Bowie Haryanto
Mengawali karier sebagai wartawan olahraga di harian Berita Kota. Menjadi asisten redaktur olahraga di portal inilah.com, dan redaktur olahraga di portal viva.co.id. Sekarang menjadi writer olahraga di CNN Indonesia.

Dunia Tanpa Olahraga

Bowie Haryanto, CNN Indonesia | Minggu, 22/03/2020 10:11 WIB
Dunia Tanpa Olahraga Ilustrasi dunia olahraga. (Astari Kusumawardhani)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di Jumat pagi yang normal saya biasanya berbicara dengan rekan kantor mengenai prediksi pertandingan sepak bola liga-liga Eropa atau ajang olahraga yang akan berlangsung di akhir pekan.

"Menang enggak nih Liverpool?" atau "Susah kayaknya nih Valentino Rossi menang di Qatar" adalah sejumlah pembicaraan yang biasanya terjadi setiap akhir pekan di depan mata. Tapi pada hal itu tak terjadi pada Jumat ini.

Dunia olahraga mati suri dalam sepekan terakhir karena wabah virus corona. Satu per satu ajang olahraga dunia yang sedang berlangsung, dan akan berlangsung, dibatalkan atau ditunda.


Liga-liga Eropa ditunda, Liga Champions ditunda, MotoGP ditunda, Piala Eropa dan Copa America diundur tahun depan, sejumlah seri F1 dibatalkan, kegiatan badminton BWF dihentikan, Roland Garros 2020 diundur, dan seluruh olahraga di Amerika Serikat seperti NBA, MLB, NFL, dan MLS dihentikan.

Satu-satunya ajang olahraga besar yang masih bertahan sesuai jadwal hingga kini adalah Olimpiade 2020 Tokyo yang rencananya berlangsung mulai 24 Juli sampai 9 Agustus.

Balapan MotoGP diundur karena virus corona.Balapan MotoGP diundur karena virus corona. (AFP PHOTO / MOHD RASFAN)
Namun, saya tidak bisa melihat bagaimana bisa Olimpiade digelar dengan kondisi wabah virus corona seperti saat ini.

Acara olahraga memang tidak lebih penting dari satu pun nyawa manusia di dunia ini. Keselamatan dan kesehatan atlet serta penonton tentu prioritas utama.

Tapi, harus diakui menjalani hidup tanpa olahraga menjadi sesuatu yang sukar dijalani. Membayangkannya saja tidak pernah. Saya yakin semua orang yang suka olahraga juga mengalami hal serupa.

Dunia Tanpa Olahraga
Jika ditarik ke belakang, bahkan ketika Perang Dunia I dan II atau saat pandemik flu mematikan pada 1918 hingga 1920, olahraga tidak sepenuhnya berhenti. Sejumlah ajang olahraga besar di Amerika Serikat seperti MLB dan NFL masih berjalan saat Perang Dunia.

Ketika pandemik flu 1918-1920 yang dikenal sebagai 'Spanish Flu', Liga Inggris tetap berjalan. Padahal ketika itu sekitar 500 juta orang, atau seperempat penduduk dunia saat itu, terinfeksi dan dengan kasus kematian dikabarkan mencapai lebih dari 20 juta orang.

Sulit untuk memprediksi kapan wabah virus corona ini berakhir. Satu yang bisa saya prediksi adalah: Menjalani hidup tanpa olahraga adalah hal yang membosankan!

Mungkin terdengar klise atau mendramatisir, tapi dunia ini butuh olahraga. Akan terjadi kekosongan luar biasa jika olahraga tidak ada di dunia ini. Bagi sejumlah orang, olahraga adalah medium pelarian bagi mereka yang sudah muak dengan kegiatan sehari-hari yang dijalani.

Ketika orang butuh sesuatu untuk mengalihkan pikiran setelah muak dengan kehidupan sehari-hari, mereka pasti akan beralih ke olahraga. Olahraga adalah salah satu medium penyembuh terhebat di masyarakat, alat pemersatu.

Menyaksikan siaran langsung pertandingan atau highlights sepak bola, melihat berita komentar usai pertandingan, foto-foto pertandingan, atau catatan statistik pertandingan adalah 'obat' yang cukup manjur bagi saya untuk sejenak melupakan semua masalah yang ada. Mungkin juga manjur untuk kebanyakan orang.

[Gambas:Video CNN]
"Bisa juara enggak nih bang Barcelona musim ini? (Lionel) Messi kayaknya enggak cocok sama (Antoinne) Griezmann," ujar Oscar, rekan kerja saya di kantor, yang beberapa saat sebelum mengeluarkan pernyataan itu masih dipusingkan dengan kondisi virus corona di Indonesia.

Pembicaraan seperti yang dilakukan Oscar tidak akan bisa saya dengar lagi dalam waktu yang tidak bisa ditentukan, selama olahraga masih terhenti karena virus corona.

Entah sampai kapan kondisi ini akan berlanjut, tapi sulit bagi saya belajar mencintai hal lain untuk mengisi kekosongan. Membaca buku jelas bukan buat saya. Musik atau menonton film mungkin bisa menjadi medium lain untuk mengalihkan diri dari kebosanan, tapi pasti itu hanya untuk sesaat.

Olahraga jelas lebih universal daripada musik atau film. Olahraga sudah terbukti mampu menjangkau semua kelompok sosial dan gender. Hanya olahraga yang bisa membuat orang menangis sekaligus gembira di waktu yang sama.

Kondisi dunia olahraga yang mati suri karena wabah virus corona juga menyulitkan bagi jurnalis olahraga. Karena tidak banyak yang bisa dibuat, kecuali update atlet yang terkena virus corona, kegiatan atlet-atlet saat menjalani isolasi, atau update mengenai kepastian ajang olahraga.

Saya tidak mengeluh karena yakin situasi akan kembali normal. Hanya saja menunggu sesuatu yang tidak pasti akan membuat frustrasi, karena tidak ada yang tahu kapan virus corona ini akan mampu diatasi dan dunia kembali normal.

Kita tidak tahu kapan MotoGP akan digelar, kapan Liga Inggris kembali bergulir di saat Liverpool tinggal butuh enam poin untuk menjadi juara, kapan Liga Champions kembali berjalan ketika memasuki fase-fase menegangkan di babak knock-out.

Namun, kembali lagi olahraga menjadi tidak penting jika dibandingkan nyawa seseorang. Yang bisa dilakukan pecinta olahraga saat ini adalah menjadi manusia seutuhnya. Menjaga kesehatan, ikuti imbauan pemerintah, dan menjadi bagian dari pencegahan penyebaran virus corona. (vws)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS