Analisis

Man City vs Liverpool, Potensi Mematikan Trio The Reds

CNN Indonesia | Kamis, 03/01/2019 11:36 WIB
Man City vs Liverpool, Potensi Mematikan Trio The Reds Manchester City harus memiliki strategi yang berbeda untuk menghadapi Liverpool. (REUTERS/Andrew Yates)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pep Guardiola wajib memutar otak saat Manchester City vs Liverpool pada lanjutan Liga Primer Inggris di Stadion Etihad, Kamis (3/1). Guardiola harus bisa menemukan strategi yang memiliki potensi mematikan pergerakan trio Liverpool.

Defisit tujuh poin menjadi jarak Man City dengan Liverpool yang kini cukup nyaman di puncak klasemen sementara Liga Primer Inggris. Kekalahan dari The Reds membuat Man City akan semakin sulit mempertahankan gelar dengan selisih tiga poin.

Man City, bersama Chelsea, merupakan dua tim yang nyaris mengalahkan Liverpool musim ini. Man City hampir mengalahkan Liverpool di Stadion Anfield, 7 Oktober lalu. Namun, kegagalan Riyad Mahrez mengeksekusi penalti membuat skor berakhir imbang tanpa gol. Sementara Chelsea membuang keunggulan satu gol ketika Daniel Sturridge mencetak gol penyeimbang di pengujung laga.


Secara kualitas dan komposisi pemain, Man City merupakan tim yang bisa memberi Liverpool kekalahan pertama di Liga Inggris musim ini. Tapi, Guardiola harus memiliki strategi yang tepat untuk bisa mengalahkan Liverpool. Pasalnya, secara permainan dalam beberapa laga terakhir jelas Liverpool yang pantas difavoritkan meraih kemenangan di Stadion Etihad.

Liverpool lebih diunggulkan saat bertandang ke markas Manchester City.Liverpool lebih diunggulkan saat bertandang ke markas Manchester City. (REUTERS/Adam Hunger)
Hal pertama yang harus dipastikan Guardiola adalah mematikan pergerakan trio Liverpool: Mohamed Salah, Roberto Firmino, dan Sadio Mane. Belakangan ketiga penyerang Liverpool itu sama-sama menunjukkan performa yang menjanjikan. Ketiganya mencetak gol saat Liverpool melumat Arsenal 5-1, 29 Desember lalu.

Jika dilihat statistik pada pertemuan pertama, Man City tidak pernah benar-benar mampu mendominasi lini tengah. Ketika itu The Citizens hanya memiliki 50,6 persen penguasaan bola, sebuah catatan yang buruk untuk ukuran tim yang dilatih Guardiola sang penganut tiki-taka.

Penampilan David Silva, Bernando Silva, dan Fernandinho ketika itu mampu diimbangi James Milner, Jordan Henderson, dan Georginio Wijnaldum. Jadi biasa dibayangkan jika Man City tidak mampu meningkatkan penampilan lini tengah daripada sejak pertemuan pertama melawan Liverpool, maka kekalahan bisa dialami tuan rumah di Stadion Etihad.

Lini tengah Liverpool saat ini jauh lebih kuat dibanding saat pertemuan kedua tim. Kehadiran Fabinho dan Wijnaldum di lini tengah, ditambah Naby Keita dan Henderson, membuat Juergen Klopp tidak takut melakukan rotasi lini tengah. Skuat Liverpool musim ini hampir tanpa cela dari depan hingga ke bawah mistar gawang.

Saya selalu percaya jika Klopp mampu memperbaiki performa lini tengah musim ini maka Liverpool akan menjadi kandidat juara Liga Primer Inggris. Lihat saja ketika Liverpool mengalahkan Arsenal, kehadiran Wijnaldum dan Fabinho di lini tengah mampu membuat The Gunners kelimpungan dan melakukan kesalahan sendiri.

Liverpool masih unggul tujuh poin atas Manchester City di puncak klasemen Liga Inggris.Liverpool masih unggul tujuh poin atas Manchester City di puncak klasemen Liga Inggris. (Reuters/Jason Cairnduff)
Memenangi lini tengah maka tiga poin akan diraih di Stadion Etihad. Hal itu berlaku untuk Liverpool dan Man City. Mematikan lini tengah Liverpool akan membuat Salah, Firmino dan Mane akan kehilangan suplai bola. Sebaliknya jika mampu membuat lini tengah Man City kerepotan, maka peluang Liverpool untuk menang sangat besar.

Secara keseluruhan saya mungkin akan terkejut jika Man City mampu mengalahkan Liverpool dini hari nanti. Kenapa? Karena Man City terlihat seperti kehilangan Faktor X yang musim lalu menjadikan mereka juara Liga Primer Inggris bersama Guardiola.

Lihat saja ketika mengalahkan Southampton. Man City sepertinya akan mendominasi laga setelah David Silva mencetak gol pertama, tapi kemudian Southampton mampu menyamakan kedudukan lewat Pierre-Emile Hojbjerg dari situasi yang sangat tidak berbahaya.

Entah apa yang terjadi dengan Man City dalam beberapa pekan terakhir di Liga Primer Inggris. Tidak tampak permainan ajaib dari Kevin de Bruyne yang baru pulih dari cedera, magis David Silva, atau kecepatan Leroy Sane dan Raheem Sterling. Man City tetap mampu menguasai bola dengan baik, tapi output-nya buruk.

Man City terlihat bermain tanpa bentuk dalam beberapa pekan terakhir. Sering kehilangan bola karena kesalahan sendiri. Keputusan Guardiola hanya mendatangkan Riyad Mahrez musim ini membuat permainan lini tengah Man City stagnan.

Jika Guardiola tidak mampu memutar otak untuk menghadapi lini tengah Liverpool, maka The Reds akan mendominasi laga dan Salah, Firmino, serta Mane akan menghukum lini pertahanan Man City. (har/nva)