Atep, Dompet Tebal Umar, dan Ratusan Juta Modal Tarkam

Juprianto Alexander, CNN Indonesia | Selasa, 26/11/2019 10:01 WIB
Atep, Dompet Tebal Umar, dan Ratusan Juta Modal Tarkam Umar Abdul Aziz, 32 tahun, pemilik klub sepakbola Bonkar FC ini mulai eksis di sepakbola tarkam sejak 2016. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pada suatu Sabtu siang di pertengahan bulan Oktober, Umar Abdul Aziz tampil berbeda dari biasa. Ia tampak lebih santai dengan celana jins dan topi kekinian menanggalkan setelan kemeja dan celana bahan yang sehari-hari ia kenakan. Tak ketinggalan, tas selempang coklat bermotif kotak-kotak.

Dengan menggunakan motor mini keluaran Jepang, bos tim sepakbola Bonkar FC ini pulang ke rumahnya di daerah Kembangan Selatan, Jakarta Barat.

Di sana Umar mendengarkan laporan dari orang kepercayaannya, Muslih, bahwa beberapa pemain telah datang. Salah satunya Atep sang mantan pemain Persib. Sementara Silvio Escobar dan mantan pemain PSS Sleman, Rishadi Fauzi, masih dalam perjalanan. Hari itu mereka akan bertarung di turnamen antar-kampung (tarkam) melawan Lontar FC.


Raut wajah Umar berseri-seri. Ia kemudian meminta Muslih memanggil para pemain yang sudah datang untuk berkumpul di ruang depan.

Setelah seluruh pemain datang, iring-iringan mobil yang membawa Umar dan seluruh tim berangkat lapangan Porsekem, tempat berlangsungnya pertandingan.

[Gambas:Video CNN]

Sesampainya di lapangan, para pemain pemanasan di suatu gudang yang letaknya bersebelahan dengan lapangan, sementara Umar mengobrol dengan ofisial tim. Sesekali ia tampak bercanda.

Tidak ada raut muka tegang di wajah Umar. Padahal, uang Rp20 juta yang dikeluarkan Umar untuk membiayai tim dalam satu pertandingan akan melayang begitu saja jika timnya kalah hari itu.

Atep, Dompet Tebal Umar, dan Ratusan Juta Modal TarkamAtep adalah salah satu pemain terkenal yang pernah memperkuat Bonkar FC, tim milik Umar Abdul Aziz. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)

Umar adalah segelintir orang di Indonesia yang mau menyandang status sebagai juragan tarkam alias pemilik tim tarkam. Merekalah sosok yang mendanai operasional tim, termasuk mendatangkan dan menggaji pemain.

Meski berlabel juragan, bukan berarti Umar bisa meraup banyak cuan dari tarkam. Biasanya justru ia merugi karena uang hadiah memenangkan turnamen hanya berkisar Rp20-30 juta, sementara modal juara bisa lebih dari seratus juta.

Dana sebesar itu harus dikeluarkan Umar untuk mendatangkan pemain kelas utama. Selain Atep, Escobar, dan Rishadi, tim Bonkar FC diperkuat Syahroni, Gilang Ginarsa, Rendi Siregar, hingga Firly Apriansyah. Para pemain ini pernah merasakan ketatnya persaingan di kompetisi kasta tertinggi tanah air.

"Kalau mau dihitung-hitung tentu rugi. Tapi karena hobi, tidak kenal berapa dana yang harus dikeluarkan. Yang penting saya puas," ujar Umar santai.

Usai pemain selesai melakukan pemanasan, tidak banyak yang dilakukan oleh Umar. Ia hanya memberikan wejangan singkat kepada para pemain sebelum masuk ke lapangan.

Bersama pemain dan ofisial, Umar berjalan ke arah lapangan yang sudah dipenuhi penonton. Ajakan untuk foto bersama pun datang untuk pria yang juga menekuni bisnis kuliner ini.

Di kalangan pencinta sepak bola tarkam, sosok Umar memang terkenal. Ya, dia tak ubahnya selebritas di daerahnya. Kebiasaannya mendatangkan pemain top untuk bermain di turnamen tarkam membuatnya dicintai penggila sepak bola tarkam.

Atep, Dompet Tebal Umar, dan Ratusan Juta Modal TarkamPara pemilik tim acap kali mendampingi kesebelasannya saat bertanding dan memberikan wejangan sebelum pertandingan. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Umar dikenal jarang merekrut pemain yang sudah tidak aktif lagi di kompetisi profesional. Buat Umar, mendatangkan pemain tenar ke turnamen tarkam memang memberikan kepuasan sendiri. Meskipun ia harus merogoh kocek cukup dalam untuk merealisasikan hal tersebut.

"Pemain yang saya pakai statusnya masih main di kompetisi. Kalau mereka punya waktu untuk main pasti saya ajak," ucap Umar.

"Saya ingin menghibur masyarakat pencinta sepak bola dengan mengajak anak-anak yang main di liga [Liga 1 dan 2] untuk tampil bareng di kampung, di satu turnamen tarkam."

Atep, Dompet Tebal Umar, dan Ratusan Juta Modal Tarkam
Umar pun membantah anggapan bahwa ia rela menghabiskan banyak uang di tarkam untuk karier politik. Pria berusia 34 itu memastikan tidak memiliki niatan berkecimpung di dunia politik.

"Banyak yang menduga saya menaruh bendera, ada juga yang menduga saya lari ke politik. Saya tidak tertarik masuk politik. Saya ingin memberikan hiburan saja."

"Sekarang banyak yang mengenal saya. Kalau sedang naik motor, ada anak SSB yang bertanya, 'Pak besok pemain yang mana yang main?'. Buat saya sih seru saja," ia menuturkan.

Atep, Dompet Tebal Umar, dan Ratusan Juta Modal TarkamKehadiran para pemilik tim yang bersedia merogoh kocek untuk mendatangkan pemain top menjadikan turnamen tarkam ramai penonton. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Tak Berhitung Untung di Tarkam

Umar mengaku kecintaannya pada sepak bola menular dari sang ayah. Rasa cinta itu yang membuat dia punya mimpi untuk jadi pemain sepak bola profesional.

Mimpi itu terwujud saat ia bisa menembus tim Pelita Jaya pada awal 2000-an. Namun, karier sepak bolanya berlangsung singkat karena mengalami cedera lutut parah.

Cedera itu memaksa Umar untuk berhenti menekuni si kulit bundar. Sebagai gantinya, ia fokus ke pendidikan untuk melanjutkan kuliah di bidang hukum.

Umar pun fokus membangun usaha hingga pada akhirnya tahun 2014 dia mendanai tim tarkam Bonkar FC. Hampir setiap tahunnya, Umar menghabiskan dana hingga ratusan juta untuk membentuk tim yang bisa bersaing jadi juara dan memberikan hiburan tersendiri buat warga kampung.

"Orang tua saya hanya fanatik bola saja, begitu juga kakak-kakak saya. Mereka hobi tapi kalau untuk memberikan modal seperti ini [tarkam] enggak mau. Hanya orang sedikit gila aja yang kayak begini. Saya sedikit gila tapi masih waras," tutur Umar sembari tertawa lepas.
Atep, Dompet Tebal Umar, dan Ratusan Juta Modal TarkamTak jarang para pemilik tim terkuras uangnya karena harus merekrut pemain-pemain top di Indonesia. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Secara jujur, Umar mengakui keuangannya lumayan terkuras dengan mendanai tim tarkam. Pasalnya, ia bisa mendanai hingga tiga tim dalam satu tahun.

Dari perhitungan kasarnya, setiap tahun ia mengeluarkan hingga Rp150 juta untuk membiayai Bongkar FC. Namun, Umar enggan bicara soal untung rugi ihwal turnamen tarkam.

"Zaman sekarang ini mana ada yang jor-joran kayak begitu. Tapi bagi saya sesuatu yang baik itu kenapa tidak dipertahankan selagi kita mampu," ucapnya.

"Saya melihat masyarakat butuh hiburan. Hiburan yang murah karena tiket masuk cuma tujuh ribu atau 10 ribu. Di situ saya menganggap diri saya sedang beribadah."

Umar juga mengaku beruntung karena sang istri sama-sama menyukai sepak bola. Hal itu membuat pasangan hidupnya itu tidak banyak protes soal kegilaannya dalam mendanai tim tarkam.

"Saya bisa kenalan dengan dia juga lewat sepakbola. Saya juga kasih tahu dia kalau rezeki yang didapat sebagian untuk menghibur masyarakat. Istri saya pun setuju-setuju saja."


Tulisan ini merupakan bagian dari liputan khusus CNNIndonesia.com bertajuk Merekam Sepakbola Tarkam. Simak selengkapnya di sini


(bac/vws)




BACA JUGA