Apri dan Tontowi gagal ke perempat final Indonesia Masters 2020 setelah kalah dari ganda campuran Inggris, Chris Adcock/Gabrielle Adcock, Kamis (16/1). Sementara bersama Greysia, Apri melewati babak 16 besar.
Di ganda putri, Apriyani pernah meraih medali perak di Kejuaraan Dunia Junior ketika berpasangan dengan Rosyita Eka Putri Sari pada 2014. Ia juga peraih perunggu di ganda campuran Kejuaraan Dunia Junior 2015 bersama Fachriza Abimanyu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Jadwal Babak 16 Besar Indonesia Masters 2020 |
Berikut wawancara khusus CNNIndonesia.com bersama Apriyani di sela-sela Indonesia Masters 2020:
Apa yang berbeda antara ganda putri dan ganda campuran?
Sebenarnya perbedaannya simpel bagaimana saat main di depan, bagaimana saat di belakang. Kalau di depan bisa mengatur bola, enggak? karena main di ganda putri dan ganda campuran itu polanya berbeda.
Tontowi/Apriyani gagal ke perempat final Indonesia Masters 2020. (FOTO/Aditya Pradana Putra/pd) |
Bagaimana Anda menjaga fisik karena bermain rangkap?
Tergantung bisa jaga fisiknya atau enggak, menjaga waktu tidur, waktu makan juga penting. Kalau di ganda campuran, jadi ceweknya tidak terlalu melelahkan sebenarnya karena cuma mengatur di depan, sekali- dua kali saja di belakangnya. kalau ganda putri kan rally terus dan itu yang bikin capek. Sebenarnya kalau dinikmati pertandingannya juga tidak terasa [lelah].
Greysia menyebut Anda pemain 'Kebo' maksudnya apa?
Bagaimana ya menjawabnya, hehehe. Sebenarnya saya dibilang 'kebo' karena mungkin dari saya sendiri saya kuat, tapi saya enggak mau bilang begitu. Secara fisik saya kuat. Tapi itu semua bagaimana cara berpikir kita sendiri sebenarnya.
Lihat juga:Klopp Si 'Master Bursa Transfer' Liverpool |
Merasa beban main rangkap?
Tidak merasa beban sama sekali karena saya mencoba menikmati saja semua pertandingan. Saya jadi partner Mas Owi juga jadi semakin semangat, bukan beban. Ada motivasi lain karena saya berpasangan dengan juara dunia dan juara Olimpiade, siapa yang tidak mau coba? Justru jadi makin semangat saya.
Apriyani/Greysia lolos ke babak perempat final Indonesia Masters 2020. (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
Makanya, seperti yang Mas Owi bilang, saya harus sering nonton video waktu Mas Owi dan Cik Butet [Liliyana Natsir] main. Bukan untuk menjadi seperti Cik Butet, tapi melihat bagaimana posisi mainnya Cik Butet. Saya harus belajar karena kenyataannya tidak semudah itu.
Bagaimana perasaan Anda dibanding-bandingkan dengan Liliyana Natsir?
Tidak apa-apa saya dibandingkan dengan Cik Butet, karena saya seperti saat ini juga terinspirasi sama beliau. Waktu main di ganda putri saja sudah terinspirasi Cik Butet, apalagi sekarang main di campuran.
Saya memang sangat mengagumi Cik Butet. Saya belajar banyak dari beliau. Orang lain mungkin tidak tahu kalau saya sering mempelajari video main Cik Butet sejak lama karena saya pecinta Cik Butet. Jadi kalau dibanding-bandingkan saya tidak masalah. Biarkan saja. Toh, dibanding-bandingkannya dalam hal positif, bukan negatif.
Lihat juga:Solskjaer Lemah Lawan Liverpool |
Menurut Anda, apa kamu berprospek meraih prestasi bersama Tontowi?
Pastinya saya dipasangkan sama Mas Owi ada tujuannya, bukan tanpa target. Pasti berharap ada prospek prestasi yang bagus ke depannya.
Buktinya pas tahu mau dipasangkan, Mas Owi semangat ya saya juga lebih semangat. Bahkan saya semangat banget mau membuktikan juga, mau berprestasi.
Tapi orang-orang ekspektasinya terlalu jauh sama saya dan Mas Owi. Seperti di sini, Indonesia Masters saya harus sampai final. Mereka tidak tahu ini baru saja main, ini turnamen pertama.
Kami saja tidak pernah latihan bareng di Cipayung sebelumnya, kecuali sekali sebelum natal. Setelah itu Mas Owi liburan tidak latihan. Jadi Indonesia Masters ini anggap saja latihan saya sama Mas Owi. (ttf/bac)
Tontowi/Apriyani gagal ke perempat final Indonesia Masters 2020. (FOTO/Aditya Pradana Putra/pd)
Apriyani/Greysia lolos ke babak perempat final Indonesia Masters 2020. (CNN Indonesia/Andry Novelino)