Analisis

'Harga Mahal' Permainan Agresif Solskjaer di Man United

bac, CNN Indonesia | Rabu, 03/04/2019 12:37 WIB
'Harga Mahal' Permainan Agresif Solskjaer di Man United Manchester United di bawah arahan Ole Gunnar Solskjaer mulai membayar mahal strategi permainan agresif mereka dengan kekalahan demi kekalahan. (Action Images via Reuters/Andrew Boyers)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ole Gunnar Solskjaer mulai membayar mahal strategi permainan agresif yang ia terapkan di Manchester United.

Setan Merah mulai kehabisan 'bensin' setelah terus 'tancap gas' di bawah kendali Solskjaer. Paul Pogba dan kawan-kawan mengalami tiga kali kekalahan dalam empat pertandingan beruntun di seluruh kompetisi.

Sempat menang 2-1 atas Watford, Man United menderita kekalahan dari Wolverhampton Wanderers 1-2 pada laga Liga Inggris 2018/2019 pekan ke-32 di Stadion Molineux, Selasa (2/4) malam waktu setempat.


Kekalahan itu membuat Setan Merah kehilangan peluang menyalip Tottenham Hotspur di posisi keempat klasemen sementara Liga Inggris.

Padahal, Tottenham juga gagal mendulang tiga poin karena kalah 1-2 dari Liverpool di Liga Inggris pekan lalu. Dua tim itu sama-sama mengantongi 61 poin, namun Spurs unggul selisih gol atas the Red Devils.

Man United sendiri sudah dua kali kalah dari Wolves musim ini. Kekalahan pertama saat Man United takluk 1-2 dari tim besutan Nuno Santo di perempat final Piala FA 2018/2019.

Solskjaer yang masuk menggantikan Jose Mourinho langsung melakukan perubahan besar dalam strategi permainan. Pelatih asal Norwegia itu menerapkan permainan yang jauh lebih intens melakukan tekanan di pertahanan lawan.

Umpan-umpan pendek cepat dikombinasikan dengan umpan silang jadi andalan Setan Merah di bawah komando mantan penyerang Man United itu.

Ashley Young mendapat kartu merah pada laga lawan Wolverhampton. (Ashley Young mendapat kartu merah pada laga lawan Wolverhampton. (Foto: Action Images via Reuters/Andrew Boyers)
Strategi itu pula yang tetap diterapkan kala menghadapi Wolverhampton di Liga Inggris. Meski bermain sebagai tim tamu, Setan Merah lebih banyak menguasai bola ketimbang lawannya.

Orientasi permainan menyerang begitu kentara jika melihat catatan statistik jumlah tembakan yang dilepaskan Setan Merah. Dikutip dari Whoscored, Man United melepaskan 18 kali tembakan.

Meski demikian, hanya empat tembakan yang tepat sasaran dan satu di antaranya berbuah gol. Tujuh tembakan melenceng dan tujuh lainnya diblok pertahanan Wolves.

Solksjaer juga terlalu memaksakan permainan dengan intensitas tinggi di tengah krisis lini belakang skuatnya. Dua bek absen pada laga itu yakni Eric Bailly dan Matteo Darmian.

Alhasil, Man United kehilangan keseimbangan dalam permainan. Transisi permainan dari menyerang ke bertahan timpang karena orientasi permainan agresif dalam bertahan.

Manajer Wolverhampton, Nuno Santos, mengendus kelemahan tersebut. Mereka lebih banyak menggenjot serangan balik cepat dengan permainan yang lebih efektif.

Chris Smalling melakukan gol bunuh diri ke gawang Manchester United. (Chris Smalling melakukan gol bunuh diri ke gawang Manchester United. (Foto: Action Images via Reuters/Andrew Boyers)
Tengok saja statistik jumlah tembakan yang dilepaskan Wolves, hanya sembilan kali atau separuhnya dari Setan Merah.

Sebanyak dua di antaranya tepat sasaran, satu membentur tiang gawang David De Gea, satu percobaan berbuah gol.

Gol Wolves pun tercipta akibat bunuh diri Chris Smalling pada menit ke-77. Namun, total dua gol Man United tercipta juga karena kesalahan di lini belakang.

Sebut saja gol pertama Wolves lahir akibat kesalahan koordinasi dua bek Man United, Chris Smalling dan Ashley Young dalam melakukan jebakan offside.

Young terlambat menarik diri ketika Raul Jimenez melepaskan umpan terobosan kepada Diogo Jota yang sudah berdiri bebas di dalam kotak penalti Man United. Kesalahan bek timnas Inggris itu berakibat fatal membuat Man United kebobolan setelah sempat unggul 1-0 berkat gol Scott McTominay.

'Harga Mahal' Permainan Agresif Solskjaer di Man United
Ironisnya, ini merupakan kali pertama dari seluruh kekalahan Man United di bawah Solksjaer setelah sempat unggul kemudian tumbang.

Strategi mantan pelatih Molde itu pun sepertinya berada pada titik ekstrem dari permainan 'sepak bola negatif'gaya Jose Mourinho.

Solskjaer tampaknya luput untuk membuat keputusan yang tepat untuk sedikit 'mengerem' di tengah jadwal gila di sepak bola Inggris, domestik maupun Eropa. Sejumlah pemain yang cedera juga menjadi konsekuensi nyatanya.

Selain Darmian dan Bailly, Alexis Sanchez dan Antonio Valencia juga masih dibebat cedera lantaran strategi permainan intens yang tidak diimbangi dengan padatnya jadwal di Inggris.

Pelatih 46 tahun itu memang berupaya melakukan rotasi dalam skuatnya untuk mendukung strategi permainan intens di Man United. Meski demikian, tidak semua pemain bisa mudah menerjemahkan keinginannya tersebut.

Di samping itu, Solskjaer seolah masih tergantung dengan performa Paul Pogba di lini tengah. Performa buruk pemain timnas Prancis itu membuat Man United hilang keseimbangan.

Kini Solksjer menghadapi situasi yang lebih pelik di Liga Inggris setelah kehilangan dua bek lagi yakni Ashley Young yang terkena kartu merah dan Luke Shaw yang mendapat akumulasi kartu kuning. (bac)