Bob Hasan meninggal dunia di usia 89 tahun. Bob Hasan diketahui mengidap penyakit kanker dan telah menjalani perawatan secara intensif sejak tiga bulan terakhir.
Para atlet dan Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) tentu yang paling kehilangan sosok Bob Hasan. Bagaimana tidak, kontribusi besar mendiang seolah tak tergantikan sejak kali pertama menjadi Ketua Umum PB PASI pada 1976.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bob Hasan, konglomerat yang tak pernah merasa rugi keluar uang untuk kemajuan dunia atletik. (SMAFTY / AFP) |
Bob Hasan juga menjadi pemegang saham mayoritas perusahaan kertas, yakni Georgia Pacific. Ia resmi mengakuisisi perusahaan tersebut pada 1976.
Setelah sukses mengakuisisi perusahaan tersebut, Bob mendirikan perusahaan bernama Kalimanis Group.
Di dunia olahraga, kemampuan manajerial Bob Hasan digunakan untuk mengabdi mengangkat prestasi atletik Indonesia. Namun, Bob Hasan bukan konglomerat 'pelit' untuk menggelontorkan uang demi kemajuan atletik tanah air.
Dia seolah tak pernah bosan apalagi takut rugi untuk menjadi 'keran duit' di PB PASI menyokong prestasi dunia atletik Indonesia.
Mungkin tak terhitung lagi uang Om Bob sudah mengucur untuk kemajuan atletik Indonesia. Sebut saja salah satunya asrama pelatnas PB PASI didirikan dari kocek pribadinya.
Bob Hasan mengabdikan seluruh hidupnya memimpin PB PASI. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
Tak segan-segan pula dia membiayai seluruh ongkos dan akomodasi para atletnya yang berprestasi untuk berjuang di luar negeri demi mengharumkan nama bangsa.
Ibarat pelari jarak jauh, daya tahan beliau luar biasa dalam memimpin PB PASI selama 44 tahun hingga tutup usia pada 89 tahun. Ketahanan itu pula di dunia olahraga yang hingga kini tak bisa ditandingi para konglomerat lain.
Tengok saja dinamika kepengurusan PASI di bawah kepemimpinan Bob Hasan, bisa dibilang bersih dari konflik internal. Ketika kepengurusan lain seperti PSSI, PB PBSI, bahkan KONI maupun KOI, pernah dirundung konflik internal, PB PASI sepi dari kegaduhan-kegaduhan kepengurusan.
Sekalinya gaduh bukan karena masalah internal. Kegaduhan yang terjadi belakangan ini hanya sebatas pemanfaatan Stadion Madya untuk para atlet atletik.
Tak heran sudah deretan pahlawan atletik di Indonesia dilahirkan selama masa kepengurusannya di PB PASI. Sebut saja mantan sprinter Indonesia Purnomo Yudho, Mardi Lestari, Supriati Sutono (pelari jarak jauh), Suryo Agung Wibowo (sprinter), Triyaningsih (lari jarak jauh), Dede Irawati (lari gawang), Maria Londa (lompat jauh), hingga yang terkini pelari cepat fenonemal, Lalu Muhammad Zohri.
Lalu Zohri, sprinter fenomenal yang lahir di PB PASI di bawah kepemimpinan Bob Hasan. (Jewel SAMAD / AFP) |
Catatan waktu itu sempat bertahan selama 10 tahun dan akhirnya dipecahkan oleh Lalu Muhammad Zohri pada Kejuaraan Atletik Asia 2019. Catatan waktu Lalu Zohri saat itu 10,15 detik.
Saat disinggung soal masa depan PB PASI sepeninggal Om Bob, Suryo Agung sendiri hanya bisa berharap.
Lihat juga:Messi Disamakan dengan Che Guevara |
"Memang sangat jarang orang seperti Beliau. Tapi, saya memilih sikap otimistis ke depannya harus ada yang menggantikan peran Bapak untuk masa depan atletik Indonesia," terang Suryo Agung kepada CNNIndonesia.com dalam perjalanan untuk melayat ke rumah duka, Selasa (31/3).
Sikap Suryo Agung mungkin mencerminkan publik olahraga, khususnya di dunia atletik. Ya, publik hanya bisa berharap muncul orang gila lainnya seperti Om Bob dalam mengampu dunia atletik tanah air. (sry)
Bob Hasan, konglomerat yang tak pernah merasa rugi keluar uang untuk kemajuan dunia atletik. (SMAFTY / AFP)
Bob Hasan mengabdikan seluruh hidupnya memimpin PB PASI. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Lalu Zohri, sprinter fenomenal yang lahir di PB PASI di bawah kepemimpinan Bob Hasan. (Jewel SAMAD / AFP)