WAWANCARA EKSKLUSIF

Windy Cantika: Saya Tak Menyangka Olimpiade 2020 Ditunda

CNN Indonesia | Rabu, 25/03/2020 19:21 WIB
Windy Cantika: Saya Tak Menyangka Olimpiade 2020 Ditunda Windy Cantika gagal tampil di Olimpiade 2020 yang digelar pertengahan tahun ini. (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)
Jakarta, CNN Indonesia -- Windy Cantika Aisah harus menahan keinginan besarnya tampil perdana di Olimpiade setelah Komite Olimpiade Internasional (IOC) dan Pemerintah Jepang menunda gelaran Olimpiade 2020 Tokyo yang ditunda hingga 2021 karena pandemi virus corona.

Di mata Windy, penundaan ini bisa jadi jalan terbaik untuk semua pihak. Terlebih lagi, ia juga masih perlu berusaha lebih keras guna dapat yang terbaik di Olimpiade 2020 nanti.

Bahkan, Windy juga merasa belum mendapatkan tiket ke Olimpiade 2020 yang digelar tahun depan. Kepada CNNIndonesia.com Windy berbicara banyak soal Olimpiade 2020 dan persiapannya ke depan.


Berikut wawancara eksklusif CNNIndonesia.com bersama lifter putri nasional, Windy Cantika Aisah:

Bagaimana perasaan Anda mendengar Olimpiade 2020 Tokyo ditunda?

Kalau buat saya sendiri pastinya mau diundur atau enggak bagaimana baiknya saja yang di atas (Tuhan). Saat ini saya berusaha, ikhtiar dengan latihan dahulu. Sebagai atlet, ditunda atau tidak, siap tidak siap, harus tetap siap.

Tahun depan itu ada SEA Games dan banyak kejuaraan lain yang sudah terjadwal, jadi ada yang bilang kalau Olimpiade ini tidak ditunda. Saya [juga] tidak berpikir kalau ini bakal ditunda. Karena setiap hari fokus di latihan saja. Tapi kalau ternyata tidak jadi digelar tahun ini ya mau bagaimana lagi?

Saya juga tidak bisa menjanjikan [prestasi] apapun di Olimpiade kali ini karena ini Olimpiade pertama saya.

Kamu setuju atau tidak dengan penundaan Olimpiade 2020 ini?

Saya enggak setuju atau tidak setuju. Tapi mungkin Allah sudah kasih yang terbaik. Ditunda atau tidak ditunda ini yang terbaik saja buat semua.

Saya juga tidak tahu kan ke depannya saya bagaimana. Saya sendiri sakit atau ada apa-apa, jadi saya berdoa yang terbaik saja buat ke depannya.

Windy Cantika saat mendapatkan medali di SEA Games Filipina. (Windy Cantika saat mendapatkan medali di SEA Games Filipina. (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)
Usia Anda baru masuk Junior tapi bersaing tiket Olimpiade dengan senior, seperti apa prosesnya?

Saya tidak menyangka bisa ikut kualifikasi Olimpiade. Saat pelatih memberikan target ke saya buat cari tiket Olimpiade, usia saya masih 16 tahun itu tahun lalu, 2019. Beban ya pasti ada, ya di jalanin saja.

Kejuaraan pertama buat cari tiket itu di Kejuaraan Asia Angkat Besi di Ningbo, China, April 2019. Pertama saya pecahkan rekor ya di situ [snatch 80 kg dan 97 kg clean and jerk, total 177 kg]. Dari situ di Asia naik peringkat ketujuh.

Lalu ke Kejuaraan Dunia Angkat Besi Junior 2019 di Suva, Fiji bulan Juni dapat medali perak. Lalu ke Kejuaraan Dunia Angkat Besi senior di Thailand saya dapat peringkat kesembilan.

Kemudian ke Korea Utara ada Kejuaraan Junior, saya dapat satu emas dan dua perak. Emasnya untuk angkatan snatch, peraknya untuk celan and jerk sama angkatan total. Setelah itu ke SEA Games 2019 Filipina saya dapat emas dan pecahkan rekor semua. Snatch 86 kg, clean and jerm 104 kg, total 190 kg.

Setelah itu Februari kemarin ke Uzbekistan Kejuaraan Asia Angkat Besi Junior, saya dapat tiga emas. Saya juga jadi Best Lifter putri di Asia, tapi pialanya enggak bisa diambil karena pulang duluan. Sedangkan pengumuman lifter terbaik itu kan terakhir setelah semua kelas dimainkan jadi gabungan dari semua kelas putri. Ya sudah tidak apa-apa yang penting tahu.

Olimpiade Tokyo 2020 jadi yang pertama buat Anda, bagaimana rasanya?

Alhamdulillah bersyukur. Tapi saya harus lebih meningkatkan disiplin latihan, makan, istirahat, dan lebih nurut lagi sama pelatih.

Karena perjalanan ini masih panjang. Saya masih harus mematangkan latihan dan banyak hal lain supaya bisa mendapatkan hasil terbaik.

Sebenarnya Anda sudah pasti dapat tiket ke Olimpiade belum?

Waktu di SEA Games 2019 Filipina saya sudah masuk kuota [Olimpiade 2020]. Setelah itu tampil di Kejuaraan Angkat Besi Junior di Uzbekistan Februari 2020 lalu saya sudah di ranking tujuh dunia.

Nah, tapi kan peraturannya satu negara hanya boleh punya satu wakil di satu kelas. Di kelas saya, 49 kg, China ada tiga lifter di lima besar, jadi kalau dua China itu gugur saya naik dua pertingkat ke peringkat kelima.

Peringkat kelima sebenarnya sudah aman. Tapi saya belum merasa lolos [ke Olimpiade 2020]. Menurut saya, saya belum aman posisinya masih bisa ke geser. Masih ada beberapa kejuaraan yang jadi kualifikasi Olimpiade yang batal karena virus corona.

Sekarang belum tahu bagaimana. Berdoa dan berlatih saja terus fokus mempersiapkan diri.

Windy Cantika tak menyangka Olimpiade 2020 ditunda. (Windy Cantika tak menyangka Olimpiade 2020 ditunda. (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)

Dari mana asal bakat angkat besi Anda?

Sejak kelas 2 SD sudah mulai ikut-ikut latihan. Mamah, Siti Aisyah, kan sekarang melatih angkat besi. Mamah kan dulu juara dunia [peraih perak di Kejuaraan Dunia Angkat Besi di Amerika Serikat pada 1987], jadi diajakin ikut-ikut saja latihan.

Kalau waktunya les ya les, waktunya disuruh latihan saya tidak mau dipaksa. Jadi saya yang menentukan sendiri saja mau latihan apa enggak.

Masuk ke Pengurus Cabang Angkat Besi Jawa Barat itu kelas 5 SD. Waktu 2014 saya sudsh masuk PPLP Jawa Barat, di situ baru dilihat saat mau tes untuk ikut Youth Olympic. Kelasnya masih 48 kg saya bisa angkatan snatch 73kg dan clean and jerk 90 kg terus jadi yang terbaik, lolos.

Waktu 2018 saya sudah pernah masuk pelatnas tapi cuma tiga bulan mulai Juli sampai Oktober kemudian pulang dahulu karena dipanggil buat bantu daerah. Setelah itu baru kembali masuk pelatnas Maret 2019 sampai sekarang. Baru setahun ya.

Jadi anak kecil di tengah senior di angkat besi dunia bagaimana rasanya?

Adaptasinya sulit. Pas cari tiket Olimpiade apalagi saya kan masih masuk kategori usia muda, remaja, sedangkan yang lain itu atlet senior yang sudah berpengalaman. Saya justru apa ya dibilang anak baru lahir lah gitu.

Tapi Alhamdulillah pelatih dan senior-senior semua bimbing, kasih tahu di latihan ataupun saat mau tampil di kejuaraan harus bagaimana. Pelan-pelan bisa adaptasi.

Persaingan lifter dunia sekarang saya tidak tahu bagaimana, pasti berat lagi. Tapi saya maunya mengalir tanpa harus dibebani harus angkat berapa. Semua pasti punya target, saya punya target sendiri sama pelatih. Jadi fokus itu sana dari pada harus melihat lawan angkat berapa-berapa.

Windy Cantika: Saya Tak Menyangka Olimpiade 2020 Ditunda
Menjalani latihan di tengah wabah virus corona, sempat takut dan bosan?

Khawatir sih enggak ya karena kan kami di sini juga tidak keluar-keluar. Rutinitasnya cuma tempat latihan, tempat makan sama kamar dan itu masih di komplek Marinir sini juga.

Bosen ya pasti, tapi bagaimana kita ngatasinnya saja. Paling kalau kita di sini menyetel lagu pakai speaker suaranya di besarkan.

Orang tua kan juga titip pesan supaya hati-hati. Jangan makan sembarangan, jangan keluar-keluar gitu saja. (TTF/bac)