ANALISIS

Salah Asuh Real Madrid

CNN Indonesia | Selasa, 08/01/2019 19:44 WIB
Salah Asuh Real Madrid Real Madrid tengah terpuruk di musim ini. (REUTERS/Juan Medina)
Jakarta, CNN Indonesia -- Real Madrid tengah dalam kondisi yang tak biasa. El Real tidak lagi tampil superior di kompetisi La Liga Spanyol.

Terlempar dari empat besar dengan tertinggal 10 poin dari pemuncak klasemen sementara Barcelona membuat Madrid tak terlihat seperti tim bertabur bintang.

Masalah besar Madrid ini muncul sejak awal musim. Bahkan jauh sebelum musim 2018/2019 digulirkan.


Los Blancos terlalu berani membiarkan Zinedine Zidane pergi tanpa bisa menemukan pengganti yang sepadan.

Zidane pelatih yang sukses memberikan tiga gelar Liga Champions, satu trofi La Liga, satu Copa del Rey, serta masing-masing dua trofi Piala Super Eropa dan Piala Dunia Antarklub meninggalkan Santiago Bernabeu empat hari usai final Liga Champions 2018.

Kepergian Zidane adalah pukulan telak bagi Madrid sebagai tim besar Eropa. Karena di tangan Zidane Madrid seperti tak tersentuh, terutama saat tampil di turnamen Eropa.

Lebih dari itu Madrid bagaikan tidak belajar dari pengalaman dalam mempersiapkan tim untuk musim ini. Setelah kehilangan Zidane, Madrid juga mempersilakan megabintang Cristiano Ronaldo hengkang.

Madrid lalai membiarkan Zidane dan Ronaldo pergi.Madrid lalai membiarkan Zidane dan Ronaldo pergi. (REUTERS/Sergio Perez)
Ronaldo merupakan pencetak 450 gol dari total 438 pertandingan di semua kompetisi selama sembilan musim bersama Madrid sejak 2009. Dengan catatan tersebut Ronaldo rata-rata mengoleksi 50 gol di setiap musimnya.

Kehilangan dua sosok pilar dalam tiga musim terakhir membuat Madrid jelas terlihat pincang saat melakoni musim ini.

Julen Lopetegui yang ditunjuk sebagai pelatih di awal musim tidak bisa 'menangani' pemain-pemain bintang Madrid dengan tepat. Lopetegui pun hanya bertahan selama 120 hari atau 14 pertandingan dengan meraih enam kemenangan.

Penderitaan Lopetegui dalam melatih Madrid juga ditunjang dengan minimnya nama tenar yang bisa mendongkrak prestasi Madrid dalam rekrutan anyar di awal musim. Kecuali kiper Thibaut Courtois.

Tengok saja sederet pemain yang didatangkan Madrid di awal musim ini adalah pemain muda. Mulai dari Vinicius Junior, Alvaro Oriozola, Mariano Diaz, hingga Andrii Lunin, seluruhnya bukanlah pemain pengalaman yang bisa dibebankan mengangkat prestasi Madrid musim ini.

Lebih parahnya lagi pemain-pemain muda dan baru itu juga tidak ditunjang dengan pemain senior yang solid. Dalam 12 laga bersama Madrid, Alvaro Odriozola terlibat dalam lima kekalahan.

Vinicius Junior dan Mariano Diaz pun tidak bisa disejajarkan dengan Ronaldo. Hal itu terlihat dari performa keduanya di sepanjang musim ini. Masing-masing baik Mariano dan Vinicius baru mengemas satu gol.

Tanpa juru gedor sekelas Ronaldo, Madrid sempat mengalami 'mandul' gol dalam empat pertandingan beruntun sejak 27 September hingga 6 Oktober. Padahal rekor buruk itu sebelumnya tak pernah ada saat masih diperkuat CR7.

Vinicus Junior belum setara Cristiano Ronaldo.Vinicus Junior belum setara Cristiano Ronaldo. (REUTERS/Juan Medina)
Pemain-pemain lama seperti Gareth Bale dan Karim Benzema juga tidak cukup membantu lini depan klub ibu kota Spanyol itu jadi lebih produktif.

Yang terbaru Madrid baru saja mendatangkan gelandang potensial 19 tahun dari Manchester City, Brahim Diaz, di bursa transfer Januari 2019. Padahal, Diaz hanya berstatus pemain cadangan di Man City.

Madrid boleh saja mengedepankan investasi dengan merekrut pemain-pemain berbakat. Tetapi di tengah keterpurukan saat ini langkah tersebut menjadi seperti salah asuh.

Karena, yang perlu direalisasikan Madrid saat ini adalah mendatangkan pemain-pemain seperti Neymar, Kylian Mbappe, Eden Hazard, atau Harry Kane yang sudah matang dan siap mengangkat pamor Los Blancos.

Benzema dan bale tak mampu mengangkat pamor Madrid.Benzema dan bale tak mampu mengangkat pamor Madrid. (REUTERS/David W Cerny)
Seperti kata Luka Modric, masalah yang dimiliki Madrid saat ini sudah tidak normal. Mereka gagal mencetak gol dan terlalu mudah kebobolan di kandang.

Skuat Madrid sekarang ini sedang tidak menyatu menurut Modric. Hal semacam itu tidak saja terjadi saat melawan Sociedad, tetapi sudah berulang sejak awal musim.

"Banyak pemain tidak tampil dengan performa terbaik mereka," ujar Modric dikutip dari Marca.

Jumlah gol Madrid di La Liga saat ini hanya 26 dari 18 laga. Angka itu setara dengan keterlibatan Lionel Messi dalam gol bersama Barcelona, mencetak 16 gol dan memberikan 10 assist.

Lebih dari itu Madrid juga sedang dalam bayang-bayang gagal ke Liga Champions musim depan. Berada di peringkat kelima dari 18 pekan bukan tidak mungkin membuat Madrid untuk kali pertama tidak bermain di level elite turnamen antarklub Eropa di musim berikutnya.

Madrid boleh saja bangga selalu lolos ke Liga Champions dalam 20 musim terakhir. Tetapi jika lalai dengan situasi saat ini, cerita di musim 1999/2000 saat finis di luar empat besar bisa saja terulang.

Di musim 1999/2000 Madrid mengakhiri La Liga dengan berada di peringkat kelima setelah sempat terpuruk di putaran pertama seperti di musim ini.

Akan tetapi, tim yang saat itu dipimpin Vicente del Bosque tersebut berhasil menjadi juara Liga Champions. Secara otomatis Madrid pun mendapat satu jatah ke Liga Champions di musim berikutnya.

Madrid berinvestasi pemain muda tanpa memiliki pemain senior yang solid.Madrid berinvestasi pemain muda tanpa memiliki pemain senior yang solid. (REUTERS/Juan Medina)
Keluar dari masalah pelik saat ini menjadi tantangan besar bagi Madrid. Juara 13 kali Liga Champions itu tidak bisa hanya bergantung kepada 'tangan dingin' Santiago Solari.

Pasalnya, bulan madu Madrid dengan Solari sudah berakhir. Setelah memberikan empat kemenangan beruntun sebagai caretaker, pelatih asal Argentina itu justru menemukan hambatan saat diangkat jadi permanen.

Di laga awalnya sebagai pelatih tetap Solari menelan kekalahan 0-3 dari Eibar. Ia juga merasakan kekalahan 0-3 dari CSKA Moscow di Bernabeu, yang merupakan kekalahan kandang pertamanya. Masa depan Solari pun mulai diragukan.

Bahkan membawa Madrid juara Piala Dunia Antarklub belum tentu bisa menyelamatkan nasib Solari. Karena setelah itu Madrid gagal menang dalam dua laga terakhir, ditahan imbang Villarreal 2-2 dan kalah 0-2 dari Sociedad.

Imbang melawan Villarreal di pekan ke-17 La Liga ternyata berdampak buruk untuk laga kandang Madrid di pekan berikutnya. Saat menjamu Sociedad jumlah penonton di Santiago Bernabeu menurun drastis, hanya 53.412 orang atau 66 persen dari kapasitas 81 ribu.

Jika tidak ingin membeli pemain berkualitas di bursa transfer musim ini. Madrid bisa berkaca dari perkataan Modric, bahwa mereka hanya perlu menyatu. Jangan sampai masalah salah asuh ini berlanjut jika masih ingin bermain di Liga Champions musim ini. (sry/har)