Ribuan atlet disabilitas yang berkumpul di Jakarta, memiliki cara masing-masing dalam berkomunikasi. Atlet tuna rungu, misalnya. Mereka berkomunikasi dengan bahasa isyarat tangan.
Para atlet tuna rungu biasanya berinteraksi dengan penyandang tuna rungu lainnya. Di APG 2018, para penyandang disabilitas bukan hanya atlet tapi juga sebagian panitia dan awak media.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menyaksikan para tuna netra berinteraksi hampir sama seperti melihat orang biasa mengobrol. Biasa saja.
Ridwan, salah satu tuna netra juru pijat Asian Para Games 2018, amat mengandalkan telepon pintar untuk komunikasi. (Foto: CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama) |
Jawabannya adalah menggunakan suara dari ponsel pintar tersebut. Ya, ponsel yang mereka gunakan memiliki fitur khusus. Mereka tinggal slide atau geser layar sentuh ponsel untuk mendengar setiap bagian yang ada bagian yang ada di layar tersebut seperti jam, daya baterai, pesan masuk, dan lain sebagainya.
Karena ponsel itulah para penyandang tuna netra bisa chatting seperti layaknya orang biasa. Salah satu penyandang tuna netra Indonesia bernama Ridwan, bahkan bisa mengetahui nilai mata uang yang ia miliki.
Ni Nengah Widiasih meraih perak di cabor para powerlifting. (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
Kemajuan teknologi memang secara nyata membantu orang untuk memudahkan berkomunikasi dengan siapapun, bahkan dengan kaum penyandang disabilitas sekalipun.
Di APG 2018, seluruh negara Asia berkumpul di Indonesia. Maka dari itu, menjadi hal yang lumrah bila ada sebagian orang yang tak menguasai bahasa asing negara lain.
Kesulitan itu semakin terasa bagi mereka yang bekerja di media. Kebanyakan atlet terutama yang berasal dari Timur Tengah, tidak bisa berbahasa Inggris. Alhasil, alat penerjemah di ponsel pun dimanfaatkan.
Cara berkomunikasi dengan Baddour adalah dengan mengetik bahasa Indonesia dahulu, lalu dia membaca arti dalam bahasa Arab yang secara otomatis sudah diterjemahkan lewat aplikasi di ponsel pintar. Meski membutuhkan waktu wawancara yang agak lama, pada akhirnya Baddour bisa diwawancarai dengan baik.
Suasana pun menjadi cair dan gembira. Siapa yang sangka bahwa atlet disabilitas tak sungkan menceritakan keterbatasan yang ia miliki.
"Saya tidak pernah merasa rendah diri, karena motivasi terbesar adalah ibu saya. Ibu selalu mendukung saya," ucap Baddour dalam bahasa Arab. (map/bac)
Ridwan, salah satu tuna netra juru pijat Asian Para Games 2018, amat mengandalkan telepon pintar untuk komunikasi. (Foto: CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama)
Ni Nengah Widiasih meraih perak di cabor para powerlifting. (CNN Indonesia/Andry Novelino)