ANALISIS

Tanpa Target, Timnas Indonesia U-22 Malah Juara Piala AFF

CNN Indonesia | Rabu, 27/02/2019 06:30 WIB
Tanpa Target, Timnas Indonesia U-22 Malah Juara Piala AFF Tanpa target muluk-muluk, Timnas Indonesia U-22 malah juara Piala AFF U-22 2019. (Dok. PSSI)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tanpa mematok target muluk-muluk di Piala AFF U-22 2019Timnas Indonesia U-22 justru meraih trofi untuk kali pertama di turnamen kelompok umur tersebut.

Garuda Muda secara dramatis mengalahkan Thailand 2-1 setelah sempat tertinggal 0-1 pada laga final Piala AFF U-22 2019 di Stadion Olimpiade Phnom Penh.

Ini jadi gelar ketiga Indonesia di turnamen usia muda level Asia Tenggara, setelah meraih dua gelar juara Piala AFF U-19 di bawah arahan Indra Sjafri dan berikutnya Fakhri Husaini.


Bagi Indra, ini merupakan gelar keduanya di Asia Tenggara setelah pernah sukses membawa Evan Dimas dan kawan-kawan juara Piala AFF U-19 2013.

Timnas Indonesia U-22 memang menjadi skuat yang pertama melakukan persiapan pada awal Januari di tengah kondisi sengkarut PSSI.

Induk sepak bola tanah air itu diterpa gelombang kasus pengaturan skor dan membuat kepercayaan publik semakin anjlok. Di lain pihak, Garuda Muda asuhan Indra baru saja memulai persiapan untuk menatap ajang Piala AFF U-22 di Phnom Penh Kamboja.

Timnas Indonesia U-22 saat mengalahkan Kamboja 2-0. (Timnas Indonesia U-22 saat mengalahkan Kamboja 2-0. (Foto: ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)
Aura pesimistis sebagian publik pecinta sepak bola seolah menyelimuti kerja keras Rachmat Irianto dan kawan-kawan. Terlebih, tak ada satu pun kesempatan uji coba internasional yang dibutuhkan Merah Putih untuk mempertajam kekuatan mereka.

Garuda Muda hanya melakoni uji tanding melawan klub-klub Liga 1 yakni Bhayangkara FC, Arema FC, dan Madura United. Hasilnya kurang meyakinkan, imbang semua.

Peforma mereka juga belum teruji benar karena belum ada lawan tanding minimal dari sesama negara di Asia Tenggara yang kualitasnya tak terlalu jauh.

Terlebih, Luthfi Kamal dan kawan-kawan harus melawan pemain yang lebih senior dari mereka. Tentu hal ini tidak sebanding jika Indra ingin mencari data-data objektif mengevaluasi para pemainnya secara lebih komplet.

Indra pun buru-buru menyebut tak mematok target apapun dalam hal prestasi di Piala AFF U-22. Ia menegaskan hanya menjadikan turnamen tersebut sebagai ajang uji coba para penggawanya.
Marinus Wanewar jadi andalan Timnas Indonesia U-22 di lini depan. (Marinus Wanewar (tengah) jadi andalan Timnas Indonesia U-22 di lini depan. (Foto: ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)
Memang, Indra menargetkan ajang yang lebih besar lagi, tembus ke putaran final Piala AFC U-22 dengan melakoni laga kualifikasi pada 22-26 Maret mendatang.

Komentar pelatih berdarah Minang ini masih bisa dibenarkan mengingat Indonesia satu grup dengan Thailand dan Vietnam di Grup K kualifikasi Piala AFC U-23, selain dengan Brunei Darussalam.

Pernyataan ini sekaligus mengisyaratkan agar publik pecinta sepak bola Indonesia jangan berharap banyak soal pencapaian Merah Putih di turnamen kelompok umur di Asia Tenggara itu.

Alhasil, Garuda Muda justru sukses menjadi juara Piala AFF U-22. Padahal, publik telanjur tak banyak berharap. Apalagi di tengah sengkarut PSSI yang dililit kasus pengaturan skor kompetisi sepak bola.

Timnas Indonesia juara Piala AFF U-22 dengan mengalahkan Vietnam 1-0 di semifinal dan menekuk Thailand 2-1 di laga final. Benar, dua tim itu merupakan bakal dihadapi lagi oleh Garuda Muda di fase kualifikasi Piala AFC U-23.

Timnas Indonesia U-22 kala menyingkirkan Vietnam di laga semifinal. (Timnas Indonesia U-22 kala menyingkirkan Vietnam di laga semifinal. (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)
Secara taktis maupun aspek permainan lainnya, hasil itu jadi bahan berharga bagi Indra untuk membaca kelemahan dan kekuatan Vietnam serta Thailand. Selain itu, jadi modal penting evaluasi skuatnya.

Secara hasil, lagi-lagi ini menjadi anomali jika dikaitkan dengan deretan prestasi Indonesia dengan situasi sepak bola nasional saat ini.

Rasanya belum terlalu lama ketika publik sempat dibuat gegap gempita kala Timnas Indonesia sukses melaju ke final Piala AFF 2016. Padahal, kala itu sepak bola Indonesia baru saja terbebas dari sanksi pembekuan oleh FIFA dan sengkarut di PSSI belum pulih benar.

Jadilah, skuat yang waktu itu ditangani Alfred Riedl sama sekali tak diperhitungkan, bahkan hingga tembus dari fase grup. Kenyatannnya, Merah Putih justru melaju hingga final.

Usai menyingkirkan Vietnam di final, mimpi Boaz Solossa dan kawan-kawan menggapai juara Piala AFF untuk kali pertama dikandaskan Thailand di laga final.

Sebaliknya, Timnas Indonesia justru tampil loyo di Piala AFF 2018 di kala PSSI mulai menjauh dari pusaran konflik. Mereka bahkan gagal lolos dari fase grup!

Kini di tengah sengkarut yang kembelai mengelayut PSSI, Indonesia berprestasi di turnamen Piala AFF U-22. Sebuah anomali ketika kasus pengaturan skor menyeruak.

Para pemain dan ofisial meluapkan kegembiraan dengan mengusung bendera Merah Putih di lapangan. (Para pemain dan ofisial meluapkan kegembiraan dengan mengusung bendera Merah Putih di lapangan. (Foto: ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana/nz)
Daftar tiga trofi di kelompuk usia muda yakni dua gelar Piala AFF U-19 dan satu titel Piala AFF U-22, jadi anomali lainnya. Sebab, tak satu pun prestasi di turnamen Asia Tenggara yang pernah diraih di level senior dalam beberapa dekade terakhir.

Mungkin terlalu sulit mengurai faktor-faktor tersebut. Namun khusus untuk ihwal prestasi tim arahan Indra saat ini, bisa kita kulik sedikt secara teknis.

Fokus yang dilakukan Timnas Indonesia U-22 untuk mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik tanpa peduli kondisi PSSI, jadi faktor penting grafik positif yang terus mereka tunjukkan.

Selain itu, Garuda Muda juga belum terganggu kacau-balaunya tata laksana kompetisi di tanah air. Tarik-menarik kepentingan klub dan Timnas Indonesia akibat jadwal kompetisi, sebut saja di Liga 1, kerap menjadi momok bagi prestasi Indonesia.

Para pemain tak jarang berada dalam situasi sulit harus kembali main di klubnya ketika hanya selang satu atau dua hari melakoni uji coba di Timnas Indonesia. Benar, situasi itu justru tak dialami skuat besutan Indra sehingga bisa benar-benar fokus menjalani pemusatan latihan.

[Gambas:Video CNN] (bac/bac)