Ilham Rahmanda
Bekerja untuk CNN Indonesia. Menginvestasi begitu banyak emosi untuk Liverpool FC.

KOLOM

Liverpool (Mungkin) Tak Ingin Juara Liga Inggris

Ilham Rahmanda, CNN Indonesia | Senin, 13/05/2019 19:32 WIB
Liverpool (Mungkin) Tak Ingin Juara Liga Inggris Liverpool belum mampu mempersembahkan gelar Liga Primer Inggris hingga saat ini. (REUTERS/Phil Noble)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penyair asal Amerika Serikat Ralph Waldo Emerson pernah berkata: "Do not go where the path may lead, go instead where there is no path and leave a trail."

Liverpool sepertinya benar-benar mengamini ucapan tersebut dengan melakukan atau menginginkan sesuatu yang berbeda dari tim-tim lain pada umumnya. Saya mulai memahami dari kegagalan Liverpool menjuarai Liga Primer Inggris musim ini. Atau ini memang bukan sebuah kegagalan bagi mereka?

Musim ini sempat menjadi masa yang indah bagi para pendukung Liverpool. Bagaimana tidak, Si Merah hadir membawakan harapan dalam bentuk rentetan kemenangan sekaligus posisi nyaman di puncak klasemen Liga Inggris hingga akhir 2018.


Skuat arahan Juergen Klopp kian solid dibandingkan musim lalu. Ada jaminan rasa aman dalam nama Alisson Becker di bawah mistar gawang. Ada sosok Virgil van Dijk, comandante yang merupakan paduan dari fisik kuat serta otak jenius di lini belakang. Jangkar paling keras kepala dengan tackle akurat hadir dalam tubuh Fabinho di lini tengah. Kengototannya juga dipadukan dengan pergerakan kaki yang elegan dari Naby Keita.

Liverpool kalah satu poin dari Manchester City di klasemen akhir 2018/2019.Liverpool kalah satu poin dari Manchester City di klasemen akhir 2018/2019. (Reuters/Carl Recine)
Tak ada perubahan personel di lini depan. Tapi kolektivitas trio Sadio Mane, Roberto Firmino, serta Mohamed Salah terus menjadi teror bagi para lawan hingga Desember berakhir.

Liverpool juara paruh musim 2018/2019. Sebuah kado Natal yang semestinya tidak perlu dibuka oleh Juergen Klopp pada waktu itu. Karena apa? Sebab itu bukanlah sesuatu yang spesial meski itu merupakan satu-satunya kotak hadiah yang diantarkan oleh Santa Claus.

Tak Perlu Mengutuk Manchester City

Pesaing Liverpool di musim ini bukanlah Manchester United atau Chelsea. Setan Merah masih terlalu sibuk mengurusi masalah mereka sendiri di bawah kepelatihan Jose Mourinho kala itu. Inkonsistensi sejumlah pemain seperti Paul Pogba dan Romelu Lukaku juga seperti menjadi duri dalam daging.

Chelsea setali tiga uang. Menaruh Maurizio Sarri di kursi manajer bukanlah solusi jitu jika yang mereka cari adalah kedigdayaan seperti saat dibesut Antonio Conte di musim pertamanya. Sejak awal, memang selalu Pep Guardiola yang berada di belakang, mengintip setiap kemenangan yang diukir Klopp. Pep seperti tinggal menunggu waktu yang tepat bagi The Anfield Gang untuk tergelincir.

Liverpool (Mungkin) Tak Ingin Juara Liga Inggris
Peristiwa itu pun akhirnya datang. Bertandang ke Etihad Stadium pada 3 Januari 2019, Liverpool untuk pertama kalinya menelan kekalahan di liga. Sepasang gol dari Sergio Aguero dan Leroy Sane menjadi noda dari catatan emas yang sudah diukir Klopp sejak awal musim.

Perlukah fan Liverpool mengutuk Manchester City karena hal tersebut? Tentu tidak. Karena masalah Liverpool ada dalam diri mereka sendiri.

Kunci menjadi juara adalah konsistensi. Konsistensi selalu mencetak gol di berbagai situasi. Konsistensi menahan gempuran serangan dari segala arah. Sekaligus konsistensi keberanian sang pelatih untuk mengganti pemain yang sedang tampil di bawah rata-rata.

Sayangnya, Liverpool tak mampu memenuhi elemen tersebut. Mohamed Salah sempat mengalami hari-hari buruk saat menjalani pekerjaan sebagai juru gedor pertahanan lawan. Nama sang 'Raja Mesir' sempat hilang dari papan skor selama delapan pertandingan liga. Anehnya, Klopp tak juga mencabut nama Salah dari daftar starting line up.

Mohamed Salah sempat kehilangan ketajaman di tengah musim bersama Liverpool.Mohamed Salah sempat kehilangan ketajaman di tengah musim bersama Liverpool. (REUTERS/Phil Noble)
Naby Keita pun yang sempat diharapkan di awal musim justru kemudian dibekap cedera dan tak bisa tampil gemilang setelah sembuh. Van Dijk, dan siapapun itu yang menjadi rekan duetnya, sering salah membaca serangan lawan yang mengakibatkan gawang Alisson bergetar oleh gol-gol yang semestinya tak perlu terjadi.

Sejumlah hasil seri pun mulai memenuhi kalender di ruang kerja Klopp. Sempat unggul tujuh poin di akhir 2018, Liverpool justru tergusur oleh Man City yang sebenarnya juga tidak konsisten-konsisten amat.

Tapi dari situ saya jadi belajar. Saya paham jika mungkin Liverpool memang tak pernah ingin menjadi juara Liga Inggris karena fenomena ini bukanlah hal baru bagi mereka.

Deja vu 2008/2009 dan 2013/2014

Apa yang dialami Liverpool di musim ini mirip dengan apa yang terjadi pada musim 2008/2009 dan 2013/2014. Mari kita mundur sedikit ke era di mana cukup banyak orang-orang Spanyol hadir memenuhi ruang ganti di Anfield.

Musim 2008/2009 adalah saat ketika Liverpool masih dibesut oleh entrenador Rafael Benitez. Setelah sukses mempersembahkan trofi Liga Champions pada 2005 serta Piala FA di musim selanjutnya, Benitez kala itu masih terus berusaha untuk membawa pulang kembali trofi liga yang sudah lama hilang dari lemari di Anfield.

Liverpool (Mungkin) Tak Ingin Juara Liga Inggris
Benitez mendatangkan Albert Riera dari Espanyol untuk menambah variasi serangan di sisi sayap. Rasanya kita tak perlu menyebutkan Robbie Keane karena yang bersangkutan hanya bertahan enam bulan sebelum akhirnya kembali ke Tottenham Hotspur.

Liverpool digdaya di awal musim dan sukses menutup 2008 di posisi puncak. Sebagai seorang suporter, harapan saya pun membumbung tinggi kala itu. Saya sungguh yakin jika Benitez mampu menghapus dahaga akan gelar juara liga yang selama ini diidam-idamkan pendukung Liverpool di seluruh dunia.

Sial. Saya bangun terlalu cepat dari tidur saya. Mimpi melihat Steven Gerrard berdiri di podium dan bersorak mengangkat piala lambat laun mulai menguap. Rentetan hasil seri melawan klub-klub seperti Stoke City atau Wigan Athletic serta kekalahan dari Middlesbrough menjadi penyebabnya. Fernando Torres dan kawan-kawan kehabisan bensin dan benar-benar disalip oleh armada Setan Merah milik Sir Alex Ferguson.

Kemudian... Ah, saya sepertinya tidak siap mengulas kembali bagian ini.

Masih ada sedikit rasa sakit hati yang mengganjal setiap kali saya mengingat apa yang terjadi di musim 2013/2014. Saya tidak pernah menyalahkan Steven Gerrard akan hal ini. Tak akan pernah. Saya akan terlalu berdosa untuk menghujat sang kapten karena kesalahannya di musim 2013/2014 setelah berjuang menyelamatkan kita semua hingga bisa tertawa di Istanbul pada 2005.

Inkonsistensi selalu menjadi penyakit Liverpool di Liga Primer Inggris.Inkonsistensi selalu menjadi penyakit Liverpool di Liga Primer Inggris. (Reuters/Carl Recine)
Ini bukan kesalahan sang kapten. Tapi lagi-lagi, ini masalah inkonsistensi tim yang terus menggerogoti jantung Liverpool setiap kali mereka sudah dekat dengan gelar juara Liga Inggris.

Sepeninggal era Fernando Torres, Liverpool sukses mendatangkan Luis Suarez dari Ajax Amsterdam. Sang penyerang asal Uruguay. Perlahan tapi pasti sukses menjawab kebutuhan Liverpool akan penyerang yang selalu haus gol di setiap pekannya. Tapi ternyata memiliki penyerang sekaliber Suarez yang ditambah dengan Daniel Sturridge kala itu masih belum mampu menghadirkan gelar juara Liga Inggris untuk Liverpool.

Adegan terpelesetnya Steven Gerrard saat menjamu Chelsea di Anfield serta drama 'Crystanbul' di Selhurst Park membuat Liverpool harus merelakan trofi liga direbut oleh Manchester City.

Sakit hatikah saya? Tentu saja. Olok-olok dari suporter klub sebelah (yang sesungguhnya memiliki musim yang lebih buruk dari Liverpool) terus terngiang di telinga saya. Liverpool kembali kehilangan sesuatu yang semestinya bisa menjadi milik mereka.

Dari semua peristiwa di masa lalu yang saya jabarkan di atas, dan ketika saya merefleksikannya dengan apa yang terjadi di musim ini, saya mulai paham. Liverpool memang mungkin tak pernah ingin juara Liga Inggris.

Liverpool lebih suka menghadirkan satu sosok penyerang tajam, mencetak banyak gol sepanjang musim, meramaikan tajuk utama Koran-koran di Inggris. Tapi di akhir musim, mereka malah mengirim trofi ke kota Manchester.

Liverpool memang mungkin tak pernah ingin juara Liga Inggris. Mereka lebih senang bersolek di kancah Eropa. Mengalahkan para raksasa Benua Biru, membalikkan prediksi di rumah-rumah judi, dan memenangkan hati para pecinta sepak bola dunia dengan hasil pertandingan yang dramatis.

Liverpool memang mungkin tak pernah ingin juara Liga Inggris. Sejauh ini mereka lebih memilih larut dan terbuai dalam sengkarut inkonsistensi yang justru mereka ciptakan sendiri.

But, next year will be our year! (har)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS