Prancis vs Belgia, Duel Mayoritas Keturunan Imigran

Ahmad Bachrain, CNN Indonesia | Selasa, 10/07/2018 11:31 WIB
Prancis vs Belgia, Duel Mayoritas Keturunan Imigran Skuat Prancis dihuni mayoritas para pemain keturunan imigran. (REUTERS/Carlos Barria)
Jakarta, CNN Indonesia -- Laga semifinal Piala Dunia 2018 antara timnas Prancis melawan Belgia disebut sebagai pertarungan dua generasi emas dari masing-masing negara. Yang menarik, para pemain keturunan imigran ikut berkontribusi besar mengangkat prestasi tim tersebut.

Tak pelak, laga itu akan menjadi pertandingan mayoritas pemain imigran dari kedua negara tersebut. Mereka rata-rata para pemain keturunan Afrika.

Prancis, Belgia, dan Inggris tercatat sebagai semifinalis yang banyak dihuni para pemain keturunan imigran. Berdasarkan laporan dari The Guardian, Prancis berada di peringkat teratas yakni sekitar 78,3 persen merupakan para pemain berdarah pendatang di skuat Les Bleus.



Sementara Belgia dan Inggris dihuni hampir separuh pemain yang merupakan keturunan Imigran. Kedua negara memiliki persentase 47,8 persen yang merupakan keturunan Imigran.
Timnas Prancis yang kini dihuni mayoritas pemain keturunan imigran dalam 10 tahun terakhir. (Timnas Prancis yang kini dihuni mayoritas pemain keturunan imigran dalam 10 tahun terakhir. (Foto: REUTERS/Carlos Garcia Rawlins)
Prancis bahkan membuktikan berhasil mengangkat trofi Piala Dunia 1998 berkat kontribusi para pemain keturunan imigran macam Zinedine Zidane, Lilian Thuram, Marcel Desailly, dan Patrick Vieira.

Sejak saat itu, Prancis secara konsisten dihuni para pemain keturunan imigran. Bahkan kini angkanya lebih dari separuh skuat Les Bleus diperkuat oleh para pemain berdarah pendatang dari negara-negara lain.

Prancis vs Belgia di Rusia Duel Mayoritas Keturunan Imigran
Sebut saja Kylian Mbappe yang merupakan anak dari pasangan Kamerun dan Aljazair. Di lini belakang, tujuh dari delapan pemain bahkan berasal dari keturunan imigran. Mereka adalah Presnel Kimpembe, Raphael Varane, Samuel Umtiti, Adil Rami, Djibril Sidibe, Lucas Hernandez, dan Benjamin Mendy.

Terlebih di lini tengah, semua dihuni para pemain keturunan imigran macam N'Golo Kante, Paul Pogba, Thomas Lemar, Blaise Matuidi, Steven Nzonzi, Nabil Fekir, dan Corentin Tolisso.

Hanya segelintir pemain Prancis yang berasal dari keturunan orangtua bukan dari imigran seperti Antoine Griezmann, Olivier Giroud, Florian Thauvin, dan kiper Hugo Lloris.

Di kubu lawan, Belgia juga cukup banyak diperkuat para pemain keturunan pendatang, jumlahnya hampir separuh. Sebut saja dua bek mereka Vincent Kompany dan Dedryck Boyata.

Romelu Lukaku pemain Belgia keturunan Kongo. (Romelu Lukaku striker andalan Belgia keturunan Kongo. (Foto: REUTERS/Toru Hanai)
Lini tengah Setan Merah bahkan dihuni mayoritas para pemain keturunan imigran. Mereka adalah Axel Witsel, Marouane Fellaini, Yannick Carrasco, Adnan Januzaj, Mousa Dembele, dan Nacer Chadli.

Di lini depan ada nama-nama seperti Romelu Lukaku dan Michy Batshuayi yang merupakan keturunan dari orang tua asal Afrika. Lukaku merupakan putra dari pasangan asal negara bekas jajahan Belgia, Kongo, yang bekerja sebagai diplomat.

Generasi emas belgia saat ini tentu berkat talenta-talenta yang hampir sebagian berasal dari keturunan imigran. Namun, integrasi antara mereka dan warga asli tampaknya belum berjalan semulus di Prancis.

Lukaku sendiri pernah membuat pernyataan betapa sulitnya jika para keturunan imigran di Belgia ini tidak sukses, terutama di sepak bola.

"Ketika semuanya berjalan bagus [untuk timnas Belgia], saya baca di sejumlah surat kabar mereka menyebut saya striker Belgia. Tapi ketika semuanya berlangsung buruk, mereka menyebut saya Romelu Lukaku, striker Belgia keturunan orang Kongo," ujar Lukaku kepada The Players Tribune bulan lalu dikutip dari Guardian. (bac)