Puncak suhu kota pempek itu mencapai 32 derajat celcius pada pukul 12.00 WIB, saat para atlet bertanding di lintasan tersebut. Kendati begitu, para atlet tetap 'dipaksa' bertanding di bawah terik matahari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wajah atlet Indonesia, Jason Dennis Lijnzaat, memerah karena panas. Tak jarang dia mengelap wajahnya yang basah karena derasnya keringat.
Penonton skateboard tetap antusias meski mendapat panas matahari. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama H) |
Senada dengan Jason, Pevi Permata Putra yang meraih perunggu di nomor park putra dengan 67,00 poin juga merasa panas di Kota Palembang itu berbeda dari hari-hari sebelumnya.
"Waduh, luar biasa panas sekali hari tadi (29/8). Lebih panas dari hari kemarin-kemarin. Sangat berpengaruh terhadap penampilan di pertandingan," ucap pria asal Bandung itu.
"Harusnya [arena skateboard JSC] indoor, fokus lebih baik. Tapi lawan juga pasti tampil semakin bagus," ucapnya menambahkan.
Menurut Pevi Permata cuaca di venue berpengaruh terhadap penampilan atlet. (ANTARA FOTO/INASGOC/Rahmad Suryadi) |
Tidak hanya para atlet dan penonton, cuaca yang cukup ekstrem ini juga dikeluhkan media yang bertugas di sana. Pelancong dan jurnalis foto asal China, Alan Liu, harus rela kulitnya gosong dan belang karena terbakar sinar matahari.
"Hari ini sangat panas, jadi bukan Anda saja yang berpikiran demikian. Tidak apa-apa saya jadi belang seperti ini," ujar Liu yang sudah 10 tahun tinggal di Laos.
Selain Jason dan Pevi, Indonesia juga meraih dua medali di nomor street putra dan putri. Sanggoe Darma Tanjung meraih medali perak, sedangkan Bunga Nyimas meraih medali perunggu. (sry/jun)
Penonton skateboard tetap antusias meski mendapat panas matahari. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama H)
Menurut Pevi Permata cuaca di venue berpengaruh terhadap penampilan atlet. (ANTARA FOTO/INASGOC/Rahmad Suryadi)