Di malam yang dingin dan berangin di Stadion Dragao, Liverpool mencoba mempertahankan keunggulan 2-0 yang mereka raih atas Porto di leg pertama. Pertandingan leg kedua di markas Porto seharusnya bisa berlangsung menarik. Betapa tidak, tuan rumah berhasil mengurung pertahanan Liverpool hingga pertengahan babak pertama.
Porto sebenarnya tampil berani. Menekan Liverpool sejak awal laga dan membuat tim asuhan Juergen Klopp bekerja keras di sepertiga akhir lapangan. Jika orang hanya melihat statistik babak pertama tanpa melihat jalannya pertandingan, mungkin mereka akan berpikir kiper Alisson Becker bermain sangat luar biasa. Padahal tidak.
Sebanyak 15 usaha tembakan dilakukan Porto di babak pertama, dengan enam di antaranya tepat sasaran. Dari enam shot on target itu, Alisson tidak pernah benar-benar berada dalam ancaman. Kiper asal Brasil itu seperti hanya melakukan penyelamatan rutin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sadio Mane dan Virgil van Dijk mencetak gol pada leg kedua perempat final Liga Champions. (REUTERS/Andrew Boyers) |
Porto membangun serangan sangat bagus, tapi selalu gagal di akhir, entah itu penyelesaian akhir atau umpan final yang buruk. Porto terlihat seperti Naga (julukan Porto) yang sedang terkena flu dan tidak bisa mengeluarkan api untuk mematikan lawan.
Pemain Cadangan Jadi Kunci
Gol Mane sangat krusial buat Liverpool. Dengan keunggulan 1-0, 3-0 secara agregat, Liverpool bisa lebih percaya diri menjalani babak kedua. Terbukti Liverpool mampu memiliki ritme serangan yang lebih baik dan mencetak tiga gol tambahan.
Dua pemain cadangan yang masuk di babak kedua, Roberto Firmino dan Jordan Henderson, menjadi kunci keberhasilan Liverpool. Setelah Salah mencetak gol lewat serangan balik pada menit ke-65, Firmino kemudian mencetak gol ketiga melalui sundulan usai meneruskan umpan Henderson.
Secara keseluruhan, hasil 4-1 untuk Liverpool terlalu menyakitkan bagi Porto. Pasalnya, tim asuhan Sergio Conceicao itu tidak bermain buruk. Bahkan Porto tim yang jauh lebih superior di babak pertama. Tapi, buruknya penyelesaian akhir membuat Porto memberi 'kado' secara cuma-cuma untuk Liverpool.
Liverpool membuktikan menjadi pemenang dalam pertandingan sepak bola tidak harus menjadi tim yang superior secara statistik. Terbukti Porto lebih unggul dalam penguasaan bola (52 persen), akurasi umpan (78 persen), hingga shot on target (8).
Mohamed Salah menambah pundi-pundi gol di Liga Champions. (Action Images via Reuters/Andrew Boyers) |
Satu hal positif dari Porto dini hari tadi adalah, puluhan ribu suporter mereka tidak diam ketika timnya tertinggal. Puluhan ribu Porto tetap berjingkrak, melakukan yel-yel, dan mengibarkan bendera. Bahkan ketika mereka tahu Porto sudah tidak bisa lolos ke babak selanjutnya saat tertinggal 1-3 dari Liverpool.
Kondisi itu sangat positif bagi Liverpool memasuki fase krusial di akhir musim. The Reds butuh kekompakan ketiga penyerang mereka untuk merebut dua gelar tersisa musim ini, Liga Champions dan Liga Inggris. Jika tidak, Liverpool bisa mengalami nasib antiklimaks seperti musim lalu. (nva)
Sadio Mane dan Virgil van Dijk mencetak gol pada leg kedua perempat final Liga Champions. (REUTERS/Andrew Boyers)
Mohamed Salah menambah pundi-pundi gol di Liga Champions. (Action Images via Reuters/Andrew Boyers)