengan kaku dan cenderung uring-uringan.
Di banyak tulisan-tulisannya, lanjut Imam bahwa Mahbub seorang generalis--sebagaimana diakui mendiang--bukan spesialis.
"Ia mengarahkan pandangan dan pengamatannya di hampir semua bidang. Ekonomi, politik, hukum, pendidikan, olahraga, film, sastra, hingga soal remeh seperti keberadaan jembatan."
"Luasnya bidang yang menjadi objek garapan dan pandangannya tersebut, uniknya tidak pernah memengaruhi cara pandang khas Mahbub yang selalu bisa mengemas dengan mudah, sederhana dan tidak rumit untuk dipahami," terang Imam. (bac)
Tulisan-tulisan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) periode 1965-1970 itulah, diakui Imam banyak menginspirasi dirinya.
Lebih dari sekadar seorang pewarta andal, Imam menilai Djunaidi sebagai sosok aktivis sekaligus pelitikus yang banyak memengaruhi khalayak melalui tulisannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pria asli Betawi itu mengembuskan napas terakhirnya pada 1 Oktober 1995, bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila.
Imam Nahrawi menuliskan sejumlah catatan mengulas kekagumannya tentang Mahbub Djunaidi. (CNN Indonesia/Arby Rahmat Putratama) |
"Ingatan-ingatan itu akan dapat kita jumpai saat membaca buku 'Bung Memoar tentang Mahbub Djunaidi'. Sosok Mahbub Mahbub yang begitu dekat dengan keluarga, berhasil digambarkan oleh penulis Iwan Rasta dan Isfandiari MD--yang tidak lain dan tidak bukan adalah putra Mahbub--dengan sangat nyata," kata Imam.
Imam melanjutkan, saat Mahbub menulis kritik, kritik-kritik tajamnya disampaikan dengan cara yang berbeda, tidak seperti orang lain pada umumnya yang disampaikan dengan kaku dan cenderung uring-uringan.
Imam Nahrawi (kanan) mengatakan Mahbub Djunaidi banyak memengaruhi khalayak melalui tulisan-tulisannya. (Muchlis/kemenpora.go.id) |
"Ia mengarahkan pandangan dan pengamatannya di hampir semua bidang. Ekonomi, politik, hukum, pendidikan, olahraga, film, sastra, hingga soal remeh seperti keberadaan jembatan."
Imam Nahrawi menuliskan sejumlah catatan mengulas kekagumannya tentang Mahbub Djunaidi. (CNN Indonesia/Arby Rahmat Putratama)
Imam Nahrawi (kanan) mengatakan Mahbub Djunaidi banyak memengaruhi khalayak melalui tulisan-tulisannya. (Muchlis/kemenpora.go.id)