Candra Wijaya menjadi salah satu wakil Indonesia di skuat Piala Thomas 1998. Kala itu usianya masih 23 tahun, tergolong pemain junior di tim Indonesia meski sudah jadi juara dunia setahun sebelumnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Candra Wijaya dan Ricky Subagja adalah dua anggota tim Piala Thomas Indonesia pada 1998. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama H) |
"Kalau dulu dunia teknologi, media sosial seperti sekarang mungkin kami bisa mundur [dari turnamen] dan pulang. Karena media sosial sangat mempengaruhi. Pasti akan penuh pertimbangan. Beruntungnya saat itu kami masih bisa dikontrol," ucap Candra yang bersama Sigit Budiarto meraih medali emas di Kejuaraan Dunia bulutangkis 1997 di Glasgow, Skotlandia.
"Saya masih sangat ingat memori itu. Sebuah memori yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidup. Kenangan yang luar biasa indah. Bisa menang dalam kondisi yang mencekam, menakutkan dan menekan secara psikis yang membuat konsentrasi terpecah," kata Candra.
Perjuangan Bhinneka Tunggal Ika
Di tengah kondisi itu tim Piala Thomas 1998 yang diberikan tugas negara untuk berjuang di medan 'perang' bisa menyelesaikannya dengan sempurna. Di tengah permasalahan bangsa, Candra dan kawan-kawan saat itu memberikan bukti nyata lewat perjuangan demi negara.
"Itu satu bukti nyata bahwa kami layak disebut patriot bangsa karena kesetiaan dan perjuangan, pengorbanan kami tidak sia-sia. Tapi juga kehormatan buat kami karena diberi tugas untuk membela Merah Putih," ungkapnya.
Rasa gundah, gelisah lantaran meninggalkan keluarga dalam kondisi mencekam sedikit dilupakan demi sebuah tugas besar. Di tengah isu agama, suku dan ras, Candra membuktikan perbedaan itu bisa jadi kekuatan untuk nama besar bangsa.
Candra Wijaya menyebut keberhasilan meraih Piala Thomas 1998 sebagai bukti perbedaan bisa jadi kekuatan. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari) |
"Bukan berarti tidak memikirkan kondisi di Tanah Air, tapi kami mau jadi patriot bangsa di lapangan, di dunia olahraga yang siap menerima tugas dan tanggung jawab."
"Ini satu bukti kecintaan kami terhadap Indonesia. Ini usaha yang ingin kami tunjukkan. Dalam kondisi apapun, kalau namanya tugas negara itu ada konsekuensinya," ujar Candra.
Tampil di bawah tekanan karena menjadi tumpuan, Candra/Sigit tampil sebagai penentu kemenangan tim Piala Thomas Indonesia saat menghadapi Malaysia di final 1998. Tampil di partai keempat Candra/Sigit bungkam Lee Wan Wah/Choong Tan Fook dua set langsung 15-11 dan 15-11.
Bersama tim Piala Uber yang keluar sebagai runner-up, tim Piala Thomas kembali ke Indonesia sehari setelah mematenkan gelar juara tepatnya 25 Mei 1998 atau sekitar dua pekan setelah kerusuhan besar yang mewarnai peristiwa reformasi. Arak-arakan disiapkan sebagai sambutan buat pahlawan olahraga Indonesia di Jakarta.
Presiden B.J Habibie ketika menyambut tim Piala Thomas Indonesia pada Mei 1998. (REUTERS) |
"Waktu itu saya berempati dan bersimpati pada keluarga korban dan terhadap kondisi dan situasi Tanah Air saat itu. Satu sisi saya senang, tapi di sisi lain sedih. Kami berusaha membawa kegembiraan untuk mengalihkan mereka dari ketakutan," kata Candra.
Lihat juga:Raih Sepatu Emas, Lionel Messi Cetak Rekor |
Setelah masyarakat tahu itu adalah arak-arakan tim Piala Thomas yang berhasil mempertahankan gelar juara untuk kali keempat, masyarakat disebut Candra mulai ikut senang.
"Saat kondisi sulit, banyak hal positif yang bisa diperlihatkan tim Piala Thomas saat itu yang mencerminkan Bhinneka Tunggal Ika. Bahwa sebetulnya Indonesia adalah negara besar dan hebat karena perbedaan," kata Candra. (ptr/har)
Candra Wijaya dan Ricky Subagja adalah dua anggota tim Piala Thomas Indonesia pada 1998. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama H)
Candra Wijaya menyebut keberhasilan meraih Piala Thomas 1998 sebagai bukti perbedaan bisa jadi kekuatan. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Presiden B.J Habibie ketika menyambut tim Piala Thomas Indonesia pada Mei 1998. (REUTERS)