ANALISIS

Berharap All Indonesian Final Bukan Fenomena

Putra Permata Tegar Idaman, CNN Indonesia | Senin, 10/06/2019 16:14 WIB
Berharap <i>All Indonesian Final</i> Bukan Fenomena Dari segi kualitas, Jonatan Christie dan Anthony Ginting punya kemampuan untuk jadi juara di turnamen-turnamen elite. (Dok. PBSI)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jonatan Christie dan Anthony Ginting berhasil mewujudkan All Indonesian Final di Australia Terbuka, Minggu (9/6). Sebuah jawaban penegasan dari Jonatan dan Ginting, namun ada harapan bahwa ini hanya sekadar jawaban awal.

Sektor tunggal putra mendapat kritik tajam dari Taufik Hidayat. Legenda bulutangkis Indonesia itu mengkritik pelatih Hendry Saputra yang dianggap belum mampu mengangkat penampilan Jonatan, Ginting, dan tunggal putra lainnya.

Hanya beberapa hari berselang, Jonatan dan Ginting mampu mewujudkan All Indonesian Final di turnamen Australia Terbuka. Jonatan yang kemudian akhirnya juara berbagi podium dengan Ginting yang merupakan rekan sekaligus rivalnya dalam lapangan latihan maupun arena pertandingan.


Momen ini seolah pengulangan momen Asian Games 2018. Saat itu Taufik juga menyoroti kinerja tunggal putra yang kemudian mendapat jawaban lewat raihan medali emas (Jonatan) dan perunggu (Ginting) di Asian Games 2018.

Jonatan Christie dan Anthony Ginting merupakan proyek jangka panjang PBSI.Jonatan Christie dan Anthony Ginting merupakan proyek jangka panjang PBSI. (Dok. PBSI)
Meski secara level turnamen Australia Terbuka ada di level Super 300, namun hal itu tidak lantas mengecilkan keberhasilan Jonatan dan Ginting. Masih banyak pemain top yang ikut berlaga seperti Chou Tien Chen dan Lin Dan, juga pemain-pemain kuda hitam macam Kenta Nishimoto dan Ng Ka Long Angus.

Proyek Jangka Panjang


Jonatan dan Ginting adalah pemain yang masuk proyek jangka panjang PBSI yang dirancang sejak kegagalan meraih medali di Olimpiade 2012.

Melihat perkembangan pemain-pemain tunggal putra yang stagnan, PBSI memutuskan melakukan akselerasi dengan memanggil nama-nama pemain muda macam Jonatan, Ginting, Ihsan Maulana Mustofa, dan sederet nama lainnya yang masih berusia belasan.

Jonatan saat itu masih 15 tahun sedangkan Ginting baru saja memasuki umur 16 tahun.

Hendry Saputra sudah lama menangani Jonatan Christie dan Anthony Ginting.Hendry Saputra sudah lama menangani Jonatan Christie dan Anthony Ginting. (CNN Indonesia/Putra Tegar)
Cara pandang PBSI saat itu adalah mematangkan pemain muda agar Indonesia bisa kembali memiliki pemain papan atas di nomor tunggal putra. Meski waktu pematangan lebih panjang, namun nantinya mereka masih punya banyak kesempatan untuk berbenah dan memperbaiki diri seiring waktu berjalan.

Di kaki Jonatan dan Ginting muda inilah kemudian tertanam beban besar. Mereka diharapkan bisa membawa nomor tunggal putra Indonesia kembali berjaya, seperti Taufik Hidayat, tunggal putra Indonesia terakhir yang mampu menjadi juara Olimpiade, juara dunia, dan pemain nomor satu dunia.

Beban itu mungkin tak pernah diungkapkan langsung oleh PBSI di awal mereka datang, namun pastinya Jonatan dan Ginting sudah bisa langsung merasakan.

Berharap All Indonesian Final di Australia Hanya Jawaban Awal
Jonatan dan Ginting, serta tunggal putra lainnya, langsung menjadi tulang punggung utama dengan pengalaman belum seberapa. Mereka dibenturkan dengan pemain-pemain papan atas dunia sejak masih berusia belasan.

Beberapa tahun berjalan, Jonatan dan Ginting menunjukkan kemajuan signifikan. Bahkan ketika Indonesia jadi runner-up Piala Thomas 2016, Indonesia dianggap jadi negara paling siap untuk memenangkan Piala Thomas di edisi berikutnya lantaran punya lapisan pemain tunggal muda yang hebat dan dalam.

Lepas tahun 2016 memang sudah dibidik sebagai tahun meroketnya penampilan Jonatan dan Ginting. Tahun itu dikenal sebagai era baru usai era Lin Dan, Lee Chong Wei, dan Chen Long.

Nama-nama baru bakal meramaikan persaingan seperti Viktor Axelsen dan Kento Momota. Jonatan dan Ginting yang kemudian diharapkan bisa ikut berdiri sejajar bersama mereka.

Ledakan-ledakan kejutan dalam karier Jonatan dan Ginting terus terjadi. Jonatan dan Ginting sempat merasakan gelar juara di turnamen BWF, menumbangkan unggulan, dan terus disorot sebagai pemain penuh kejutan.

Namun sebagaimana halnya ledakan, maka sifatnya sesaat dan belum berkelanjutan.

Ledakan tersukses Jonatan dan Ginting adalah Asian Games 2018 saat mereka nyaris menciptakan All Indonesian Final dan berujung pada torehan satu emas dan satu perunggu.

Berharap All Indonesian Final di Australia Hanya Jawaban AwalJonatan Christie meraih medali emas di Asian Games 2018. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Setahun Sebelum Olimpiade

Harus diakui ada keterlambatan dalam perkembangan kemajuan Ginting dan Jonatan. Ginting dan Jonatan memang masih 22 dan 21 tahun, namun menilik kemampuan kedua pebulutangkis di lapangan ketika mereka berada di level terbaik, maka ada harapan Ginting dan Jonatan seharusnya sudah meraih lebih banyak hal dibandingkan yang mereka raih saat ini.

Jonatan dan Ginting masih di luar zona lima besar, namun nama-nama di zona lima besar bukan merupakan nama-nama yang mustahil mereka kalahkan. Momota, Shi Yuqi, Axelsen, Chou Tien Chen, dan Chen Long bukanlah tipe lawan yang kini di luar jangkauan Jonatan dan Ginting.

Jonatan dan Ginting memang masih berusia muda dan kemungkinan besar bakal ada lebih dari satu Olimpiade yang bisa mereka ikuti. Namun melihat peta persaingan yang ada saat ini, tentu sayang jika menganggap Olimpiade pertama mereka hanya sekadar tambahan jam terbang. 

Anthony Ginting dan Jonatan Christie sudah jadi andalan Indonesia sejak usia belasan.Anthony Ginting dan Jonatan Christie sudah jadi andalan Indonesia sejak usia belasan. (CNN Indonesia/Putra Permata Tegar)
Jonatan dan Ginting punya kualitas untuk jadi pemenang. Terlebih, Jonatan sudah memenangkan medali emas SEA Games dan Asian Games. Karena itu kritik yang melintas, entah itu untuk mereka ataupun pelatih, harus dianggap sebagai pengingat dan tentu harus dijawab.

All Indonesian Final di Australia adalah sebuah jawaban, namun tentunya semua berharap itu bukan jawaban final melainkan jawaban awal.

Dengan demikian maka nantinya All Indonesian Final di sebuah turnamen bukan sebuah fenomena, melainkan sesuatu yang sudah sering kita kenal. (har)