Liga Champions musim ini sudah memberi kita banyak kejutan. Namun, apa yang dilakukan Tottenham di Johan Cruyff Arena adalah sesuatu yang berbeda. The Lilywhites mungkin melakukan kejutan terbaik di Liga Champions musim ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebuah tim biasanya akan jatuh mentalnya jika dalam posisi Tottenham. Kalah 0-1 pada leg pertama di kandang, kebobolan gol cepat saat leg kedua baru berjalan lima menit, dan tertinggal dua gol di babak pertama. Namun, klub asal London Utara itu bermain tanpa beban di babak kedua dan sukses membalikkan keadaan.
Ajax sempat unggul 2-0 lebih dulu di babak pertama. (Reuters/Matthew Childs) |
Peran Llorente
Di awal babak kedua Pochettino memasukkan Fernando Llorente dan menarik keluar Victor Wanyama. Sebuah pergantian pemain yang memberi kontribusi besar untuk kemenangan Tottenham. Padahal jika dilihat penampilan El Rey Leon tidak terlalu bagus, namun mampu merepotkan Daley Blind, terutama dalam menahan bola pertama hingga memberi Tottenham ruang untuk membangun serangan.
Tottenham sebenarnya tidak punya strategi yang jelas di babak kedua. Mereka hanya berusaha terus menyerang, berharap Llorente mampu menahan bola dan membuka ruang, serta menaruh badan sebanyak mungkin di lini pertahanan Ajax.
Gol kedua Tottenham yang dicetak Moura pada menit ke-59 menunjukkan betapa demam panggungnya Ajax. Setelah kiper Andre Onana secara gemilang memblok sontekan Llorente di mulut gawang, Lasse Schone dan Onana justru berebut bola hingga keduanya terjatuh. Padahal sudah tidak ada tekanan yang diberikan Tottenham. Bola lepas dan dengan cerdik Moura mengecoh Frenkie de Jong untuk membobol gawang Ajax.
Saat kedudukan imbang 2-2 Ajax sebenarnya mampu menemukan kembali ritme permainan. Ajax masih di atas angin. Terlebih seluruh sembilan gol kandang Ajax di Liga Champions musim ini tercipta di babak kedua. Satu gol tambahan Ajax di babak kedua akan membuat Tottenham sulit comeback.
Llorente berhasil memenangi duel lawan De Ligt saat menyambut umpan lambung Moussa Sissoko. Bola jatuh ke kaki Dele Alli yang dengan cerdik mengirim umpan terobosan ke Moura. Penyerang asal Brasil itu pun melepaskan tendangan sekali sentuhan kaki kiri ke pojok kiri gawang tanpa mampu dihentikan Onana.
Skor 3-2, Ajax membuang final yang ada di depan mata, Tottenham lolos ke Liga Champions untuk kali pertama sepanjang sejarah klub, dan All English Final pun terjadi.
Namun, kita harus angkat topi untuk Tottenham dan Liverpool. Mereka mampu membalikkan semua prediksi yang ada dan membuktikan sepak bola terlalu indah untuk diprediksi. (sry)
Ajax sempat unggul 2-0 lebih dulu di babak pertama. (Reuters/Matthew Childs)