The Reds menjelma jadi kekuatan menakutkan di Liga Inggris musim ini. Juergen Klopp membuktikan bahwa proyek pembentukan tim Liverpool yang ada dalam bayangannya berjalan sukses di lapangan.
Virgil van Dijk, Naby Keita, Xherdan Shaqiri, Alisson Becker dan Fabinho membuat Liverpool jauh lebih solid dibandingkan musim sebelumnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
The Citizens memang lebih banyak menelan kekalahan, empat laga. Namun mereka juga punya dua kemenangan lebih banyak sehingga akhirnya berhak atas trofi Liga Inggris dengan keunggulan satu poin atas Liverpool.
Liverpool tak sampai juara Liga Inggris. (Foto: Reuters/Carl Recine) |
Namun segala puja dan puji untuk Liverpool hanya sekadar jadi kata-kata yang akhirnya menguap ke udara. Pujian tentu tidak akan bisa dipajang di lemari penyimpanan trofi juara Liverpool yang sudah lama tidak kedatangan penghuni baru.
Klopp Butuh Trofi
Liverpool memasuki era baru ketika Juergen Klopp datang ke Merseyside pada tahun 2015. Saat itu Liverpool yang kehilangan dua ikonnya, Steven Gerrard dan Luis Suarez berusaha menyusun ulang kekuatan agar bisa kembali ditakuti di Inggris dan juga Eropa.
Juergen Klopp membutuhkan trofi sebagai pembuktiannya di Liverpool. (Foto: REUTERS/Phil Noble) |
Namun di balik keberhasilan Klopp membangun tim Liverpool dan meningkatkan level permainan 'The Reds', Klopp belum sekalipun menghasilkan gelar juara.
Membangun tim memang butuh proses dan kesabaran, tidak serta-merta instan. Tetapi fakta bahwa Liverpool beberapa kali gagal di tahap akhir menjadi juara adalah sebuah cela dan noda buruk tersendiri.
Tumpukan 'prestasi' runner up itu jelas bakal jadi tekanan-tekanan tambahan untuk Liverpool di musim-musim yang akan datang. Liverpool bakal dihantui kegagalan di tiap fase akhir kompetisi, baik di liga maupun turnamen. Catatan 97 poin tanpa gelar juara Liga Inggris bakal punya tempat spesial dalam sejarah kegagalan Liverpool.
Kesempatan untuk mengakhiri catatan runner up itu tak perlu menunggu lama. Liverpool bisa mendapat trofi pertama di era Klopp pada final Liga Champions musim ini.
Liverpool berhasil membuktikan bahwa penampilan konsisten mereka tidak hanya tersaji di kompetisi domestik. Di Eropa, Liverpool juga mampu melewati adangan Napoli, Paris Saint-Germain, Bayern Munchen, hingga Barcelona untuk sampai ke partai final.
Peluang Liverpool untuk jadi juara Liga Champions musim ini terlihat makin besar karena mereka hanya berhadapan dengan Tottenham Hotspur yang minim jam terbang di final kompetisi Eropa. Dibandingkan duel dengan Real Madrid musim lalu, laga lawan Tottenham Hotspur jelas bakal lebih mudah dari segi pengalaman dan mental bertanding.
Jika Liverpool kembali gagal di final Liga Champions, maka jelas Liverpool kembali menjalani musim dengan mimpi buruk. Karena mimpi buruk tak sekadar ketika sebuah tim tampil terpuruk, melainkan juga bisa karena tim tersebut gagal saat tinggal berjarak selangkah dari kemenangan. (bac)
Liverpool tak sampai juara Liga Inggris. (Foto: Reuters/Carl Recine)
Juergen Klopp membutuhkan trofi sebagai pembuktiannya di Liverpool. (Foto: REUTERS/Phil Noble)