Di balik keperkasaan Kevin/Marcus terdapat tangan dingin Herry Iman Pierngadi. Kevin/Marcus bukanlah sukses pertama bagi sosok pria yang sudah tiga dekade menjadi pelatih nomor ganda putra di Pelatnas PBSI.
Bagaimana Herry IP melihat sosok Kevin/Marcus? berikut wawancara eksklusif CNNIndonesia.com dengan Herry IP:
Saat coach Herry melihat Kevin/Marcus kali pertama dipasangkan apakah sudah melihat potensi sebagai ganda hebat?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada 2016 mereka memenangkan tiga gelar. Bagaimana pandangan Anda terhadap Kevin/Marcus di awal 2017?
Herry Iman Pierngadi puas dengan keberhasilan Kevin/Marcus mempertahankan titel juara All England. (Foto: CNN Indonesia/Aulia Bintang Pratama) |
Modal utama mereka ini mental bertanding seperti seorang pejuang, lawan siapapun tak ada takutnya, mental bertanding mereka memang luar biasa. Itu yang buat mereka bisa konsisten.
Setiap pertandingan mereka tidak mau kalah, apalagi setelah tujuh turnamen tidak terkalahkan mereka tetap haus juara. Bagi mereka setelah turnamen lewat, mereka tak merasa sebagai juara bertahan dan ingin terus memenangkan setiap pertandingan.
Di babak awal All England 2018 Kevin/Marcus terlihat tidak langsung agresif menyerang. Apa mereka sudah bisa mengukur permainan lawan?
Ada betulnya, betul banget. Pertama main di All England babak pertama bertemu teman sendiri (Angga Pratama/Rian Agung), masih belum in. Terus babak kedua bertemu ganda Malaysia, permainan mereka belum normal tetapi sudah lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Namun setelah babak ketiga mereka sudah mulai main seperti yang mereka inginkan. Kalau bicara polanya, memang mereka tidak seperti biasanya yang selalu menyerang. Semua tergantung lawan, tergantung strategi yang kami terapkan.
Gaya main kevin/Marcus benar-benar baru atau ada ganda yang memiliki pola main seperti mereka di era sebelumnya?
Setiap pemain punya kelebihan dan kekurangan dalam gaya bermain, tapi kalau mau dimirip-miripin, mirip sama Sigit [Budiarto] dan Candra [Wijaya]. Tapi di sini Kevin lebih banyak bola-bola triknya danlebih cepat. Kalau Marcus sama Candra masing-masing punya kelebihan dan kekurangan.
Menurut Coach Herry apa kelebihan yang paling menonjol dari Kevin/Marcus?
Banyak. Yang paling menonjol mental bertanding hebat, itu modal. Kedua, kalau dari Kevin itu cerdik dan kecepatan/reaksinya luar biasa. Sedangkan Marcus sifat pantang menyerah yang paling menonjol. Ia tak gampang menyerah walaupun sudah tertinggal. Keuletan Marcus sangat terlihat.
Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon tampil apik di awal tahun 2018 dan telah merebut tiga titel juara. (AFP PHOTO / Paul ELLIS) |
Itu jauh dari fault. Kalau di tayangan ulang di TV bolanya sudah lewat, Kevin baru mukul. Kalau dari rule tidak ada fault. Setelah pertandingan saya minta tolong wasit dari Indonesia untuk menanyakan wasit yang memimpin pertandingan mengapa kena fault? Sang wasit melihat ada sentuhan, itu jawabannya dia.
Sebenernya tidak, jauh sekali. Namun karena dia melihatnya tersentuh, kita enggak bisa bilang apa-apa. Itu haknya dia.
Berkaca dari insiden itu, apakah coach Herry tetap membiarkan Kevin/Marcus untuk menampilkan aksi 'perang mental'?
Dalam setiap pertandingan Kevin akan melakukan hal seperti itu, memang gayanya. Akan tetapi yang saya bilang pada Kevin jangan lakukan itu [menantang] ke wasit. Setelah kejadian itu terus di fault, ya sudah. Setelah momen itu ada 1-2 momen seolah-olah dia tanya lagi sama wasit, apa itu tadi fault. Itu menurut saya yang jangan dilakukan.
Karena wasit itu yang punya kuasa di lapangan. Kalau bola mengarah out lalu pura-pura dipukul hal itu tidaklah masalah, itu gaya Kevin. Itu jadi salah satu hal yang ditunggu penonton, salah satu hiburan dan banyak penonton yang menunggu. Tetapi yang saya kasih tahu ke Kevin, jangan lakukan ke wasit. Bahasa kasarnya, jangan meledek wasit.
Kesuksesan Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon membuat mereka mendapat undangan bertemu Presiden Jokowi. (CNN Indonesia/Christie Stefanie) |
Itu salah satu kelebihan mereka. Kalau mereka merasa keputusan wasit tidak adil, ya mereka protes. Menanyakan kenapa disalahkan, itu suatu keberanian. Itu karakter dari pemain. Mestinya harus seperti itu. Contoh buat ganda-ganda yang lain kalau waktu bertanding merasa benar, boleh bertanya pada wasit.
Herry Iman Pierngadi puas dengan keberhasilan Kevin/Marcus mempertahankan titel juara All England. (Foto: CNN Indonesia/Aulia Bintang Pratama)
Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon tampil apik di awal tahun 2018 dan telah merebut tiga titel juara. (AFP PHOTO / Paul ELLIS)
Kesuksesan Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon membuat mereka mendapat undangan bertemu Presiden Jokowi. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Herry IP menyebut cedera Kevin/Marcus jadi salah satu hal yang bakal diperhatikan secara serius agar tak menghambat karier mereka. (Dok. PBSI)
Kevin/Marcus ketika menjadi juara All England 2018. (ANTARA FOTO/Handout/Humas PBSI)