Marquez kembali ke jalur kemenangan di Misano setelah dua kali beruntun kalah di tikungan terakhir dari Andrea Dovizioso (MotoGP Austria) dan Alex Rins (MotoGP Inggris). The Baby Alien berhasil mengalahkan Fabio Quartararo di lap terakhir MotoGP San Marino 2019.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah membawa bendera 93 mengelilingi Sirkuit Misano yang dianggap sebagai 'markas' Valentino Rossi, Marquez kemudian memasuki parc ferme dengan penuh emosi.
Fabio Quartararo sempat memberikan perlawanan sengit kepada Marc Marquez. (Photo by Marco Bertorello / AFP) |
Sambil menunjuk ke bawah Marquez seperti ingin mengatakan, "Ini adalah wilayah saya. Saya adalah 'Raja MotoGP' saat ini."
Lihat juga:4 Faktor Barcelona Bisa Kalah dari Dortmund |
Kemarahan itu muncul setelah Marquez terlibat cekcok di atas sirkuit dan perang kata-kata dengan pahlawan 'Misano', Valentino Rossi, di babak kualifikasi MotoGP San Marino 2019. Insiden itu memunculkan kembali perseteruan Marquez vs Rossi jilid ketiga.
Perseteruan pertama terjadi pada musim 2015 ketika Rossi menuduh Marquez membantu Jorge Lorenzo dalam perebutan gelar juara dunia MotoGP. Sementara perseteruan jilid kedua terjadi usai Marquez membuat Rossi terjatuh pada balapan MotoGP Argentina 2018.
Menuju Level Berbeda
Sejak promosi ke MotoGP 2013, Marquez terus menunjukkan kedewasaan, baik di dalam dan luar trek. Insiden yang terjadi sepanjang MotoGP San Marino 2019 sudah membawa kedewasaan ke level yang berbeda.
Usai meraih kemenangan di Misano, Marquez secara terang-terangan termotivasi meraih kemenangan di MotoGP San Marino 2019 karena insiden yang melibatkan Rossi di babak kualifikasi.
Valentino Rossi dan Marc Marquez sempat bersenggolan pada kualifikasi MotoGP San Marino. (Marco Bertorello / AFP) |
"Benar, insiden kemarin [dengan Rossi] memberi saya dorongan, sebuah motivasi ekstra. Itu sebabnya saya katakan cara terbaik untuk berbicara, untuk membalas, adalah di atas trek," ujar Marquez usai balapan.
[Gambas:Video CNN]
Kedewasaan Marquez juga terlihat di atas podium. Mendapat teriakan cemoohan dari ribuan pendukung Rossi saat naik podium dan menerima trofi kemenangan, Marquez hanya terdiam, menutup mata, dan membentangkan kedua tangan. Marquez seperti tidak mempedulikan caci maki dari penggemar rivalnya tersebut.
"Teriaki saya sesuka kalian. Saya juara yang sudah dewasa, saya sudah berubah. Saya bisa melakukan kesalahan dan saya bisa tampil galak jika dibutuhkan," tulis pengamat MotoGP asal Italia Guido Meda menggambarkan gesture Marquez di atas podium MotoGP San Marino.
Terakhir Marquez melewati rekor kemenangan Grand Prix milik legenda Inggris, Mike Hailwood, yang beraksi pada era 1960an. Marquez kini mengoleksi 77 kemenangan Grand Prix dengan detail 51 kemenangan di MotoGP, 16 kemenangan di Moto2, dan sepuluh di Moto3. Hanya Giacomo Agostini (122 kemenangan), Rossi (115) dan Angel Nieto (90) yang memiliki kemenangan lebih banyak daripada Marquez.
Dengan usia yang masih 26, Marquez berpeluang menjadi pebalap terhebat dalam sejarah Grand Prix. Penggemar pebalap lainnya, termasuk fan Rossi, tinggal berharap ada pebalap yang mampu merusak dominasi Marquez. (bac)
Fabio Quartararo sempat memberikan perlawanan sengit kepada Marc Marquez. (Photo by Marco Bertorello / AFP)
Valentino Rossi dan Marc Marquez sempat bersenggolan pada kualifikasi MotoGP San Marino. (Marco Bertorello / AFP)