Ragam Komunikasi Khusus Disabilitas di Asian Para Games 2018

Tim, CNN Indonesia | Senin, 08/10/2018 05:00 WIB
Ragam Komunikasi Khusus Disabilitas di Asian Para Games 2018 Noura Baddour, atlet tuna daksa asal Suriah meraih perunggu di cabang olahraga para powerlifting Asian Para Games 2018. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ragam cara berkomunikasi menjadi suatu hal yang menarik untuk diperhatikan dalam Asian Para Games (APG) 2018.

Ribuan atlet disabilitas yang berkumpul di Jakarta, memiliki cara masing-masing dalam berkomunikasi. Atlet tuna rungu, misalnya. Mereka berkomunikasi dengan bahasa isyarat tangan.

Para atlet tuna rungu biasanya berinteraksi dengan penyandang tuna rungu lainnya. Di APG 2018, para penyandang disabilitas bukan hanya atlet tapi juga sebagian panitia dan awak media.


Beda keterbatasan, beda juga cara komunikasi. Para penyandang tuna netra tak perlu bahasa isyarat tangan. Penglihatan mereka memang kurang sempurna, tapi mereka masih mampu untuk mendengar dan berbicara.

Menyaksikan para tuna netra berinteraksi hampir sama seperti melihat orang biasa mengobrol. Biasa saja.
Ridwan, salah satu tuna rungu juru pijat Asian Para Games 2018, amat mengandalkan telepon pintar untuk komunikasi. (Ridwan, salah satu tuna netra juru pijat Asian Para Games 2018, amat mengandalkan telepon pintar untuk komunikasi. (Foto: CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama)
Namun, akan menjadi luar biasa ketika Anda tahu bahwa mereka juga punya ponsel pintar untuk berkomunikasi. Bukan untuk menelepon, tapi untuk mengirim pesan singkat.

Lalu muncul pertanyaan: Bagaimana bisa? Kan mereka tidak bisa melihat? Bagaimana cara mengetik atau membaca pesan?

Jawabannya adalah menggunakan suara dari ponsel pintar tersebut. Ya, ponsel yang mereka gunakan memiliki fitur khusus. Mereka tinggal slide atau geser layar sentuh ponsel untuk mendengar setiap bagian yang ada bagian yang ada di layar tersebut seperti jam, daya baterai, pesan masuk, dan lain sebagainya.

Setiap satu kali geseran, ponsel pintar otomatis menimbulkan suara misalnya, 'Daya baterai 85%', 'Pesan masuk Whatsapp.', dan lain sebagainya. Pengguna tinggal tap dua kali untuk mengklik pilihan yang dia inginkan.

Karena ponsel itulah para penyandang tuna netra bisa chatting seperti layaknya orang biasa. Salah satu penyandang tuna netra Indonesia bernama Ridwan, bahkan bisa mengetahui nilai mata uang yang ia miliki.

Ni Nengah Widiasih meraih perak di cabor para powerlifting. (Ni Nengah Widiasih meraih perak di cabor para powerlifting. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
"Ada aplikasi khusus. Jadi tinggal buka aplikasi, arahkan kamera ponsel ke uang, nanti ponsel akan bersuara dengan menyebut nominal uang yang kita pegang," kata pria yang berprofesi sebagai pemijat tersebut.

Kemajuan teknologi memang secara nyata membantu orang untuk memudahkan berkomunikasi dengan siapapun, bahkan dengan kaum penyandang disabilitas sekalipun.

Di APG 2018, seluruh negara Asia berkumpul di Indonesia. Maka dari itu, menjadi hal yang lumrah bila ada sebagian orang yang tak menguasai bahasa asing negara lain.

Kesulitan itu semakin terasa bagi mereka yang bekerja di media. Kebanyakan atlet terutama yang berasal dari Timur Tengah, tidak bisa berbahasa Inggris. Alhasil, alat penerjemah di ponsel pun dimanfaatkan.

Hal ini terbukti ketika CNNIndonesia.com berkomunikasi dengan atlet tuna daksa dari Suriah, Noura Baddour. Ia adalah atlet angkat berat putri yang sukses meraih medali pertama untuk negaranya lewat nomor 41 kilogram di Balai Sudirman pada Minggu (7/10).

Cara berkomunikasi dengan Baddour adalah dengan mengetik bahasa Indonesia dahulu, lalu dia membaca arti dalam bahasa Arab yang secara otomatis sudah diterjemahkan lewat aplikasi di ponsel pintar. Meski membutuhkan waktu wawancara yang agak lama, pada akhirnya Baddour bisa diwawancarai dengan baik.

Suasana pun menjadi cair dan gembira. Siapa yang sangka bahwa atlet disabilitas tak sungkan menceritakan keterbatasan yang ia miliki.

Sebagian besar dari mereka beranggapan kekurangan yang mereka miliki adalah kelebihan. Karena tanpa kekurangan tersebut, mereka mengaku tidak akan bisa menjadi atlet hingga mendunia.

"Saya tidak pernah merasa rendah diri, karena motivasi terbesar adalah ibu saya. Ibu selalu mendukung saya," ucap Baddour dalam bahasa Arab. (map/bac)