Sektor tunggal putra mendapat kritik tajam dari Taufik Hidayat. Legenda bulutangkis Indonesia itu mengkritik pelatih Hendry Saputra yang dianggap belum mampu mengangkat penampilan Jonatan, Ginting, dan tunggal putra lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jonatan Christie dan Anthony Ginting merupakan proyek jangka panjang PBSI. (Dok. PBSI) |
Proyek Jangka Panjang
Jonatan saat itu masih 15 tahun sedangkan Ginting baru saja memasuki umur 16 tahun.
Hendry Saputra sudah lama menangani Jonatan Christie dan Anthony Ginting. (CNN Indonesia/Putra Tegar) |
Di kaki Jonatan dan Ginting muda inilah kemudian tertanam beban besar. Mereka diharapkan bisa membawa nomor tunggal putra Indonesia kembali berjaya, seperti Taufik Hidayat, tunggal putra Indonesia terakhir yang mampu menjadi juara Olimpiade, juara dunia, dan pemain nomor satu dunia.
Beban itu mungkin tak pernah diungkapkan langsung oleh PBSI di awal mereka datang, namun pastinya Jonatan dan Ginting sudah bisa langsung merasakan.
Beberapa tahun berjalan, Jonatan dan Ginting menunjukkan kemajuan signifikan. Bahkan ketika Indonesia jadi runner-up Piala Thomas 2016, Indonesia dianggap jadi negara paling siap untuk memenangkan Piala Thomas di edisi berikutnya lantaran punya lapisan pemain tunggal muda yang hebat dan dalam.
Lepas tahun 2016 memang sudah dibidik sebagai tahun meroketnya penampilan Jonatan dan Ginting. Tahun itu dikenal sebagai era baru usai era Lin Dan, Lee Chong Wei, dan Chen Long.
Ledakan-ledakan kejutan dalam karier Jonatan dan Ginting terus terjadi. Jonatan dan Ginting sempat merasakan gelar juara di turnamen BWF, menumbangkan unggulan, dan terus disorot sebagai pemain penuh kejutan.
Namun sebagaimana halnya ledakan, maka sifatnya sesaat dan belum berkelanjutan.
Ledakan tersukses Jonatan dan Ginting adalah Asian Games 2018 saat mereka nyaris menciptakan All Indonesian Final dan berujung pada torehan satu emas dan satu perunggu.
Jonatan Christie meraih medali emas di Asian Games 2018. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
Harus diakui ada keterlambatan dalam perkembangan kemajuan Ginting dan Jonatan. Ginting dan Jonatan memang masih 22 dan 21 tahun, namun menilik kemampuan kedua pebulutangkis di lapangan ketika mereka berada di level terbaik, maka ada harapan Ginting dan Jonatan seharusnya sudah meraih lebih banyak hal dibandingkan yang mereka raih saat ini.
Jonatan dan Ginting masih di luar zona lima besar, namun nama-nama di zona lima besar bukan merupakan nama-nama yang mustahil mereka kalahkan. Momota, Shi Yuqi, Axelsen, Chou Tien Chen, dan Chen Long bukanlah tipe lawan yang kini di luar jangkauan Jonatan dan Ginting.
Jonatan dan Ginting memang masih berusia muda dan kemungkinan besar bakal ada lebih dari satu Olimpiade yang bisa mereka ikuti. Namun melihat peta persaingan yang ada saat ini, tentu sayang jika menganggap Olimpiade pertama mereka hanya sekadar tambahan jam terbang.
Anthony Ginting dan Jonatan Christie sudah jadi andalan Indonesia sejak usia belasan. (CNN Indonesia/Putra Permata Tegar) |
All Indonesian Final di Australia adalah sebuah jawaban, namun tentunya semua berharap itu bukan jawaban final melainkan jawaban awal.
Lihat juga:Daftar Harga Tiket Indonesia Terbuka 2019 |
Jonatan Christie dan Anthony Ginting merupakan proyek jangka panjang PBSI. (Dok. PBSI)
Hendry Saputra sudah lama menangani Jonatan Christie dan Anthony Ginting. (CNN Indonesia/Putra Tegar)
Jonatan Christie meraih medali emas di Asian Games 2018. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Anthony Ginting dan Jonatan Christie sudah jadi andalan Indonesia sejak usia belasan. (CNN Indonesia/Putra Permata Tegar)