ANALISIS

AC Milan yang Perlahan Tenggelam

Putra Permata Tegar Idaman, CNN Indonesia | Senin, 23/12/2019 09:15 WIB
AC Milan yang Perlahan Tenggelam AC Milan makin jauh dari status sebagai klub besar di dunia sepak bola. (AP Photo/Antonio Calanni)
Jakarta, CNN Indonesia -- AC Milan kalah 0-5 dari Atalanta bukanlah kejutan di Liga Italia karena hasil itu memang seharusnya. Atalanta adalah tim papan atas sedangkan Milan adalah tim semenjana.

Kekalahan 0-5 dari Atalanta adalah kekalahan paling telak yang dialami dalam 21 tahun terakhir. Namun merujuk situasi saat ini, kekalahan telak Milan bisa diterima dengan akal sehat.

Atalanta adalah tim papan atas dalam dua musim belakangan. Mereka bahkan sukses melesat ke babak 16 besar Liga Champions.


Sementara itu Milan adalah tim papan tengah yang sulit beranjak dari keterpurukan.

Melihat gol-gol yang bersarang di gawang Milan, terlihat jelas bahwa Atalanta memang benar-benar berbeda kelas dengan Milan di musim ini.

Materi Pemain Pas-pasan

Tanda kemerosotan Milan bisa dilihat hanya dengan melongok siapa pemegang kostum nomor 10. Dengan kostum nomor 10 diberikan pada Hakan Calhanoglu, bisa dilihat memang Milan sedang tidak baik-baik saja

Nomor 10 selama ini selalu identik dengan nomor keramat di sepak bola. Nomor ini sering dikenakan oleh pemain-pemain yang dianggap paling jago di tim tersebut atau setidaknya salah satu pemain yang punya peran vital.

Kehadiran Calhanoglu sebagai pemegang nomor 10 adalah fakta yang bakal mengernyitkan dahi, bila melihat sejarah panjang Milan sebagai klub besar.

Nomor 10 Milan sebelumnya dikenakan oleh Clarence Seedorf, Rui Costa, Zvonimir Boban, Dejan Savicevic, Roberto Donadoni, Jean Pierre Papin, Ruud Gullit, hingga Nils Liedholm di tahun 50-an.
Hakan Calhanoglu jadi pemegang nomor 10 di AC Milan saat ini.Hakan Calhanoglu (kiri) jadi pemegang nomor 10 di AC Milan saat ini. (AP Photo/Luca Bruno)

Nama-nama tersebut adalah nama besar di dunia sepak bola. Mereka punya tempat di level elite dunia meski tak semuanya selalu cemerlang ketika bermain bersama Milan.

Namun setidaknya hal itu jadi gambaran bahwa Milan adalah muara pemain-pemain terbaik Eropa.

Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan sekarang. Milan dihuni oleh pemain-pemain yang tak banyak dikenal orang.

Penggemar Milan tentu sedih melihat formasi mereka diisi oleh nama-nama macam Suso, Giacomo Bonaventura, hingga Fabio Borini yang tidak termasuk pemain kelas A di Eropa.

Ironis melihat Milan saat ini begitu ketakutan ketika Suso diisukan hengkang. Pada masa lalu, pemain bintang yang hengkang dari Milan adalah pemain-pemain yang kesulitan menembus tim utama seperti Baggio.

AC Milan yang Perlahan Tenggelam

Kini, pemain yang dianggap bintang seperti Suso (meski ia belum masuk kategori bintang di Eropa) sempat diisukan ingin pergi dengan alasan memperbesar peluang meraih gelar.

Leonardo Bonucci yang sempat masuk dalam proyek kebangkitan Milan bahkan lebih rela harga dirinya jatuh dan jadi ejekan untuk bisa kembali ke Juventus, dibandingkan harus bertahan di Milan yang sempat mengangkatnya sebagai kapten.

Kehadiran Bonucci di 2017/2018 itu juga merupakan bagian dari proyek ambisius Milan. Mereka menggelontorkan dana besar dengan memborong pemain-pemain macam Andre Silva, Calhanoglu, Lucas Biglia, dan Mateo Musacchio. Namun proyek transfer gila-gilaan itu tidak berlanjut dua musim setelahnya.
Leonardo Bonucci bahkan lebih rela harga dirinya jatuh demi kembali ke Juventus dibandingkan bertahan di Milan.Leonardo Bonucci bahkan lebih rela harga dirinya jatuh demi kembali ke Juventus dibandingkan bertahan di Milan. (AFP PHOTO / MARCO BERTORELLO)

Kesempatan Sulit untuk Bangkit

Setelah jadi juara Liga Italia di 2010/2011 dan menjual Andrea Pirlo, perlahan tapi pasti Milan mulai menunjukkan penurunan prestasi.

Mulai dari runner up di musim berikutnya, Milan lalu turun ke peringkat ketiga di 2012/2013. Setelah itu, Milan langsung melorot drastis dan baru bisa mencatat finis terbaik dalam enam musim terakhir saat mereka finis di peringkat kelima musim lalu.

Kondisi pelik Milan ini bakal sulit diatasi karena merujuk pada beberapa faktor. Pertama, Milan dalam kondisi keuangan yang tidak bagus.

Mereka bahkan diisukan bakal terpaksa menjual pemain bintang, yang sebetulnya belum masuk kategori bintang papan atas di Eropa, demi menyeimbangkan neraca keuangan.

Bila Milan punya banyak uang pun, mereka harus berusaha lebih keras untuk merayu pemain bidikan datang ke mereka.
[Gambas:Video CNN]
Secara umum, pamor Liga Italia tengah kalah dari Liga Inggris, baik dari segi reputasi dan uang yang beredar, sehingga kini pemain-pemain top dunia berharap bisa bermain di Liga Inggris.

Situasi ini berbanding terbalik dibandingkan era 90-an saat buangan Liga Italia justru mampu jadi bintang di Liga Inggris seperti Thierry Henry.

Dengan kondisi Milan dan Liga Italia yang meredup, Milan butuh usaha ekstra untuk merayu pemain. Milan butuh pemain yang benar-benar 'gila' dengan hasrat besar mengembalikan kejayaan.

AC Milan bakal punya tugas ekstra berat menahan pemain-pemain bintang.AC Milan bakal punya tugas ekstra berat menahan pemain-pemain bintang. (Miguel MEDINA / AFP)

Melihat materi pemain yang ada, Milan tengah merintis proyek pemain muda. Kehadiran Gianluigi Donnaruma (20 tahun), Theo Hernandez (22), Davide Calabria (23), Alessio Romagnoli (24), Lucas Paqueta (22), dan Krzysztof Piatek (24) adalah nama-nama yang diharapkan bakal tumbuh bersama dan membuat Milan kembali besar.

Tetapi tantangan terberat adalah memastikan kesetiaan mereka tetap pada jalurnya. Tawaran kompetisi yang bergengsi alias Liga Champions dan gaji yang lebih tinggi bakal terus menghantui mereka.

Bila Milan tak mampu melewati tahap ini, nama besar mereka benar-benar pudar. Milan pun secara perlahan akan tenggelam. (nva)