Separuh suporter, separuh reporter. Sempat memperkuat beberapa stasiun televisi sebelum hijrah ke CNNIndonesia.com
PSSI dan Bentuk Nyata 'Kentut' Pengaturan Skor
Nova Arifianto | CNN Indonesia
Minggu, 30 Des 2018 08:06 WIB
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNNIndonesia.com
Jakarta, CNN Indonesia -- Sekian lama hanya terendus dan tercium baunya saja, kegiatan pengaturan skor akhirnya diketahui rimbanya. Benar dugaan, orang-orang PSSI ikut terlibat permainan haram.Jika diibaratkan dalam pertandingan sepak bola, pihak kepolisian melakukan sebuah serangan kolektif dengan memindahkan bola secara horizontal, vertikal, dan diagonal untuk mengeksploitasi gembong mafia bola Indonesia yang masih belum siap melakukan transisi bertahan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Johar Lin Eng ditangkap tim Satgas Anti Mafia Bola bentukan Polri. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
Berhubung kaset rekaman video yang saya bawa dari kantor masih belum terpakai, saya pun mulai mengulur kabel mikrofon. Namun niat itu keburu buyar. Rekan kerja saya yang pernah menjadi pesepakbola dan kebetulan lebih senior mengatakan, "Cari orang lain aja bro, itu Johar Lin Eng pemain lama, enggak bakal mau ngomong."
Saya tak tahu alasan di balik ucapan sang rekan, tapi seiring kedatangan beberapa orang lainnya yang lebih tenar maka kegiatan mencari soundbite jelang kongres berlanjut demi memenuhi slot program acara.
Lima tahun berselang. Ketika saya menulis ini, Johar sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pengaturan skor sepak bola nasional. Menyusul kemudian ada nama lain yakni Dwi Irianto alias Mbah Putih, anggota non-aktif Komisi Disiplin PSSI, yang kemudian juga disangkakan atas kasus yang sama dengan Johar.
Sejumlah pejabat PSSI ditangkap polisi terkait pengaturan skor sepak bola nasional. (CNN Indonesia/Safir Makki) |
PSSI yang tidak sehat dan pengaturan skor adalah dua masalah yang sudah lama seperti menjadi rahasia umum. Keduanya ibarat kentut yang membuat orang semaput, tapi tak bisa dipegang.
Lupakan dulu kasus-kasus lawas yang pernah timbul tenggelam di sepak bola Indonesia. Tapi tentu masih agak terlintas di memori kita mengenai sepak bola gajah di divisi kedua kompetisi sepak bola nasional pada 2015.
Kasus PSS dan PSIS 'hanya' berbuntut dengan hukuman PSSI kepada pelaku lapangan, yakni pemain, pelatih, dan pengurus tim. Sementara otak permainan tak dapat terungkap. Kini, PSSI kembali melakukan tindakan serupa dengan memberi hukuman kepada klub PSMP dan pemainnya, Krisna Adi. Bedanya kemudian korps baju coklat kemudian turun tangan aktif terlibat dalam pemberantasan mafia bola.
Entah apa yang membuat polisi saat ini memberlakukan kasus di kancah sepak bola nasional begitu serius. Banyak kemungkinan yang bisa menyembul mengenai keaktifan polisi belakangan. Semoga saja memang dilandasi nawaitu yang baik untuk bersama-sama membereskan masalah yang sudah mengacak-acak rumput di stadion dalam negeri.
Hidayat menjadi nama Exco pertama yang muncul dalam kasus dugaan pengaturan skor. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama H) |
Bahkan bukan tak mungkin pula polisi mencokok oknum lain yang bermain curang di Liga 1, jika memang ada, untuk membuktikan omongan-omongan penuh tudingan bahwasanya kompetisi sepak bola nomor satu Indonesia tak lepas dari permainan mafia.
Seiring waktu berlalu dan nama-nama besar mulai masuk jaring polisi, tak lupa ada doa yang harus dipanjatkan. Semoga PSSI tak mengeluarkan jurus statuta. Dalam kurun delapan tahun terakhir, jurus itu kerap menjadi benteng pertahanan bagi PSSI untuk resisten dari kegeraman publik karena menengarai ada sesuatu yang tidak beres.
Bagi Edy Rahmayadi, mengambil opsi kerja sama dengan kepolisian bisa menjadi langkah apik untuk menyusun kepercayaan publik yang sudah kadung luluh lantak tak keruan lantaran keputusan menduakan PSSI dan komentar-komentar nyeleneh. Untuk hal ini mari kita tunggu gerak sang Gubernur Sumatera Utara.
Lihat juga:Komdis PSSI Akan Hukum Mbah Putih |
Jauh sebelum berbicara soal penggunaan Video Assistant Referee (VAR) atau teknologi garis gawang di dalam negeri, memang akan lebih baik bila kita memberi asistensi pada wasit untuk menjaga pertandingan dari rongrongan mafia-mafia bola.
Mari kita berharap agar gebrakan pada akhir 2018 ini tak layu sebelum benar-benar berkembang dan membuat pelaku-pelaku kejahatan pengaturan skor berpikir berkali-kali untuk membuat Timnas Indonesia melempem tak berprestasi di pentas internasional.
Johar Lin Eng ditangkap tim Satgas Anti Mafia Bola bentukan Polri. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Sejumlah pejabat PSSI ditangkap polisi terkait pengaturan skor sepak bola nasional. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Hidayat menjadi nama Exco pertama yang muncul dalam kasus dugaan pengaturan skor. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama H)