ANALISIS

Pertaruhan Latah PSSI untuk Timnas Indonesia

Juprianto Alexander, CNN Indonesia | Jumat, 10/01/2020 19:42 WIB
Pertaruhan Latah PSSI untuk Timnas Indonesia PSSI mengikuti jejak Vietnam yang mengontrak pelatih papan atas asal Korea Selatan. (GABRIEL BOUYS / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Aroma Korea Selatan sangat kental terasa setelah PSSI mengumumkan daftar pelatih dari level Timnas Indonesia senior hingga U-16.

Selain Shin Tae Yong yang menduduki kursi pelatih Timnas Indonesia, sosok asal Korsel lain juga menempati posisi penting. Mulai dari level senior hingga kelompok umur.

Di Timnas Indonesia, Tae Yong akan didampingi tiga asisten pelatih. Dua pelatih merupakan orang bawaan Tae Yong yakni Lee Jae Hong dan Kim Hae Woon plus Indra Sjafri.


Jabatan arsitek Timnas Indonesia U-19 juga jadi milik pelatih asal Korsel. Gong Oh Kyun akan bertugas di posisi yang sebelumnya ditempati Fakhri Husaini, ditemani Nova Arianto.

Pertaruhan Latah PSSI untuk Timnas IndonesiaTimnas Indonesia akan akan ditangani Shin Tae Yong selama empat tahun ke depan. (AP Photo/Aaron Favila)
Sedangkan pos pelatih Timnas Indonesia U-23 diberikan kepada Indra dan Bima Sakti tetap menempati posisi pelatih Timnas Indonesia U-16. Namun, ada sedikit perbedaan dalam struktur tim pelatih timnas dua kelompok umur tersebut.

Indra akan didampingi Nova dan pelatih asal Korsel, Kim Woo Jae. Sementara Bima masih bekerja sama dengan tiga asisten terdahulu yang semuanya pelatih lokal yaitu Markus Horison, Indriyanto Nugroho, dan Firmansyah.

'Invasi' pelatih-pelatih asal Korsel ini pun langsung menuai sorotan. Di luar kehadiran Tae Yong menggantikan Simon McMenemy yang gagal di Timnas Indonesia, peran pelatih asing termasuk Gong Oh Kyun perlu dikaji.

Hal ini dikarenakan eks pelatih timnas Korsel U-20 itu jadi suksesor Fakhri. Tak seperti Simon yang gagal, Fakhri terhitung sukses sejak dipercaya PSSI menukangi Timnas Indonesia U-16.

Legenda Tim Merah Putih itu mempersembahkan gelar Piala AFF U-16 pada 2018. Selain itu, Fakhri mengantarkan Timnas Indonesia U-19 lolos ke putaran final Piala Asia yang akan berlangsung di Uzbekistan, Oktober 2020.

Kehadiran Gong Oh Kyun pun bukan jaminan ia bisa sukses seperti Fakhri.

Pertaruhan Latah PSSI untuk Timnas IndonesiaPosisi Fakhri Husaini sebagai pelatih Timnas Indonesia U-19 digantikan Gong Oh Kyun. (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)
Akan tetapi keputusan PSSI mendatangkan Tae Yong jika mengacu negara asal sang pelatih terasa wajar. Korsel merupakan satu di antara negara sepak bola yang 'unggul' di kawasan Asia.

Timnas Korsel merupakan langganan peserta Piala Dunia bersama tim-tim kuat Asia lain seperti Jepang dan Iran. Korsel juga menempati posisi kelima dalam ranking kompetisi AFC pada 2019. Korsel hanya berada di bawah China, Qatar, Jepang, dan Arab Saudi.

Pembinaan pemain di Korsel juga berjalan baik. Setelah generasi Park Ji Sung dan kawan-kawan yang sempat bikin geger karena lolos hingga semifinal Piala Dunia 2002, Korsel bisa memunculkan pemain-pemain berbakat yang merambah Eropa.

Sebut saja Son Heung Min (Tottenham Hotspur), Hwang Hee Chan (Red Bull Salzburg), dan Lee Kang In (Valencia).

Pertaruhan Latah PSSI untuk Timnas IndonesiaPark Hang Seo berhasil membuat Vietnam jadi kekuatan baru di kawasan Asia. (CNN Indonesia/Surya Sumirat)
Ada kesan PSSI keukeuh menunjuk Tae Yong karena latah dengan apa yang dilakukan sang rival di Asia Tenggara, Vietnam. Tim Negeri Paman Ho kini muncul sebagai salah satu kekuatan baru di Asia berkat kehadiran Park Hang Seo.

Mantan asisten Guus Hiddink di Piala Dunia 2002 itu didatangkan pada 2017. Dalam kurun waktu dua tahun, pelatih berusia 61 itu membuat Vietnam meraih hasil mengesankan dari timnas kelompok umur hingga senior.

Park mengantarkan Vietnam U-23 jadi runner up di Piala Asia U-23 2018, lolos ke semifinal Asian Games 2018, juara Piala AFF 2018, dan teranyar memberikan gelar SEA Games 2019 bagi the Young Golden Stars.

[Gambas:Video CNN]
Perlahan Vietnam menggeser Thailand yang sebelumnya jadi penguasa di kawasan Asia Tenggara.

Di jajaran staf pelatih, Hang Seo melibatkan tiga orang pelatih lokal dan hanya dua pelatih yang sama-sama berasal dari Korsel. Uniknya, Hang Seo mempercayakan pelatih fisik pada pelatih Korsel sama seperti yang dilakukan Tae Yong yang menunjuk Jae Hong.

Pertaruhan Latah PSSI untuk Timnas Indonesia
Namun, kebangkitan sepak bola Vietnam bukan semata karena faktor Hang Seo. Kolaborasi di antara klub Inggris Arsenal, akademi sepak bola asal Perancis JMG Academy, dan klub Hoang Anh Gia Lai juga jadi salah faktor kunci.

Pembinaan pemain yang melibatkan ketiga pihak itu menghasilkan pemain-pemain berbakat yang konsisten menghiasi timnas mulai dari kelompok umur hingga senior di Vietnam. Hal inilah yang wajib diperhatikan oleh PSSI.

Maju atau tidaknya Timnas Indonesia tidak hanya bergantung pada sang peracik strategi. Karena siapa pun pelatihnya akan mengalami kesulitan jika tidak memiliki sumber daya manusia, dalam hal ini ketersediaan pemain-pemain berbakat yang konsisten muncul.

Satu aspek lain yang mungkin luput dari sorotan adalah keputusan Tae Yong membawa pelatih fisik dari Korsel. Langkah pelatih berusia 49 itu sama dengan yang diterapkan Hang Seo bersama Vietnam.

Kehadiran pelatih fisik asal Korsel ini bisa mudah dipahami mengingat penyakit Timnas Indonesia yang selalu kehilangan tenaga di 30-20 menit terakhir pertandingan. Tae Yong pun sudah tahu kelemahan tersebut dan ia menekankan pentingnya fisik yang prima agar bisa tampil stabil selama 90 menit.

Hal itu pula yang terlihat dari Vietnam sejak diasuh Hang Seo. Timnas mulai dari kelompok umur hingga senior tidak memperlihatkan tanda-tanda penurunan performa walau bermain dengan pressing ketat di setiap pertandingan. (har)