Sama-sama mengoleksi lima piala dari ajang Liga Champions, dan dihuni oleh penyerang yang sedang on fire, ini adalah laga para European Royalty yang semestinya bisa memberikan sesuatu yang menghibur. Namun yang terjadi di Stadion Anfield tadi malam adalah antiklimaks.
Baik Liverpool maupun Bayern Munchen sama-sama tidak dapat menciptakan pertandingan sepak bola yang menghibur seiring dengan tak terciptanya gol atau bahkan peluang emas yang dapat membuat penonton sejenak berhenti bernapas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua tim lebih banyak berkutat di lini tengah dengan memainkan umpan-umpan pendek dan justru sesekali bola kembali dioper ke lini belakang.
Dari heatmaps yang ditampilkan Whoscored, terlihat jika Bayern berusaha menghindari duel di bagian tengah sepertiga pertahanan Liverpool dan memilih melancarkan serangan di sayap.
Serge Gnabry memang kerap merepotkan Andy Robertson yang berjaga di sisi kiri lini belakang The Reds. Namun, operan akhir Gnabry kerap patah atau aksi dribelnya seringkali mampu dipotong oleh pemain Liverpool yang lain.
Meski menguasai jalannya pertandingan pada 20 menit pertama, para gelandang Bayern Munchen tetap terlihat kesulitan memberikan umpan matang kepada ujung tombak Robert Lewandowski. Sepanjang babak pertama, penyerang asal Polandia ini hanya sekali melakukan percobaan tembakan. Ia pun tercatat tiga kali kehilangan bola.
Penampakan heatmap dari Whoscored. (Foto: Scree shoot/Whoscored) |
Liverpool yang Bingung
Jika pertandingan ini dinilai atas dasar bentuk kerja sama tim dan metode operan antar pemain, Liverpool tentu keluar sebagai pemenang. Rasanya tak perlu ada yang meragukan kemampuan skuat Juergen Klopp dalam menciptakan transisi yang begitu sempurna dari formasi bertahan ke menyerang.
Hal ini pun kembali tersaji dalam laga dini hari tadi. Namun hanya sampai di situ kehebatan Liverpool. Pasalnya ketika memasuki lini pertahanan Munchen, lini depan The Reds justru terlihat bingung.
Masalah terjadi saat bola sudah tiba di kaki dari salah satu trio lini depan Liverpool. Ketiganya terlihat bingung membuka pertahanan Munchen yang mengakibatkan operan mereka seringkali tidak tepat sasaran. Padahal setali tiga uang dengan pertahanan Liverpool, jajaran bek Munchen juga tidak sepenuhnya tampil solid. Kesalahan operan beberapa kali ditampilkan oleh mereka.
Pun ketika mereka sudah menerima operan terakhir di depan gawang Manuel Neuer, penyelesaian akhir lini depan Liverpool justru tak bertaji.
Sadio Mane adalah contoh nyata dari pernyataan di atas. Tak ada pemain dari kedua tim yang layak menyandang status sebagai pemain terbaik sekaligus terburuk dari laga semalam selain Mane.
Sadio Mane tercatat sebagai penyerang Liverpool dengan jumlah tembakan terbanyak di laga itu. (Action Images via Reuters/Carl Recine) |
Jika Anda tak sempat menyaksikan laga ini, Anda bisa membayangkan skema yang tertulis di atas terjadi cukup sering dan membuat pertandingan tak lagi menarik.
Memasuki paruh akhir babak kedua, laga hampir sepenuhnya dikuasai Liverpool.
Salah pun sudah menunggu di sisi kanan. Saat menerima bola dan mencoba masuk, operan atau aksi dribelnya dapat dipatahkan oleh Mats Hummels atau Niklas Sule.
Hal di atas terjadi beberapa kali dengan lakon yang berbeda-beda.
Jalannya pertandingan jadi semakin jelas terbaca. Anfield yang biasa bergemuruh pun menjadi senyap. Sungguh sebuah malam yang membosankan. (har/bac)
Penampakan heatmap dari Whoscored. (Foto: Scree shoot/Whoscored)
Sadio Mane tercatat sebagai penyerang Liverpool dengan jumlah tembakan terbanyak di laga itu. (Action Images via Reuters/Carl Recine)