Jika sebelumnya kami menganggap lima pertandingan terakhir bak laga final, maka lawan Mitra Kukar adalah pertandingan hidup-mati! Karena kami hanya berjarak satu poin dari PSM yang di saat bersamaan akan menjamu PSMS Medan.
Anehnya saya tidak merasakan tekanan berlebihan selama beberapa hari sebelum lawan Mitra Kukar. Bahkan tidur saya juga pulas sebelum pertandingan. Saya enggak tahu yang lain pengalamannya bagaimana.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
Atmosfer Stadion GBK benar-benar berbeda. Maklum hanya lima pertandingan saja Persija bisa menggunakan GBK. Selebihnya kami harus bermain di Bekasi, Karawang, hingga Bantul. Wajar bila suporter rindu menyaksikan tim kesayangannya kembali tampil di GBK. Apalagi ini merupakan laga yang menentukan.
Lihat juga:Eden Hazard Tak Tutup Peluang ke Real Madrid |
Begitu kickoff saya akui kami bermain tergesa-gesa. Semuanya ingin cepat mencetak gol. Itu sempat membuat permainan kami agak berantakan. Marko Simic dan Riko Simanjuntak tampil terlalu pede. Tidak masalah sebenarnya. Tapi, bisa bikin rencana rusak juga kalau keterusan. Sementara beberapa pemain terlihat gugup.
Beberapa peluang emas terbuang karena tidak sabar. Stadion akhirnya bergemuruh setelah Marko Simic mencetak gol penalti. Juara semakin dekat setelah Simic menggandakan keunggulan. Memang, gol kedua Simic jadi perdebatan karena Ramdani Lestaluhu terlibat kontak dengan kiper lawan. Tapi, menurut saya itu sah selama bertujuan untuk merebut bola.
Suasana berubah mencekam setelah Mitra Kukar berhasil mencetak gol melalui Aldino Herdianti. Apa jadinya kalau penalti yang mereka dapat sebelumnya gagal diblok Andritany?
Menit-menit akhir pertandingan terasa lama. Rasanya seperti diteror di menit-menit akhir. Mau tak mau kami bermain sederhana dan fokus bertahan. Coach Teco pernah bilang, ada kalanya sebuah tim bermain cerdas dan melupakan permainan cantik. Karena pada akhirnya yang ditanya hanya soal siapa yang menang?
Persija merayakan gelar Liga 1 2018 usai mengalahkan Mitra Kukar. (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
The Jakmania pun bersorak merayakan kemenangan. Seluruh pemain dielu-elukan bak pahlawan. Kami berhasil mewujudkan keinginan suporter yang sekian lama tertunda.
Suporter harus tahu satu hal: Saya juga sudah menanti-natikan momen juara sejak lama. Tapi apa daya? Gelar juara baru bisa terealisasi saat ini ketika semua elemen, staf pelatih, pemain, suporter, dan manajemen menjadi seperti keluarga.
Belum Mau Pensiun
Saya teringat dengan lika-liku perjalanan selama 16 tahun membela Persija. Pergantian manajemen punya cerita masing-masing. Bahkan kami sempat mogok berlatih karena persoalan gaji. Miris.
Tahun 2013 adalah masa tersulit saya di Persija. Krisis finansial berkepanjangan membuat pemain dilema. Saya pun nyaris pindah ke Sriwijaya FC. Tawaran lisan manajemen Sriwijaya sudah saya iyakan. Terlebih pendapatan yang akan saya terima dua kali lipat dari sebelumnya.
Tekad saya sudah bulat: Pindah ke Sriwijaya! Apalagi sahabat sekaligus panutan saya Bambang Pamungkas sudah menandatangani kontrak dengan Pelita Bandung Raya. Kenapa saya tidak?
Sehari sebelum keberangkatan, manajemen Persija meminta saya bertemu sekali lagi. Mereka memohon agar saya bertahan karena mereka tak mau kehilangan satu pemain senior lagi setelah Bepe pergi.
Saya dilema. Benar-benar berada di persimpangan jalan. Belum lagi manajemen Sriwijaya mencoba memastikan kepindahan saya dengan tambahan gaji Rp100 juta. Angka ini belum termasuk tawaran sebelumnya yang berkisar dua kali lipat gaji di Persija.
Ismed Sofyan mengaku hampir pindah ke Sriwijaya FC. (CNN Indonesia/Hesti Rika) |
Setelah selesai berbincang dengan ibu, saya kembali ke kantor Persija. Dengan baca bismillah dan saya bilang oke saya tetap bertahan di Persija. Sejak saat itu manajemen SFC tidak pernah kontak lagi. Mungkin telanjur kecewa karena sebelumnya sepakat secara lisan. Tapi hidup itu pilihan dan saya hanya mengikuti kata hati.
Masalah keuangan di Persija ternyata belum selesai. Terlebih kompetisi sempat dihentikan pada 2015. Sejumlah pemain bintang memilih pergi. Dan sekali lagi: Saya tetap bertahan di sini. Keuangan mulai membaik setelah Pak Gede Widiade masuk manajemen pada 2017. Meski tidak jor-joran rekrut pemain top, tapi minimal pembayaran gaji teratur.
Manajemen dan pelatih membangun tim ini seperti keluarga. Di luar lapangan kami bisa bercanda seperti teman terutama kepada coach Teco sebagai sosok yang saya kagumi.
Dia mengisyaratkan akan terus menggunakan saya hingga musim 2019. Maka saya buang jauh-jauh rencana untuk pensiun. Apa mau dikata, Teco ternyata memilih hengkang. Meski kecewa, tapi saya harus menghormati keputusan beliau. Dan sekali lagi: saya tetap bertahan di Persija. Di Jakarta, Kota yang dihuni para juara! (har)

Persija merayakan gelar Liga 1 2018 usai mengalahkan Mitra Kukar. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Ismed Sofyan mengaku hampir pindah ke Sriwijaya FC. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Ismed Sofyan untuk kali pertama membawa Persija Jakarta juara Liga Indonesia. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)