Dari sisi tata kelola oleh federasi, PSSI disebut Supriono menginginkan target tinggi untuk prestasi Timnas Indonesia. Namun, PSSI tidak mempersiapkan aspek-aspek yang diperlukan untuk mencapai target tersebut.
Padahal, Indonesia disebut Supriono memiliki potensi sepak bola yang luar biasa, bahkan untuk melebihi Jepang dan Korea Selatan. Mulai dari bakat pemain sampai suporter luar biasa yang begitu besar dalam memberikan dukungannya buat Timnas Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara, lanjut Supriono, untuk membangun wawasan, visi serta memberikan edukasi dan penyeragaman Filanesia (Filosofi Sepakbola Indonesia) perlu orang-orang yang punya kompetensi di dalamnya. Bicara regenerasi, Supriono menyebut butuh lima sampai 10 tahun ke depan untuk keliling Indonesia mencari 22 pemain terbaik yang bakal mengisi Timnas Indonesia.
Timnas Indonesia gagal ke semifinal Piala AFF 2018 usai Filipina bermain imbang 1-1 lawan Thailand. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay) |
"Yang dicari lebih dulu itu wawasan individu sebelum dikolaborasikan dengan timnas. Kalau tidak ada upaya, mana bisa target besar tercapai. Sepak bola butuh keberuntungan, tapi tidak mungkin dapat mukjizat. Ungkapan bahwa proses tidak akan mengkhianati hasil di sepak bola itu benar," ungkapnya.
Dilema Kompetisi Masih Berjalan
Faktor berikutnya, Supriono menyesalkan kompetisi di Indonesia yang masih berjalan saat Garuda berlaga. Kondisi itu membuat pelatih timnas bingung untuk memilih pemain, begitu juga klub yang bisa dengan senang hati memberikan izin kepada pemainnya untuk membela negara.
Kondisi itu juga yang akhirnya membuat pemain menjadi kelelahan. Bukan hanya soal fisik, tapi juga mempengaruhi pikiran dan mental para pemain.
"Untuk kick-off [Liga 1 20189] saja waktu itu tarik ulur. Lalu, masa kita [Indonesia] bertahun-tahun tidak pernah belajar dari luar negeri yang jadwal kompetisinya sudah keluar dari jauh-jauh hari, bahkan sudah bisa diketahui saat putaran kedua kompetisi dimulai. Formatnya [kompetisi] sudah baku, libur bulan apa, pramusim kapan, putaran satu dan dua kapan karena harus mengikuti agenda FIFA, ada timnas dan tidak akan keluar dari situ," jelas Supriono.
"Saat timnas uji coba, liga main. Kapan pemain bisa pemulihan? Kalau mereka dipanggil Timnas, setelah main pagi-pagi harus cari tiket pulang ke klub karena sorenya harus main. Situasi seperti itu masih terjadi. Ujungnya, pemain kelelahan, performa pemain di timnas tidak total, tinggal ampasnya karena sudah habis. Belum lagi pikiran terpecah karena ada pemain yang timnya sedang berjuang di tiga besar kompetisi atau harus bebas dari zona degradasi," imbuhnya.
Supriono menegasksan ia tidak menyalahkan Bima Sakti maupun koleganya di tim kepelatihan Timnas Indonesia. Secara keseluruhan, ia menyebut ini adalah peran dari federasi yang harus mendengarkan aspirasi dari bawah, termasuk pemain yang merupakan aktor utama dari Timnas Indonesia.
"Tolong manusiakan mereka [pemain] sebagai manusia. Mereka bukan robot," tegasnya.
Hasilnya, Timnas Indonesia kalah di dua laga tandang saat menghadapi Singapura (0-1) dan Thailand (2-4), serta menang dengan susah payah (3-1) atas Timor Leste di kandang. Itu membuat Skuat Garuda dipastikan gagal melangkah ke semifinal Piala AFF 2018.
"Bima itu ibaratnya maju kena, mundur kena. Plusnya Bima, dia paham metode Luis Milla, minusnya ya arogansi PSSI untuk memaksa Bima jadi pelatih dengan jam terbang dia yang minim, kemudian implementasi metode yang diberikan Luis Milla belum bisa diterapkan dengan baik oleh pemain dan Bima."
"Ditunjuk sebagai pelatih timnas itu panggilan dan harus memberikan sesuatu yang terbaik untuk negara. Terlepas dari itu, kita harus memberi semangat yang sama untuk Bima. Dia adalah tipikal pelatih yang memiliki komitmen yang luar biasa," ujar Supriono. (ttf/bac)
Timnas Indonesia gagal ke semifinal Piala AFF 2018 usai Filipina bermain imbang 1-1 lawan Thailand. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)