Wenger Pernah Lihat Weah Menangis Ketika Liberia Berperang

Jun Mahares, CNN Indonesia | Jumat, 05/01/2018 21:58 WIB
Wenger Pernah Lihat Weah Menangis Ketika Liberia Berperang Arsene Wenger pernah menyaksikan George Weah menangis ketika mendengar kabar Liberia sedang berperang. (AFP PHOTO / Franck FIFE)
Jakarta, CNN Indonesia -- Manajer Arsenal Arsene Wenger menjadi salah satu pemilik undangan khusus di acara pelantikan Presiden Liberia, George Weah.

Karier cemerlang Weah di pentas Eropa memang tidak terlepas dari tangan dingin Wenger. Pelatih asal Perancis itu yang merekrut Weah dari Afrika ke klub AS Monaco pada 1988.

Karier Weah kemudian berlanjut ke Paris Saint-Germain hingga dilirik AC Milan dan berhasil menyabet gelar Pemain Terbaik FIFA dan Ballon d'Or pada 1995.


Kendati mendulang kesuksesan di berbagai Liga Eropa, Weah tak pernah melupakan peran Wenger dalam kariernya. Weah pun menyisakan satu undangan untuk Wenger di saat pelantikan presiden pada 22 Januari mendatang.
George Weah menyabet gelar Pemain Terbaik FIFA dan Ballon d'Or pada 1995.George Weah menyabet gelar Pemain Terbaik FIFA dan Ballon d'Or pada 1995. (AFP PHOTO / SCANPIX SWEDEN / BO HAKANSSON)
Wenger sendiri mengaku kagum dengan pribadi Weah sebagai sosok yang berhasil mengangkat pamor Liberia di mata dunia. Juru taktik yang kini menangani Arsenal itu menyebut kisah hidup Weah seperti film.

"Saya diundang George untuk hadir dalam pelantikannya dirinya menjadi presiden," kata Wenger seperti dilansir Soccerway.

"Bila Anda melihat hidupnya, perjalanan hidup orang ini adalah film yang nyata. Ini bisa menjadi film yang luar biasa."
George Weah bakal dilantik menjadi Presiden Liberia pada 22 Januari 2018.George Weah bakal dilantik menjadi Presiden Liberia pada 22 Januari 2018. (FP PHOTO/ISSOUF SANOGO)
Wenger juga teringat saat kali pertama menyaksikan Weah datang ke Monaco. Mulai dari pria yang tidak dikenal siapapun hingga kemudian justru berhasi jadi pemain terbaik dunia.

"Ini luar biasa. Ia selalu memiliki mental kuat dan punya keyakinan dalam menjalankan misinya. Saya menyaksikan betapa dirinya menderita saat mengetahui negerinya berperang sementara dia berada di Monaco."

"Dia memiliki cinta dan perhatian yang sama untuk bangsanya. Saat itu saya tidak pernah berpikir dia akan menjadi presiden. Tapi, saya pernah melihatnya menangis saat terjadi perang di Liberia," kenang Wenger. (jun/bac)