ANALISIS

Chelsea 'Si Aktor' Layak Dapat Gelar Liga Europa

Haryanto Tri Wibowo, CNN Indonesia | Kamis, 30/05/2019 11:04 WIB
Chelsea 'Si Aktor' Layak Dapat Gelar Liga Europa Chelsea menjadi juara Liga Europa di tengah banyak masalah. (REUTERS/Phil Noble)
Jakarta, CNN Indonesia -- Drama terbaik diperlihatkan Chelsea saat mengalahkan Arsenal 4-1 pada final Liga Europa 2019 di Stadion Olimpiade Baku, Azerbaijan, Rabu (29/5) malam waktu setempat.

Chelsea benar-benar memerankan lakonnya dengan sangat cantik dan tanpa cela. Layaknya film aksi di mana sang jagoan kalah terlebih dulu dan kemudian bangkit hingga menang di akhir cerita, Chelsea menunjukkan hal itu di final Liga Europa musim ini.

Bayangkan betapa berantakannya skuat Chelsea sebelum laga final. The Blues benar-benar diganggu konflik internal, cedera pemain, dan faktor non-teknis sebelum melawan Arsenal mulai dari ribut antar-pemain dan pemain yang hatinya sudah tidak ada dalam klub.


Pada latihan terakhir jelang final, Gonzalo Higuain dan David Luiz tertangkap kamera ribut di atas lapangan. Kedua pemain Amerika Selatan itu terlihat cekcok usai melakukan perebutan bola. Luiz sempat berusaha menyikut Higuain dalam melakukan perebutan bola.

Tidak lama berselang Higuain, ditemani Pedro, meninggalkan sesi latihan lebih awal. Manajer Chelsea Maurizio Sarri juga tertangkap kamera terus mengumpat saat meninggalkan lapangan, melempar dan menendang topi dalam perjalanan ke lorong stadion. Sarri terlihat frustrasi, di laga yang kemungkinan terakhirnya bersama Chelsea karena terus dihubungkan dengan Juventus, mantan pelatih Napoli itu masih harus berurusan dengan konflik antar-pemain.

Maurizio Sarri dibuat frustrasi jelang final Liga Europa 2019.Maurizio Sarri dibuat frustrasi jelang final Liga Europa 2019. (REUTERS/Amr Abdallah Dalsh)
Secara keseluruhan latihan terakhir Chelsea jelang melawan Arsenal terlihat seperti sirkus. Sarri tertangkap kamera mengacungkan jari tengah ke Ross Barkley dan Eden Hazard lebih sering terlihat malas-malasan sambil duduk. Laga final Liga Europa 2019 diklaim menjadi penampilan terakhir Hazard bersama Chelsea sebelum kepindahan ke Real Madrid.

"Hazard menyenangkan untuk dilihat saat pertandingan. Namun terkadang dia sumber masalah karena dia sangat bertalenta dan malas-malasan karena bosan di latihan. Segalanya terlihat mudah buatnya," ucap Sarri sebelum laga final.

Chelsea 'Si Aktor' Layak Dapat Gelar Oscar
Dari sisi komposisi pemain, Chelsea semula diprediksi tidak bisa menurunkan gelandang N'Golo Kante yang mengalami cedera lutut. Dengan sejumlah masalah di atas, Chelsea sepertinya tidak akan mampu menjadi juara Liga Europa musim ini karena persiapan yang berantakan.

Peran Hazard

Ketika wasit Gianluca Rocchi meniup peluit tanda pertandingan babak pertama dimulai, sejumlah masalah yang dihadapi Chelsea terlihat mengganggu penampilan the Blues. Arsenal memainkan babak pertama dengan cukup apik dengan mendominasi 45 menit pertama.

Sayang, Arsenal tidak mampu menemukan sebuah umpan akhir matang yang bisa dimanfaatkan Pierre-Emerick Aubameyang dan Alexandre Lacazette untuk mencetak gol. Semakin lama Arsenal tidak mampu mencetak gol, semakin meningkat permainan Chelsea.

Perlahan tapi pasti Chelsea mampu menekan dan bermain cukup tinggi hingga ke wilayah Arsenal. Bahkan Petr Cech tidak punya waktu untuk mengontrol bola karena terus mendapat tekanan yang intens. Skor imbang tanpa gol bertahan hingga akhir babak pertama. Meski membosankan karena tidak ada gol, tapi atmosfer yang tercipta babak kedua akan berlangsung menarik.

Eden Hazard mencetak dua gol dan satu assist di final Liga Europa 2019.Eden Hazard mencetak dua gol dan satu assist di final Liga Europa 2019. (REUTERS/Lee Smith)
Benar saja. Babak kedua berjalan empat menit Chelsea mampu memecah kebuntuan melalui gol sundulan Olivier Giroud. Chelsea kemudian menambah dua gol melalui Pedro dan penalti Hazard. Arsenal sempat memperkecil kedudukan menjadi 1-3 melalui gol spektakuler Alex Iwobi sebelum Hazard mencetak gol keempat Chelsea pada menit ke-72.

Chelsea mendominasi di 45 menit babak kedua. Trio Kante, Jorginho, Mateo Kovacic menjadi kunci sukses Chelsea. Ketiga pemain itu mampu meredam lini tengah Arsenal yang menumpuk lima pemain. Hebatnya lagi Kante tidak 100 persen fit karena cedera lutut. Bermain menggunakan pelindung lutut, pemain asal Prancis itu mampu mengatasi pergerakan Lucas Torreira dan Mesut Oezil.

Secara keseluruhan Chelsea menampilkan lakon yang luar biasa. Masalah yang muncul sebelum final terkesan hanya dibuat-buat untuk 'menipu' Arsenal. Terbukti di bawah 'sutradara' Sarri, Chelsea mampu meraih kemenangan meyakinkan asal The Gunners. Andai Chelsea seorang aktor, dia layak mendapat penghargaan Oscar.

Tapi, tidak dipungkiri Hazard pantas mendapat kredit spesial. Hazard merupakan aktor protagonis dengan dua gol dan satu assist yang diciptakannya. Pemain asal Belgia itu memiliki statistik: dua gol, tiga tembakan, tiga shot on target, satu assist, dan lima umpan kunci.

Jika Hazard benar-benar meninggalkan Chelsea akhir musim ini, maka dia pergi dengan akhir cerita yang manis. (har)