Nova Arifianto
Separuh suporter, separuh reporter. Sempat memperkuat beberapa stasiun televisi sebelum hijrah ke CNNIndonesia.com

PSSI dan Bentuk Nyata 'Kentut' Pengaturan Skor

Nova Arifianto, CNN Indonesia | Minggu, 30/12/2018 08:06 WIB
PSSI dan Bentuk Nyata 'Kentut' Pengaturan Skor Sejumlah pejabat PSSI tersandung pengaturan skor sepak bola nasional. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sekian lama hanya terendus dan tercium baunya saja, kegiatan pengaturan skor akhirnya diketahui rimbanya. Benar dugaan, orang-orang PSSI ikut terlibat permainan haram.

Jika diibaratkan dalam pertandingan sepak bola, pihak kepolisian melakukan sebuah serangan kolektif dengan memindahkan bola secara horizontal, vertikal, dan diagonal untuk mengeksploitasi gembong mafia bola Indonesia yang masih belum siap melakukan transisi bertahan.

Mungkin persis seperti apa yang dilakukan Liverpool kepada lawan-lawannya di Liga Inggris. Hasilnya nama-nama -yang ternyata juga merupakan- pengurus PSSI dibuat jadi bulan-bulanan.


Berawal dari kejanggalan lapangan hijau yang terekam serta aduan pelaku yang menjadi whistle blower, dugaan pengaturan skor kemudian diangkat media menjadi modal awal pengusutan aksi yang mencoreng sportivitas di lapangan hijau.

Johar Lin Eng ditangkap tim Satgas Anti Mafia Bola bentukan Polri.Johar Lin Eng ditangkap tim Satgas Anti Mafia Bola bentukan Polri. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Mantan anggota Komite Eksekutif (Exco) Hidayat menjadi nama pertama yang diklaim terlibat pengaturan skor oleh manajer Madura FC. Setelah polisi ikut turun tangan, nama-nama besar yang disinyalir menjadi pemain lama dalam jual beli permainan terungkap.

Masih terekam jelas dalam ingatan, saya hendak mencari narasumber jelang kongres PSSI 2013 di Jakarta. Sehari jelang agenda PSSI itu, media mengambil kartu identitas di lokasi yang keesokan harinya akan menggelar kongres. Kebetulan ada seorang bapak berkulit putih yang terlihat santun sedang mendatangi meja resepsionis khusus pendaftaran pemilik suara PSSI.

Berhubung kaset rekaman video yang saya bawa dari kantor masih belum terpakai, saya pun mulai mengulur kabel mikrofon. Namun niat itu keburu buyar. Rekan kerja saya yang pernah menjadi pesepakbola dan kebetulan lebih senior mengatakan, "Cari orang lain aja bro, itu Johar Lin Eng pemain lama, enggak bakal mau ngomong."

Saya tak tahu alasan di balik ucapan sang rekan, tapi seiring kedatangan beberapa orang lainnya yang lebih tenar maka kegiatan mencari soundbite jelang kongres berlanjut demi memenuhi slot program acara.

Lima tahun berselang. Ketika saya menulis ini, Johar sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pengaturan skor sepak bola nasional. Menyusul kemudian ada nama lain yakni Dwi Irianto alias Mbah Putih, anggota non-aktif Komisi Disiplin PSSI, yang kemudian juga disangkakan atas kasus yang sama dengan Johar.

Sejumlah pejabat PSSI ditangkap polisi terkait pengaturan skor sepak bola nasional.Sejumlah pejabat PSSI ditangkap polisi terkait pengaturan skor sepak bola nasional. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Tidak main-main, keduanya merupakan orang yang berada dalam tubuh induk organisasi sepak bola nasional. Johar sebagai anggota komite eksekutif dan Dwi adalah anggota komisi disiplin. Anda tentu bisa membayangkan bagaimana kondisi PSSI yang di dalamnya ternyata sudah digerogoti racun.

PSSI yang tidak sehat dan pengaturan skor adalah dua masalah yang sudah lama seperti menjadi rahasia umum. Keduanya ibarat kentut yang membuat orang semaput, tapi tak bisa dipegang.

Lupakan dulu kasus-kasus lawas yang pernah timbul tenggelam di sepak bola Indonesia. Tapi tentu masih agak terlintas di memori kita mengenai sepak bola gajah di divisi kedua kompetisi sepak bola nasional pada 2015.

Dagelan PSS Sleman dan PSIS Semarang adalah salah satu kejadian gempar sebelum laporan eks manajer Persibara Banjarnegara Lasmi Indriyani serta kejanggalan Aceh United dan PSMP Mojokerto Putra baru-baru ini menyeruak. Tiga tahun lalu tidak ada tindakan besar-besaran seperti saat sekarang.

Kasus PSS dan PSIS 'hanya' berbuntut dengan hukuman PSSI kepada pelaku lapangan, yakni pemain, pelatih, dan pengurus tim. Sementara otak permainan tak dapat terungkap. Kini, PSSI kembali melakukan tindakan serupa dengan memberi hukuman kepada klub PSMP dan pemainnya, Krisna Adi. Bedanya kemudian korps baju coklat kemudian turun tangan aktif terlibat dalam pemberantasan mafia bola.

Entah apa yang membuat polisi saat ini memberlakukan kasus di kancah sepak bola nasional begitu serius. Banyak kemungkinan yang bisa menyembul mengenai keaktifan polisi belakangan. Semoga saja memang dilandasi nawaitu yang baik untuk bersama-sama membereskan masalah yang sudah mengacak-acak rumput di stadion dalam negeri.

Hidayat menjadi nama Exco pertama yang muncul dalam kasus dugaan pengaturan skor.Hidayat menjadi nama Exco pertama yang muncul dalam kasus dugaan pengaturan skor. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama H)
Sejauh ini polisi masih berkutat pada pelaku pelanggaran norma sepak bola yang ada kompetisi level ketiga alias Liga 3 yang berawal dari aduan Lasmi. Keberadaan Johar dan Dwi di hotel prodeo serta vonis PSSI kepada PSMP bisa jadi mengungkap misteri-misteri lainnya di level Liga 2.

Bahkan bukan tak mungkin pula polisi mencokok oknum lain yang bermain curang di Liga 1, jika memang ada, untuk membuktikan omongan-omongan penuh tudingan bahwasanya kompetisi sepak bola nomor satu Indonesia tak lepas dari permainan mafia.

Seiring waktu berlalu dan nama-nama besar mulai masuk jaring polisi, tak lupa ada doa yang harus dipanjatkan. Semoga PSSI tak mengeluarkan jurus statuta. Dalam kurun delapan tahun terakhir, jurus itu kerap menjadi benteng pertahanan bagi PSSI untuk resisten dari kegeraman publik karena menengarai ada sesuatu yang tidak beres.

Bagi Edy Rahmayadi, mengambil opsi kerja sama dengan kepolisian bisa menjadi langkah apik untuk menyusun kepercayaan publik yang sudah kadung luluh lantak tak keruan lantaran keputusan menduakan PSSI dan komentar-komentar nyeleneh. Untuk hal ini mari kita tunggu gerak sang Gubernur Sumatera Utara.

Di saat sepak bola negara lain sudah memadukan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam setiap langkah menyerang atau bertahan sementara kita masih tersandera dalam masalah pengaturan skor yang mengakar, sudah barang tentu itu menjadi penyebab sepak bola Indonesia berjalan di tempat.

Jauh sebelum berbicara soal penggunaan Video Assistant Referee (VAR) atau teknologi garis gawang di dalam negeri, memang akan lebih baik bila kita memberi asistensi pada wasit untuk menjaga pertandingan dari rongrongan mafia-mafia bola.

Mari kita berharap agar gebrakan pada akhir 2018 ini tak layu sebelum benar-benar berkembang dan membuat pelaku-pelaku kejahatan pengaturan skor berpikir berkali-kali untuk membuat Timnas Indonesia melempem tak berprestasi di pentas internasional. (har)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS