Seto Nurdiantoro, Ramai Soal Shin Tae Yong hingga Dibuang PSS

CNN Indonesia | Kamis, 16/01/2020 08:36 WIB
Seto Nurdiantoro, Ramai Soal Shin Tae Yong hingga Dibuang PSS Seto Nurdiantoro (kedua dari kanan) banyak menghabiskan karier di Yogyakarta. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama H)mat Putratama H
Jakarta, CNN Indonesia -- Para fan klub Liga 1 PSS Sleman meluapkan kemarahan mereka di media sosial Twitter usai klub itu tak memperpanjang kontrak Seto Nurdiantoro sebagai pelatih. Kekesalan itu diluapkan dalam tagar #BCSMelawan yang trending di Twitter.

Nama Seto Nurdiantoro pernah ramai di media-media nasional dalam bursa calon asisten pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae Yong. Kini dia malah terbuang dari PSS.

"Jungkir balik tanpa imbal balik," demikian tulisan dalam akun Twitter tersebut. Klub dinilai tak menghargai kerja keras Seto Nurdiantoro yang berhasil membawa PSS promosi ke Liga 1 musim lalu. Berkat tangan dingin pelatih tersebut, Elang Jawa finis di papan tengah atau peringkat delapan klasemen Liga 1 2019.


Seto kini digantikan mantan asisten Luis Milla di Timnas Indonesia, Eduardo Perez. Dia sempat digadang-gadang mendampingi Shin Tae Yong sebagai asisten pelatih. Namun, namanya tak masuk dalam jajaran asisten pelatih Timnas Indonesia yang diumumkan PSSI.

Seto banyak menghabiskan karier sepak bolanya di Yogyakarta, baik sebagai pemain maupun pelatih. Saat menjadi pemain, ia tidak pernah bisa jauh dari Kota Pelajar.

Seto yang punya nama asli Metheus Seto Nurdiantoro itu mengawali karier sebagai pemain profesional bersama PSS Sleman di tahun 1990 sampai 1995. Ia sempat pindah selama tiga musim ke PSIM Yogyakarta pada 1995-1998 yang membuat kariernya melejit.

Pada 1998, Seto mencoba peruntungannya keluar dari Yogyakarta, namun tidak begitu jauh dari Kota Gudeg, yaitu ke Solo. Di Solo Seto bergabung dengan Pelita Solo sejak 1998 sampai 2000. Kepindahan jadi yang terjauh bagi pelatih 45 tahun tersebut dalam kariernya sebagai pemain.

Setelah dua musim di Solo, Seto kembali rindu dengan kampung halamannya, Yogyakarta. Ia pun memilih kembali ke Sleman dan bermain selama lima tahun bersama Super Elang Jawa. Di PSS, Seto sempat mencicipi gelar juara Divisi I 2000.

Seto Nurdiantoro resmi jadi asisten Shin Tae Yong.Seto Nurdiantoro sempat digadang-gadang jadi asisten Shin Tae Yong di Timnas Indonesia. (Jung Yeon-je / AFP)
Setelah lima tahun di PSS, Seto hengkang ke klub rival, PSIM, lalu berkarier di Persiba Bantul, dan mengakhiri karier sebagai pemain bersama Laskar Mataram pada 2013 silam. Prestasi terbaik Seto sebagai pemain ketika membawa Persiba juara Divisi Utama Liga Indonesia 2010/2011.

Pelatih kelahiran Kalasan, Sleman, 14 April 1974 ini juga tercatat pernah menjadi pemain Timnas Indonesia pada tahun 1999-2001. Dalam 14 kali penampilannya bersama Skuat Garuda, Seto yang berposisi sebagai gelandang berhasil mencetak tiga gol.

[Gambas:Video CNN]
Seto adalah legenda sepak bola Yogyakarta sebenarnya. Bukan saja kariernya sebagai pemain, kehidupannya sebagai pelatih juga banyak dilakoni di Yogyakarta, setidaknya hingga saat ini.

Karier melatih Seto dimulai bersama PSIM Yogyakarta sejak pensiun sebagai pemain, 2013, sampai 2015. Ia juga sempat dipercaya untuk memegang tim pra PON (Pekan Olahraga Nasional) Yogyakarta jelang PON 2016 di Jawa Barat.

Seto Nurdiantoro, Anak Buah Shin Tae Yong asal Yogyakarta
Dua musim berselang, giliran PSS yang merasakan tangan dingin Seto. Puncaknya, Super Elang Jawa diantar Seto naik ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia, Liga 1 2019 usai juara di Liga 2 2018.

Di tangan Seto, PSS tidak saja numpang lewat di Liga 1 2019, tetapi menjadi kuda hitam. Di musim pertamanya di Liga 1, PSS bisa berada di peringkat kedelapan klasemen akhir musim ini dan bertahan di Liga 1 2020. Sedangkan dua tim promosi lainnya, Semen Padang dan Kalteng Putra terdegradasi.


Kecemerlangan Seto sebagai arsitek tim sepak bola tidak terlepas dari Lisensi AFC Pro yang diambilnya di 2019. Di level itu ia menjadi lulusan terbaik kedua dari 20 peserta kepelatihan.

Banyak yang berspekulasi Seto jadi salah satu asisten Shin Tae Yong karena kecemerlangannya bersama PSS. Namun, namanya hanya menyangkut sebatas kandidat. Pelatih 45 tahun itu bahkan tak dipakai lagi di PSS meski jasanya cukup besar mengangkat klub itu. (TTF/sry)