Bob Hasan ibarat dewa di dunia atletik, Ketua Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) seumur hidup. Jabatan yang diembannya sejak 1976 hingga tutup usia tahun ini.
"Wartawan, sini lu, liput tuh atlet gua latihan," ujar Om Bob, sapaan akrabnya dari para pekerja media. Bicaranya memang ceplas-ceplos, gayanya selalu eksentrik. Kegilaannya dalam mengampu PB PASI seumur hidup juga bagian yang mungkin tak bisa disamai para konglomerat lain di Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ratusan miliar rupiah mungkin sudah digelontorkan Om Bob buat atletik. Bahkan, ia pernah cerita kalau ia mengusir bule (orang asing) yang menyewa rumahnya di daerah Patal Senayan, supaya para atlet atletik bisa menjadikan rumah tersebut sebagai mes.
Bob Hasan, konglomerat yang berdedikasi mengampu atletik Indonesia seumur hidup. (PALINGGI / AFP) |
"Gua usir itu bule yang tinggal di sini. Supaya apa? Supaya anak-anak gua [atlet atletik] ini bisa tinggal di situ. Kalau mereka mau latihan, enggak jauh ke [Stadion] Madya," kata Bob Hasan kala itu.
Lihat juga:Messi Disamakan dengan Che Guevara |
Sebab, sebelum Indonesia, Marra juga sempat diminta untuk melatih Iran, Aljazair, Italia, dan Jepang. Bahkan negara-negara itu menawarkan gaji cukup tinggi mencapai US$5 ribu atau setara Rp82 juta per pekan. Namun ditolak Marra dan memilih ke Indonesia.
Om Bob pun sempat berseloroh, Marra memilih melatih Indonesia hanya demi buah mangga.
"Gua enggak bayar dia [Harry Marra] dengan uang. Gua sogok dia dengan buah mangga. Dia senang banget sama mangga," cetus Bob Hasan.
Lihat juga:Isyarat Khabib vs Ferguson di UFC 249 Batal |
Ekspresi Marra pun tampak begitu senang ketika Bob Hasan mengeluarkan mangga yang khusus dibawanya untuk sang pelatih.
"Ini buat saya? Fantastik, terima kasih," ucap Marra senang.
Tak hanya mengurus soal atlet yang ia bina di pelatnas atletik bisa berprestasi, Bob Hasan yang pernah menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan era Orde Baru itu juga memikirkan nasib para atletnya setelah tak lagi berprestasi.
Tindakan nyata yang dilakukannya adalah dengan menyekolahkan atlet-atlet pelatnasnya sampai ke jenjang universitas. Sebut saja, Nurul Imaniar, mantan atlet lari 100 meter putri yang saat ini sudah menjadi sarjana ilmu komunikasi lulusan Universitas Al-Azhar Jakarta atau Emilia Nova yang merupakan lulusan Universitas Negeri Jakarta.
Bob Hasan meninggal karena kanker paru-paru. (ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA) |
Pernah suatu saat Om Bob meneriaki wartawan yang sedang meliput persiapan atlet atletik menuju Asian Games pada 2018 lalu.
"Begitu dong. Lu liput tuh si Zohri [Lalu Muhammad Zohri]. Gua berhasil tuh cari model kayak begitu. Nanti kita cari lagi. Makanya kalian wartawan diliput dong supaya mereka semangat. Jangan bola sama bulutangkis melulu lu liput. Atletik juga," ungkapnya.
Soal sosok ceplas-ceplos dan kata-katanya yang terdengar ketus, juga pernah diceritakan mantan sprinter Indonesia, Suryo Agung.
Bob Hasan saat meladeni pertanyaan para awak media. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah) |
Suryo pernah berpredikat Manusia Tercepat se-Asia Tenggara setelah memecahkan rekor lari 100 meter di SEA Games 2009 Vientianne, dengan catatan waktu 10,17 detik. Namun, bagi Bob Hasan itu masih kurang.
"Bapak [Bob Hasan] pernah bilang: 'Bikin lagi dong jadi 10,10 [detik], jangan berhenti di 10,17 aja.' Dia selalu begitu, memotivasi para atlet agar tak cepat puas," ucap Suryo.
Kanker paru-paru yang diderita Bob Hasan baru diketahui sekitar tiga bulan lalu. Tepatnya ketika ia menjalani tes medis rutin jelang libur Natal dan Tahun Baru pada Desember 2019.
Kepergian Bob Hasan meninggalkan pertanyaan penting, siapa lagi sosok 'gila' yang mau mengurus atletik Indonesia setelah ini?
'Orang gila' yang mau mengeluarkan banyak uang untuk membangun prestasi atletik demi harumnya nama Indonesia di dunia. (ttf/sry)
Bob Hasan, konglomerat yang berdedikasi mengampu atletik Indonesia seumur hidup. (PALINGGI / AFP)
Bob Hasan meninggal karena kanker paru-paru. (ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA)
Bob Hasan saat meladeni pertanyaan para awak media. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)