Setelah akrab dengan podium juara, kemudian saya harus berbaring di kasur rumah sakit, dan itu benar-benar situasi yang sulit bagi saya. Tidak mudah untuk bangkit, saya butuh waktu untuk menerima keadaan.
Mungkin nyali dan kemauan saya untuk bangkit tidak lepas dari 'kebandelan' saya sejak kecil. Dulu waktu saya kecil memang orang-orang di sekitar yang bertugas menjaga saya selalu bilang, 'Fadli itu ampun, bandel banget!'
Nyali membalap Fadli di lintasan tetap terjaga karena keyakinan. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni) |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari sebuah kutipan ayat Alquran itu muncul kekuatan. Mungkin bisa dibilang saya tidak ada trauma sama sekali. Saya masih bisa latihan motor dengan hampir mirip seperti ketika saya masih normal. Apa saya tidak takut jatuh? Takut. Tetapi selama kita masih berusaha, hati-hati, dan tidak ceroboh, saya rasa tidak ada yang perlu ditakutkan.
M Fadli sudah begitu akrab dengan Sirkuit Sentul. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni) |
Kalau dilihat dari kutipan di atas, mungkin ada yang mengira saya sekarang lebih spiritual. Tapi sih sebenarnya enggak, hehehe.
Jujur saya masih flat-flat saja untuk urusan spiritual setelah kecelakaan itu. Bahkan boleh dibilang perbedaan nyata dari M Fadli Imammuddin sebelum kecelakaan dan setelah kecelakaan adalah kelahiran Ali Imammuddin.
Motivasi dari Ali Imammuddin
Motivasi dan semangat dari dalam diri saya juga tidak lepas dari kelahiran anak saya Ali Imammuddin. Dia lahir tidak lama setelah saya kecelakaan. Kira-kira dua minggu saya di rumah sakit, Ali lahir.
Di situ saya bertekad bangkit, berkompetisi dengan Ali untuk dulu-duluan belajar jalan. Dasarnya pebalap ya memang selalu memacu adrenalin dan selalu tidak mau kalah, hahahaha. Kebetulan saya waktu itu juara, saya bisa jalan lebih dulu ketimbang Ali.
M Fadli menjadi ikon baru para cycling Indonesia. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar) |
Perjuangan saya dengan memilih sepeda sebagai 'senjata' seperti gayung bersambut. Saya memilih sepeda karena saya cinta olahraga, ketika masih balap motor juga sudah bersepeda, sementara kalau lari sepertinya tidak mungkin.
Setelah mulai bersepeda pada akhir 2016, saya kemudian ketemu pak Okto (Raja Sapta Oktohari) di sebuah daerah tempat berkumpulnya pesepeda-pesepeda di Sentul. Di situ saya ditawari menjadi atlet para cycling. Saya pun menyambutnya dengan baik.
Pak Puspita ini melihat saya kecelakaan di Sentul, tetapi kita memang tidak pernah berkomunikasi. Kebetulan dia kenal Doni, dia minta nomor saya dan akhirnya menghubungi saya untuk kemudian membentuk tim paracycling Indonesia pada Februari 2017.
M Fadli mengaku belum puas dengan capaian di para cycling. (Dok. PB ISSI) |
Alhamdulillah saya bisa tetap mengharumkan nama bangsa, tetapi saya masih memiliki target selanjutnya yakni Paralimpiade 2020 di Jepang.
Buat teman-teman, yang normal apalagi, jangan pernah berpikir negatif. Tanpa disadari, kita ini sebetulnya kaya banget. Contohnya ya kaki saya ini. Sekarang kaki palsu yang saya gunakan ini harganya sampai ratusan juta. Intinya hidup itu harus disyukuri.
Nyali membalap Fadli di lintasan tetap terjaga karena keyakinan. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
M Fadli sudah begitu akrab dengan Sirkuit Sentul. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
M Fadli menjadi ikon baru para cycling Indonesia. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
M Fadli mengaku belum puas dengan capaian di para cycling. (Dok. PB ISSI)
M Fadli lebih dulu dikenal sebagai pebalap motor. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
Dunia balap sudah diakrabi M Fadli sejak remaja. (CNN Indonesia/Safir Makki)